Seperti apa kehidupan di atas tanah api yang bisa meledak kapan saja?

Roti naan Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Seorang perempuan menyiapkan roti pipih naan di salah satu restoran di Baku, yang berada di Semenanjung Absheron.

Selama ribuan tahun, orang-orang Azerbaijan di Semenanjung Absheron hidup normal meski tanah tempat mereka berpijak sewaktu-waktu bisa meledak.

Hidup di tanah api

Di jantung Baku, ibu kota Azerbaijan, seorang perempuan menyiapkan roti pipih naan di oven. Ia bekerja di restorannya yang selalu ramai, melayani para pelanggan.

Aroma roti segar begitu terasa, bercampur dengan bau arang yang membara, membuat makanan yang disajikan di sini tak ubahnya seperti makanan rumahan.

Roti naan yang ia siapkan akan dihidangkan bersama kebab kambing, lengkap dengan sayur bakar.

Makan di luar di restoran-restoran di daerah Icheri Sheher, Baku, sudah menjadi kebiasaan. Para pelanggan di sini tak memperdulikan fakta bahwa setiap menit, setiap saat, semuanya bisa meledak dan terbakar.

Gejala alam yang sungguh tak biasa

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Di Semenanjung Absheron terdapat sekitar 400 'gunung api lumpur'.

Tanpa peringatan, kantong-kantong metana bawah tanah meledak, melalui titik-titik permukaan bumi yang lunak di seluruh kawasan di Semenanjung Absheron. Di semenanjung inilah Baku terletak.

Fenomena yang tak biasa ini biasa disebut 'gunung api lumpur' (mud volcano). Di semenanjung yang terletak di tepi Laut Kaspia tersebut terdapat tak kurang dari 400 gunung api lumpur, atau konsentrasi terbanyak dari gunung api lumpur dunia yang secara keseluruhan diperkirakan berjumlah 1.000.

Sepanjang waktu, gunung api lumpur ini sepertinya 'mati' -lebih tepatnya tidak aktif- namun sewaktu-waktu bisa meledak. Dan tidak ada perhitungan ilmiah yang bisa dipakai dasar untuk menentukan atau memprediksi pola ledakan.

Berbahaya dan tak bisa diduga

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Letusan gunung api lumpur bisa mengirim material panas ratusan meter ke udara.

Ledakan atau letusan dari kantong-kantong metana bawah tanah ini berbahaya dan tak bisa diduga sama sekali.

Pada 2001, Gunung Api Lokbatan, yang terletak 15 kilometer di selatan Baku, meletus menyemburkan material panas hingga ratusan meter ke udara, membuat langit Baku penuh dengan asap dan butiran lumpur selama tiga hari.

Letusan gunung api lumpur terbaru terjadi pada 6 Februari 2017 ketika Gunung Otman Bozdag yang berada di pinggiran Baku meletus, juga mengeluarkan material panas hingga 350 meter ke udara.

Untungnya tidak ada yang menjadi korban.

'Melawan' ganasnya alam

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Saksi bisu keberadaan manusia di Semenanjung Absheron yang menetap sejak ribuan tahun yang lalu.

Meski 'ganas' secara geologis, orang-orang di Azerbaijan menyebut Semenanjung Absheron sebagai rumah mereka sejak ribuan tahun lalu.

Keberadaan manusia di kawasan ini selama ribuan tahun dibuktikan dengan torehan atau gambar-gambar di sejumlah batu yang ditemukan di kawasan pegunungan.

Tak kurang dari 6.000 torehan di berbagai batuan berusia ribuan tahun ada di Gobustan Rock Art Cultural Landscape, yang telah ditetapakan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

Situs ini berada 64 kilometer di barat daya Baku di kawasan Lembah Sungai Jeyrankechmaz River, sekitar setengah jam perjalanan dengan mobil dari gugusan gunung api lumpur.

Menyembah api

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Api abadi yang muncul dari tanah membantu berkembangnya agama Zoroastrianisme di kawasan.

Selama hampir 2.000 tahun, api abadi yang muncul dari tanah membantu berkembangnya agama Zoroastrianisme di kawasan.

Ini adalah salah satu agama monoteistis yang didasarkan pada kepercayaan bahwa api mencerminkan atau mewakili cahaya Tuhan. Bahkan api menjadi inspirasi nama negara karena Azer bermakna api.

Pengaruh Zoroastrianisme antara lain terlihat di Candi Api Ateshgash di Baku, yang juga dikenal sebagai Candi Api Abadi. Candi ini dibangun beberapa ratus tahun yang lalu. Di sinilah para pegadang yang memeluk Zoroastrianisme dan Hindu bertemu dan bertukar kisah perjalanan mereka ke Eropa, Asia Selatan dan Asia Tengah.

Mendorong pariwisata

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Seorang penggembala melempar puntung rokok ke tanah dan sejak itu api di area seluas 10 meter di sini tak pernah padam.

Dewasa ini fitur alam yang unik di Semenanjung Absheron menjadi incaran turis, terutama sejak pemerintah melonggarkan kebijakan visa bagi para wisatawan mancanegara.

Salah satu tujuan wisata utama adalah daerah perbukitan Yanar Dag.

Situs populer ketika 70 tahun lalu seorang penggembala melempar puntung rokok ke tanah dan sejak itu api di area seluas 10 meter di sini tak pernah padam.

Sumber kesejahteraan

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Azerbaijan mengeksplorasi minyak sejak 1846

Sementara itu, sumber kekayaan Azerbaijan yang berasal dari 'api di dalam tanah' itu belum menunjukkan tanda-tanda meredup. Di satu sisi ini menjadi sumber ancaman, tapi di sisi lain gunung api lumpur adalah tanda jelas adanya persediaan minyak.

Azerbaijan mengeksplorasi minyak sejak 1846. Warga di sini mengakan keselamatan mereka 'terjamin' asal mendirikan rumah jauh dari pengeboran mintak dan gubung api lumpur.

Menghormati masa lalu dan masa sekarang

Hak atas foto Kit Yeng Chang
Image caption Menara Api adalah saksi nyata perayaan Azerbaijan yang modern.

Keuntungan dari minyak dan gas membantu mengubah Baku menjadi kota masa depan, di mana ciri lama dan baru bisa menyatu secara harmonis. Ini bisa terlihat dari Menara Api, kompleks tiga gedung pencara langit yang didesain seperti bentuk nyala api.

Menara Api adalah saksi nyata perayaan Azerbaijan yang modern. Di bawahnya terdapat struktur yang telah berusia selama beberapa abad, yang dibangun oleh peradaban yang meyakini bahwa api adalah elemen yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Artikel asli dalam bahasa Inggris Life on Earth's biggest pressure cooker dan tulisan-tulisan lain bisa Anda baca di BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait