Tadinya termahal di dunia, lima kota ini sekarang lebih terjangkau

London Hak atas foto Getty Images
Image caption Brexit membuat nilai mata uang poundsterling melemah, yang kemudian mendorong angka kunjungan wisatawan asing.

Menguatnya nasionalisme global dan turunnya harga minyak menyebabkan perubahan besar terhadap ekonomi global dalam setahun terakhir.

Salah satu akibatnya adalah sejumlah kota yang tadinya masuk kategori paling mahal untuk dihuni sekarang menjadi lebih terjangkau karena biaya hidup di kota-kota tersebut turun.

Penurunan biaya hidup ini tak semata-mata karena dua faktor tersebut. Dalam kasus London, misalnya, ada faktor politik internasional dengan keputusan warga untuk mundur dari blok kerja sama Uni Eropa, atau yang lebih dikenal dengan Brexit.

Dalam Indeks Biaya Hidup yang disusun majalah The Economist, posisi London turun cukup tajam.

Faktor lain adalah pelemahan nilai tukar lokal yang membuat ekspatriat yang dipekerjakan perusahaan-perusahaan asing menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari perubahan ini.

Berikut kota-kota yang tadinya mahal dan sekarang lebih terjangkau:

London

Brexit langsung berdampak serius terhadap nilai tukar mata uang poundsterling. Demikian besar pengaruhnya hingga langsung membuat London turun 18 tingkat hanya dalam waktu satu tahun di indeks biaya hidup kota-kota di dunia.

Turis berbondong-bondong mengunjungi Inggris karena mata uang asing menjadi lebih berharga ketika dibelanjakan di London dan kota-kota lain di Inggris.

Buruan mereka adalah barang-barang mewah yang sekarang lebih murah dibandingkan dengan periode sebelum Brexit. Data menunjukkan belanja pengunjung atau wisatawan asing di Inggris naik 36%.

Di sisi lain, harga barang-barang impor naik dengan melemahnya poundsterling, kata Ian Wright, pendiri perusahaan ekspedisi dan angkutan logistik antarnegara MoverDB.com.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di Abbey Wood terdapat sisa-sisa bangunan biara dari abad ke-12, Lesnes Abbey.

Situasi ini, mau tidak mau, mendorong produsen menaikkan harga dengan risiko ditinggalkan atau setidaknya dijauhi konsumen. Yang lain memilih memasang harga yang sama namun dengan ukuran yang lebih kecil, seperti yang dilakukan pembuat cokelat Toblerone yang ukurannya mengecil setelah Brexit.

Para ahli memperkirakan impor buah dan sayur-mayur naik 8% gara-gara Brexit.

Meski demikian, London masih menawarkan kebutuhan dengan biaya terjangkau, termasuk sewa rumah atau apartemen. Dan salah satu kawasan dengan biaya sewa yang tidak terlalu mahal adalah Abbey Wood di London tenggara.

Kawasan timur dan selatan lebih murah dibandingkan kawasan London barat dan utara.

"London memang aneh, dalam arti Anda bisa menemukan rumah milik negara yang berada tepat di sebelah rumah milik pribadi dengan harga jutaan poundsterling," kata Wright, yang aslinya berasal dari Kanada.

Wright tinggal di Abbey Wood, menempati rumah dengan sewa £1.000 (atau sekitar Rp17,3 juta) per bulan. Kalau mau beli rumah, rata-rata di kisaran £325.000 atau sekitar Rp5,6 miliar.

Di Abbey Wood terdapat reruntuhan Lesnes Abbey, biara kuno yang diperkirakan dibangun pada abad ke-12, yang bisa dikunjungi secara cuma-cuma. Di sini juga ada beberapa taman dan hutan kota yang asri.

Kawasan London lain yang relatif terjangkau adalah Leyton di dekat Taman Olimpiade dan East Ham, keduanya di London timur. Bila ingin tinggal di selatan, bisa mempertimbangkan East Croydon, yang tarif sewanya mulai £500 atau sekitar Rp8,6 juta per bulan.

Bagaimana dengan sentimen antipendatang di London? Wright memastikan bahwa ibu kota Inggris ini sangat terbuka dan juga multikultural.

"Jumlah kantong yang hanya dihuni etnik tertentu di London jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat. Jadi, Anda dengan gampang menemukan ekspatriat dan imigran hidup berdampingan di London. Ini adalah salah satu kelebihan London," kata Wright.

Beijing

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sanlitun, salah satu kawasan di Beijing yang relatif masih terjangkau.

Banyak kota di Cina yang turun 10 peringkat dalam daftar tahun ini, termasuk Beijing yang turun sampai 16 posisi.

Tim yang menyusun daftar tidak secara rinci menjelaskan alasan di balik penurunan, namun diduga dipicu oleh lesunya ekspor dan melemahnya nilai tukar mata uang yuan terhadap dolar.

Sama halnya dengan London, tingkat kenyamanan tergantung di mana Anda tinggal. Prinsip utamanya adalah makin dekat ke pusat kota maka akan makin nyaman pula. Rumah satu kamar di Tongzhou, yang terletak 22 kilometer di timur pusat kota, bisa disewa dengan harga RMB 2.500 (sekitar Rp5 juta) per bulan.

"Tapi bagi warga asing, lebih baik memilih kawasan di dekat Sanlitun, yang berjarak sembilan kilometer dari pusat kota, yang harga sewanya sekitar RMB 4.000 (sekitar Rp7,8 juta) per bulan atau di Gulou, yang terletak lima kilometer dari pusat kota Beijing," kata Om Buffalo, warga Amerika yang saat ini bermukim di Beijing.

Secara umum, kawasan selatan dan barat lebih murah dibandingkan kawasan di utara dan timur.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jangan sering makan menu Barat di Beijing karena mahal. Seringlah makan ala warga Beijing, kata ekspatriat di ibu kota Cina ini.

Cara lain menghemat uang di Beijing adalah menggunakan kereta bawah tanah. "Untuk jarak menengah dan jauh, taksi sering kali jauh lebih lama dan lebih mahal dibandingkan kereta bawah tanah," kata Josh Ong, direktur pemasaran dan komunikasi Cheetah Mobile di Beijing.

"Bagi yang belum lama tinggal di Beijing, menggunakan kereta bawah tanah terlihat sulit. Tapi dengan sedikit riset, Anda akan dengan cepat menguasai moda transportasi ini."

Saran Ong lain adalah makan seperti halnya warga asli Beijing. "Makanan Barat sangat mahal... lebih baik makan mi di restoran atau warung yang banyak tersedia di sekitar rumah Anda. Mi ini biasanya sangat enak," ungkapnya.

Lagos

Kota terbesar di Nigeria ini juga turun 16 peringkat gara-gara melemahnya garga minyak dunia. Minyak adalah salah satu ekspor utama Nigeria. Di satu sisi, ini menguntungkan staf asing tapi juga membuka tantangan tersendiri.

Turunnya mata uang membuat harga-harga di Lagos naik, yang ikut mendorong pencurian dan tindakan kejahatan lain, kata Hashim Zein, warga Amerika yang juga pengurus komunitas ekspatriat InterNations di Lagos.

Meski demikian, secara umum Lagos masih tetap nyaman untuk dihuni. "Saya merasa seperti di rumah sendiri karena sikap warga di sini. Mereka punya semangat tak kenal menyerah dan selalu ceria, apa pun situasinya," kata Zein. "Tak ada orang berpesta seheboh warga Lagos. Mereka melakukannya tujuh hari dalam sepekan!"

Hak atas foto Getty Images
Image caption Waga Lagos dikenal 'tahan banting' dan selalu ceria, sikap yang mestinya juga diadopsi oleh warga pendatang.

Lagos terbagi menjadi dua kawasan besar, yang dipisahkan oleh Laguna Lagos. Keduanya sering disebut Mainland dan Island.

Sebagian besar ekspatriat tinggal di Island, termasuk di kawasan elite di Pulau Victoria, 17 kilometer di selatan pusat kota. Daerah lain yang banyak dipilih warga asing adalah Ikoyi, sekitar 15 kilometer dari pusat kota yang dibangun di masa penjajahan Inggris.

Mereka yang bekerja di sektor manufaktur besar kemungkinan tinggal di Mainland, terutama di Ilupeju dan Ikeja, yang masing-masing terletak delapan dan 15 kilometer di utara pusat kota. Keduanya banyak dipilih warga asing di Lagos karena tingkat keamanannya yang tinggi, kata Zein.

Faktor lain yang membuat keduanya populer adalah infrastrukur yang lengkap dan lokasinya yang dekat dengan kegiatan bisnis.

Mexico City

Berada di posisi 82 dari 132 kota di dunia pada 2017, membuat Mexico City menjadi salah satu kota besar dengan biaya hidup yang terjangkau dan kini menjadi lebih terjangkau lagi setelah melorot sembilan tingkat.

Seiring dengan melemahnya mata uang setempat, inflasi merangkak naik. Kenaikan harga terjadi di mana-mana, termasuk tarif bus, yang diprotes banyak warga di Mexico City.

Karena itu lebih baik jalan ke stasiun metro daripada naik bus, kata Lauren Cocking, warga London yang kini menetap di Mexico City.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tinggal di Mexico City? Lebih baik sering berbelanja di pasar-pasar tradisional daripada supermarket besar.

Tapi untuk transportasi mulai tengah malam, Cocking menyarankan Uber. "Ongkosnya jauh lebih murah dari taksi reguler dan keamanannya lebih terjamin dibanding transportasi umum," kata Cocking yang punya blog tentang Mexico City.

Penghematan juga bisa dilakukan dengan berbelanja di pasar tradisional, tianguis, daripada di jaringan supermarket besar. "Harganya bisa jauh lebih murah... makanan adalah salah satu favorit saya di kota ini," ujar Cocking.

Menurut Cocking, sebagian besar ekspatriat menetap di Roma dan Condesa, meski di dua daerah ini nuansa Mecixo City bisa tak begitu terasa. "Rekomendasi saya adalah, tinggal di kawasan seperti Narvarte atau Del Valle (masing-masing sekitar 7,5 dan sembilan kilometer di selatan pusat kota)," katanya.

Dua kawasan ini memiliki nuansa lokal yang lebih kental. Pilihan lain adalah Copilco dan Coyoacan, yang berada 15 dan 12,5 kilometer di selatan pusat kota.

"Kawasan Coyoacan sangat cantik. Ini adalah perkampungan kolonial dengan rumah-rumah yang bergaya tradisional. Ada pusat keramaian yang menyediakan makanan enak dan hiburan yang mengasyikkan," kata Natalie B, warga Mexico City yang bekerja di perusahaan panduan perjalanan My Local Cousin.

Bagi yang suka dengan suasana Meksiko yang tradisional, ia menyarankan La Navarte karena sebagian besar rumah di daerah ini dibangun pada periode 1940-1970-an, dengan jalan-jalan yang tak begitu ramai dan sangat cocok bagi yang menginginkan suasana keluarga.

Buenos Aires

Penurunan peringkat yang dialami Buenos Aires lebih parah dibandingkan London, setelah ibu kota Argentina ini turun 20 posisi, yang disebabkan oleh volatilitas ekonomi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Puerto Madero menawarkan suasana dan nuansa Amerika Latin yang kental.

Tak heran jika warga setempat sudah imun dengan fluktuasi harga, kata Madi Lang, warga Amerika yang sudah menetap di Buenos Aires selama 10 tahun dan menjalankan perusahaan perjalanan Buenos Aires Cultural Concierge.

"Perekonomian di sini gila," katanya.

Lola Black, pemandu dan pengurus komunitas ekspatriat InterNations, menggambarkan Buenos Aires sebagai 'urban tapi juga masih memiliki suasana Amerika Latin yang sangat kental'. Agar bisa merasakan nuansa ini, Black menyarankan warga pendatang untuk tinggal di Puerto Madero, yang terletak empat kilometer di tenggara pusat kota.

Puerto Madero dikenal sangat rapi, banyak dihuni warga kelas atas, dan dekat dengan pantai. Pilihan lain adalah kawasan bersejarah San Telmo, yang terletak empat kilometer di selatan pusat kota, meski keamanan bisa menjadi sumber masalah.

Bagi yang ingin tinggal di dekat pusat kota bisa memilih Almagro, sekitar enam kilometer di barat pusat kota. "Lokasinya sangat sentral, dekat dengan daerah turis Palermo dengan akses ke pusat kota yang sangat mudah," kata Madi Lang. Di sini terdapat banyak bar, restoran, pertunjukan musik, dan tentu saja tango.

Yang membuat Buenos Aires nyaman dan asyik untuk dihuni adalah banyaknya kegiatan gratis dan taman kota. "Ada banyak taman dan plaza, yang sangat cocok untuk meluangkan waktu senggang di sore hari, baik dengan minum teh, melihat orang berlalu-lalang atau sekedar untuk bersantai," imbuh Lang.

Bagi Lang, tempat favoritnya adalah Plaza Vicente Lopez di Recoleta dan Parque Lezama di San Telmo.***

Tulisan asli dalam bahasa Inggris: Living in... Cities that are cheaper than ever dan tulisan perjalanan lainnya bisa Anda baca di BBC Travel.

Berita terkait