Tempat asal muasal tentara paling perkasa di muka Bumi

pegunungan, cina, desa hemu, danau kanas Hak atas foto Getty Images
Image caption Danau Kanas yang terletak di provinsi Xinjiang, Cina.

Di pegunungan tinggi Cina barat laut, batu monolit yang menjulang tinggi adalah sisa-sisa upacara yang dilakukan oleh prajurit perkasa sebelum mengirim pasukannya ke medan tempur.

Di pegunungan tinggi Cina barat laut ini, di desa Hemu, waktu sudah berhenti sejak bertahun-tahun lampau.

Di sini saya bertemu Natalya Kirova, seorang wanita Tuwa setempat yang menjual tanduk rusa sebagai afrodisiak -yang diyakini meningkatkan keperkasaan- di apotek tradisional setempat. Tidak lama kemudian, saya menemukan diri saya berada di dalam kabin kayunya yang sederhana. Kulit-kulit hewan terpajang di dindingnya, dan ada tempat suci untuk mengenang Genghis Khan.

Di rumahnya -yang ditinggal oleh pemiliknya, para penebang kayu Rusia pada awal abad 20- Kirova bercerita tentang roh gunung, roh hutan, kisah takhayul setempat, dan juga kisah lucu tentang bagaimana tentara Khan menemukan hamburger, yaitu dengan cara menempatkan daging di bawah sadel saat mereka berkuda untuk membuat dagingnya menjadi empuk.

Anak laki-lakinya adalah seorang penyanyi dengan mengeluarkan suara dari tenggorokan, profesi yang di masa lalu dikhususkan untuk berkomunikasi dengan roh-roh, namun dia mengatakan bahwa sekarang dia seringnya tampil untuk turis.

Terletak di tepi barat Danau Kanas di Pegunungan Alti di provinsi Xinjiang, petanya menunjukkan daerah ini adalah perbatasan antara Cina, Kazakhstan, Rusia, dan Mongolia. Hemu secara harfiah artinya adalah berkembang di dalam 'akuarium' (tidak mendapatkan pengaruh dari luar dan monoton).

Di sini, anggota suku Tuwa, yang diyakini berasal dari tentara Genghis Khan, meneruskan tata cara kehidupan secara turun temurun dengan mempraktikkan perdukunan seperti yang dilakukan nenek moyang mereka.

Sebuah jalan sempit yang berkelok-kelok dari danau ke pegunungan tinggi (sekitar setengah jam perjalanan dari Hemu) dengan sejumlah monolit batu yang merupakan pengingat upacara keagamaan yang dilakukan Khan (dirinya sendiri dulu adalah dukun) sebelum memimpin pasukannya untuk menaklukkan Eropa Timur pada abad ke-13.

Hak atas foto James Michael Dorsey
Image caption Batu-batu monolit peninggalan masa Genghis Khan masih berdiri tegak sebagai pengingat upacara keagamaan pada masa itu.

Monolit tersebut berdiri lebih tinggi daripada kebanyakan manusia beberapa di antaranya memiliki ciri khas: wajah atau lengan yang tampak seperti potongan catur raksasa tersebar di bukit hijau zamrud yang hijau. Pada malam hari, terutama di bawah bulan purnama -begitulah kata banyak orang- Anda bisa mendengar batu-batu tersebut memanggil tentara mereka yang hilang.

Cerita mistis gunung dan legenda yang berabad-abad telah menciptakan sebuah teka-teki yang perlahan terbuka karena rasa keingintahuan orang-orang masa kini.

Pada tahun 2008, pemerintah Cina mengumumkan pembentukan taman nasional yang mencakup Cagar Alam Kanas yang sudah ada dan desa Hemu. Dengan luas 10.000 km persegi, taman ini adalah yang terbesar di Cina barat, yang mencakup berbagai medan, mulai dari padang rumput hingga gletser.

Ekspansi Cagar Alam Danau Kanas memecahkan batas antara yang lama dan yang baru. Lanskapnya dulu selalu tenang, menjadi bergema dengan obrolan para turis yang bersemangat yang datang untuk memotret air kobalt Danau Kanas, yang tidak menyadari pentingnya tanah tersebut.

Jalan-jalan dengan cepat dipenuhi oleh sampah dan puntung rokok, dan bus bermesin diesel baru juga menyebarkan kepulan asap hitam yang kusam di langit, yang dulunya berwarna lembayung. Tempat-tempat sampah adalah sebuah konsep baru di Kanas.

Seperti kebanyakan orang Tuvans yang tinggal di Hemu, Kirova dan anaknya sangat ingin mempertahankan warisan mereka dan juga membagikan kisahnya dengan dunia luar. Tuvans menganggap peran mereka sebagai penjaga kawasan adalah cukup serius.

Selama ratusan tahun, mereka bertahan dari lahan, bergantung pada tanah dan airnya yang tidak tercemar untuk menyediakan kebutuhan bagi dirinya dan ternak mereka.

Kirova menganggap itu adalah tugasnya dalam memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya lingkungan. "Kemajuan membutuhkan pendidikan," katanya sambil mengangkat bahu. "Seseorang tidak bisa datang ke sini dan tidak merasa terpengaruh oleh keindahannya."

Di rumah Kirova, jimat tulang hewan menggantung dari langit-langit untuk mencegah roh jahat menyerang makan siang kami, yaitu susu kuda yang sudah diragi dan keju yang dikeringkan di bawah sinar matahari, sementara dia memberitahu saya tentang kehidupan sebelum dunia luar tiba.

Wanita tua yang telah berkeriput ini mudah tertawa, tetapi dia mengatakan khawatir atas serbuan orang-orang dari luar walau pada saat bersamaan juga mengakui bahwa uang dolar yang dibawa para turis telah mengubah banyak hidupnya.

Hak atas foto James Michael Dorsey
Image caption Natalya Kirova ingin sekali menjaga warisan adat budaya dan juga memberitahukannya kepada masyarakat luas.

Selama berabad-abad, tanah mistis ini tetap tak tersentuh oleh dunia modern. Sekarang, hanya dengan berjalan cepat dan pendek dari rumah Kirova, terlihat hotel-hotel yang berbagi ruang dengan apotek tradisional yang menawarkan katak-katak kering untuk ramuan ajaib.

Anda bisa memesan minuman kopi campuran di sebuah kafe dan membeli mata kadal air di toko sebelahnya. Tenda-tenda bangsa Mongolia yang nomaden menjamuri lahan dan para gembala yang menaiki unta berpapasan dengan bis-bis pariwisata.

Para wisatawan dengan kacamata hitam mengobrol dengan biksu berjubah warna safron dan dengan mengikuti jejak-jejak apapun akan membawa Anda melewati altar batu yang digantung dengan bendera keagamaan.

Matahari terbenam dihabiskan untuk menonton para pemburu elang melatih burung mereka di Danau Kanas, tempat para peramal suka bercerita tentang monster raksasa yang hidup di air.

Sebuah mural yang dilukis dengan kasar di dekatnya menunjukkan persilangan antara seekor paus dengan naga yang terlihat ramah, dan semua orang di Hemu mengaku telah melihat makhluk itu meskipun tidak ada foto yang ada.

Sebelum pergi, saya bertanya kepada Kirova apa yang dia inginkan agar dibawa orang yang pulang dari kunjungan mereka ke taman nasional baru ini.

Dengan seringai nakal, dia menjawab bahwa dia berharap mereka bisa kembali ke rumah mereka dengan kenangan tentang orang-orang zaman dulu, yang pernah merupakan tentara terkuat di Bumi, dan menaklukkan sebagian besar wilayah di Bumi.***

Tulisan asli dalam bahasa Inggris Where the earths mightiest army roamed bisa Anda baca di BBC Travel.

Berita terkait