Napak tilas mencari syeikh yang selamatkan kakek dari genosida

Suriah, sungai Efrat Hak atas foto Getty Images
Image caption Stepan waktu itu berjalan di pinggiran Sungai Efrat dengan rombongan orang-orang yang dideportasi lainnya.

Saya berada di gurun Suriah yang tak bersahabat dalam rangka untuk mencari dan menghormati keluarga yang telah menyelamatkan hidup kakek saya.

Di ujung jalan, badai pasir itu berputar-putar di atas gurun Suriah yang berwarna cokelat. Kami melaju ke arah timur menuju kota Raqqa, pemandu saya, Levon, sedikit tersipu malu mengatakan tentang siapa yang akan kami temui di sana. "Saya kenal seseorang," katanya terbata-bata dalam bahasa Inggris. "Mungkin dia bisa membantu Anda."

Di samping tebing batu, ada Sungai Efrat yang 'bersembunyi' dan hampir tidak terlihat. Saya membayangkan kakek saya Stepan seabad sebelumnya, sedang berjalan di pinggir Sungai Efrat dengan kaki berdarah selama berbulan-bulan sambil didorong-dorong oleh para penjaga bersenjata yang berlari di samping kerumunan orang-orang yang akan dideportasi.

Tentu saja, saya sedang memikirkan kakek saya. Dialah yang telah membawa saya ke sana. Atau, lebih tepatnya, cerita-ceritanya - sejak dia meninggal lebih dari tiga dekade ini. Keluarga saya baru saja menemukan buku catatannya, dengan rincian bagaimana caranya bertahan hidup dari genosida Armenia, yang sampai saat ini masih disangkal oleh Turki bahwa peristiwa itu pernah terjadi.

Sekarang saya menapak tilas perjalanan kakek saya yang hampir 1.600 km melintasi negara-negara yang sekarang bernama Turki dan Suriah, dulu merupakan bagian dari Kesultanan Usmaniyah. Saya mengambil rencana rute perjalanan langsung dari halaman-halaman buku hariannya, dan saya mencoba mencapai sebuah bukit dekat perbatasan Irak, di mana kerumunan ribuan orang telah dibantai. Saya membuka profilnya dan membaca ulang kata-katanya dari tahun 1916:

"Saya sudah terbiasa dengan kelaparan, berpuasa tiga atau empat hari dalam seminggu, tanpa sedikit makanan di antara gigiku. Namun, kelaparan ini tidak memungkinkan saya untuk bertahan lagi."

Kakek saya percaya bahwa dia selamat agar dia bisa menjadi saksi atas kejahatan ini. Kegelapan yang sangat besar menyelimuti kawasan tempat kami berada saat ini, tetapi juga ada pancaran cahaya, dan itulah mengapa saya datang ke sini.

Seorang pemimpin Arab bernama Syekh Hammud al-Aekleh dan keluarga Muslimnya telah membantu kakek saya yang beragama Kristen, setelah dia melarikan diri dari kerumunan tersebut, sebuah pertemuan yang tak direncanakan yang telah mengubah nasib keluarga saya.

Kami berbelok menuju Raqqa, sebuah kota abad pertengahan yang terletak di pinggiran kiri Sungai Efrat. Levon menjelaskan bahwa pria yang dulu tinggal di sana adalah seorang syekh Badui. "Dia sangat berkuasa," katanya.

Hak atas foto Keluarga Miskjian
Image caption Stepan meyakini bahwa dirinya selamat agar bisa menceritakan kisah kekejaman genosida kepada dunia.

Para pria bercelana renang tampak sedang berdiri di Sungai Efrat yang airnya setinggi lutut mereka, dan sekelompok anak laki-laki bermain-main air pada hari yang panas ini, sungai itu diapit oleh dedaunan yang rimbun.

Kami menyeberangi jembatan, dan saya memperkirakan bahwa pada masa kakek saya tidak ada jembatan layang di sini, hanya para penjaga bersenjata dan kapal-kapal yang mengangkut mereka yang beruntung. Raqqa adalah salah satu dari sedikit tempat yang aman.

Di jalanan yang luas, sopir kami mengarahkan sedan kami menuju rumah syekh tersebut. Akhirnya, Levon menunjuk tempat tujuan kami. "Di sana," katanya. Di sudut jalan berdiri sebuah rumah dua lantai yang besar dengan gerbang depan berhias. "Syeikh tersebut membawahi sekitar 20.000 orang Badui," tambahnya. Saya merasa lebih gugup dan merapikan kemeja kusut saya. Bagaimana jika syeikh tersinggung dengan permintaan saya? Bagaimana jika dia menolak untuk membantu saya?

Seorang pelayan membuka pintu dan mengantarkan kami ke area pertemuan formal, di mana saya menunggu di atas bantal lantai sebagai tempat duduk. Akhirnya, Syeikh Fayez al-Ghubein memasuki ruangan, wajahnya tampak masam dan serius. Saya merasa gelisah, tidak tahu adat-istiadatnya, lalu bangkit dari tempat duduk untuk menghormatinya.

Keheningan yang tidak nyaman memenuhi celah di antara kami. "Mengapa Anda datang?" akhirnya dia bertanya dalam bahasa Arab.

Dengan bantuan Levon untuk menerjemahkan, saya menjelaskan apa yang telah terjadi pada kakek saya, cerita yang belum pernah saya ketahui sampai saat saya dewasa ini. Bagaimana orang-orang lain yang sekarat itu memintanya untuk bercerita kepada dunia atas apa yang telah terjadi, jika kelak dia bertahan hidup. Bagaimana saya melihat medan tempat di mana dia berjalan dalam barisan orang dan di mana begitu banyak teman-temannya yang telah meninggal.

Dia mengangguk. "Keluarga saya mengambil orang-orang Armenia, sekitar 20," katanya, dan dia menjelaskan bagaimana cerita-cerita itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dia mengundang kami ke tempat peristirahatan pribadinya dan seorang pelayan membawa sebuah piring besar berisi mangkuk kecil berisi kurma, selai jeruk, roti, dan cangkir-cangkir teh manis.

"Di mana Anda tinggal?" tanya Syeikh al-Ghubein, dan mengundang kami untuk tinggal bersamanya. Saat Levon bercakap-cakap dalam bahasa Arab bersamanya, saya menjadi cemas karena waktu terus berjalan. Saya belum sempat bercerita mengapa kami mencarinya.

Hak atas foto Dawn Anahid MacKeen
Image caption MacKeen menelusuri jejak sejarah kakeknya hanya lewat petunjuk di buku harian kakeknya.

Akhirnya saya mengumpulkan keberanian saya. "Selama peristiwa pembantaian, kakek saya hampir meninggal, tapi dia diselamatkan oleh seorang syekh di daerah tersebut. Syeikh itu membawanya masuk ke rumah saat dia lapar dan haus," kata saya.

Lalu saya mulai mempercepat kata-kata saya, seolah-olah ingin meluapkan semuanya. "Saya ingin mencari keluarganya dan berterima kasih kepada mereka. Jika ada yang bisa Anda bantu, saya akan sangat berterima kasih."

Syekh al-Ghubein mengamati wajah saya dan kemudian menanyakan nama pria itu.

"Hammud al-Aekleh."

Dia tidak mengenalnya. Tentu saja tidak, seberapa besar peluangnya? Terlalu sulit menjangkau masa yang telah bergulir begitu lamanya. Mengapa saya membayangkan bahwa saya bisa menelusurinya kembali?

Momen tersebut berlalu dan kemudian Syeikh al-Ghubein bertanya apakah saya tahu lokasi desa tersebut.

Saya tidak tahu, sampai malam sebelumnya, ketika saya mempelajari setiap detail terakhir dari kisah pelarian kakek saya dari karavannya seperti seorang pembuat peta yang sedang memetakan setiap gerakan, mulai dari bagaimana kakek saya merangkak untuk menyelinap melarikan diri dari para penjaga, bagaimana dia ditangkap setelah berhasil sampai ke Efrat, bagaimana dia melarikan diri dengan bersembunyi di dalam celah-celah batu, lalu berlari menuju ke segala penjuru.

Hak atas foto Dawn Anahid MacKeen
Image caption Stepan berhasil melarikan diri dengan cara bersembunyi di balik bebatuan sebelum akhirnya berlari ke segala arah menuju desa Syekh al-Aekleh.

Akhirnya, saya menunjuk daerah itu, berada di antara dua kota.

Syeikh al-Ghubein berdiri dan menekan nomor telepon. Saya tidak mengerti percakapan singkatnya dalam bahasa Arab, tapi memahaminya saat seorang pria tinggi memasuki ruangan. Dengan telepon genggam di satu telinga dan telepon rumah di telinga yang lain, pria yang baru saja tiba tersebut mulai menyelidiki suku-suku di wilayah tersebut tentang keluarga syeikh yang namanya terukir dalam sejarah keluarga saya dari generasi ke generasi.

Akhirnya, dia menurunkan salah satu telepon dari telinganya dan berkata, "Ada dua Hammud al-Aekleh. Apakah Anda punya informasi lebih lanjut? "

"Kakek saya mengatakan Hammud al-Aekleh sangat berkuasa. Nama saudara laki-lakinya adalah Ali. Putranya juga Ali."

Pria itu melanjutkan berbicara dalam bahasa Arab, lalu menutup telepon. Dia menoleh padaku. "Keluarga ini tidak memiliki saudara laki-laki bernama Ali."

Saya sangat kecewa, keluarga yang satu lagi mungkin juga tidak memiliki saudara bernama Ali. Mungkin kakek saya tidak menuliskan namanya dengan benar, atau klan tersebut telah pindah ke tempat lain, banyak klan yang hidup seminomaden pada masa itu.

Sahabat Syeikh al-Ghubein itu mengangkat telepon genggamnya untuk menghubungi keluarga yang kedua. Saya melihat ekspresinya saat dia berbicara dengan cepat dalam bahasa Arab. Tidak ada percakapan, tetap diam, tidak sedikit pun kata-kata yang keluar. Percakapan terus berlanjut, wajahnya tidak berubah. Hati saya hancur.

Setelah sekian lama, matanya bertemu dengan mata saya, dan dia tersenyum. Dia telah menemukan mereka.

Malam itu, Syeikh al-Ghubein mengadakan makan malam untuk menghormati saya. Lentera merah muda, kuning, biru, dan hijau dinyalakan di restoran terbuka yang ramai di tepi Sungai Efrat. Langit gelap membentang di atas dan sungai mengalir tepat di samping kami.

Dia telah mengundang beberapa orang Armenia setempat untuk bergabung bersama kami saat kami berkumpul di sekitar meja, belasan orang berasal dari berbagai agama dan etnik, berbagi dan mencuil roti bersama-sama.

Makan besar itu terhampar di meja panjang, dengan menu salad mentimun dan tomat, baba ganoush, hummus, dan tabouli. Saat syeikh memberikan lebih banyak makanan di piring saya, saya memberikan kode kepadanya bahwa saya kenyang. "Ini baru permulaan!" serunya.

Beberapa saat kemudian datang lebih banyak piring yang ditumpuk tinggi dengan menu kebab panggang dari daging sapi sapi dan ayam, serta bola-bola daging cincang yang dikenal dengan nama kofta.

Hak atas foto Dawn Anahid MacKeen
Image caption Stepan mencatat seluruh kisah perjalanannya di negara-negara yang saat ini dikenal dengan nama Turki dan Suriah di buku hariannya.

Malam itu, dalam cahaya remang-remang di kamar putri sang syeikh, saya mengeluarkan memoar kakek saya dan membaca kembali saat dia pertama kali mendengar tentang sifat 'lembut' dan 'berpengaruh' Syeikh al-Aekleh, dan dia memutuskan untuk mendekatinya. Untuk menyembunyikan identitas Armenianya, Stepan mengenakan gaun setempat dan mengganti namanya menjadi Mustafa.

Tapi syeikh itu tidak terkecoh, dan dia tahu latar belakang etnik kakek saya sebenarnya. Alih-alih melaporkannya kepada para polisi, syeikh melakukan hal lain yaitu menawarinya perlindungan dari ancaman klannya.

Sang syeikh kemudian melakukan kontak mata dengan para pelayannya, lalu mereka segera bubar. Seseorang kembali dengan sebuah meja kayu dan meletakkannya di depan Stepan. Yang lainnya membawa pekmez yaitu sirup anggur lokal dan sepotong roti gandum yang besar. Stepan menceritakan perubahan keadaan ini di dalam jurnalnya:

"Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang akan duduk dengan saya di meja makan, dan menunggu mereka datang. Tidak ada siapa-siapa ... Dan saya berkata kepada diri saya sendiri, 'Sungguh sebuah keajaiban, Tuhanku!' ... saya makan dan makan dan makan dan tidak dapat menghabiskannya. Pada masa saya dideportasi, saya tidak pernah makan sebanyak ini."

Akhirnya kakek saya bisa bernapas lega. Seseorang telah melihatnya sebagai manusia dan bukan sebagai 'anjing', seperti panggilannya dulu. Seseorang ingin membantu, tidak menyakitinya.

Saya memikirkan hal itu keesokan harinya saat kami meninggalkan Raqqa. Saat kami memasuki desa Syeikh al-Aekleh, ada kerumunan sekitar 300 orang, dan saya menduga itu karena mereka selesai sembahyang di masjid di dekatnya.

Tapi ketika saya membuka pintu mobil, orang-orang mulai mengerumuni saya, para pria tersenyum dan para perempuan merentangkan tangan mereka dan segera memeluk serta menciumi kedua pipi saya.

Seorang perempuan berusia akhir 40-an meraih tangan saya. Dia adalah cucu perempuan Syeikh al-Aekleh dan dia ingin membawa saya ke rumahnya. Di sana dia dan anak-anak perempuannya membuka lemari yang penuh dengan gaun berwarna-warni dan dengan hati-hati memilih gaun yang cantik berwarna merah anggur, penuh dengan manik-manik yang halus.

Mereka memakaikan gaun tersebut dan kerudung kuning di kepala saya. Kemudian mereka membawa saya ke sebuah ruangan persegi panjang yang berdekatan, di mana di bagian pinggir ruangan dipenuhi oleh orang-orang yang duduk dengan kaki disilangkan. Semua mata tertuju pada saya.

Hak atas foto Dawn Anahid MacKeen
Image caption Syekh Hammud al-Aekleh mengubah nasib Stepan sehingga dia berkeluarga dan memiliki anak-cucu.

"Salam!" kata saya dengan menggunakan salah satu dari beberapa kata Arab yang saya tahu. Setelah mengetahui bahwa semua orang di ruangan itu - berjumlah ratusan orang - adalah semua keturunan Syeikh al-Aekleh, saya mengatakan kepada mereka mengapa saya pergi ke sini dari rumah saya di Los Angeles, bagaimana saya selalu bertanya-tanya tentang kisah perjuangan mempertahankan hidup kakek saya, dan kemudian akhirnya saya memahami lebih banyak ketika saya membaca kisah tentang sang syeikh.

Meski begitu, saya ingin mengetahui apa yang mendorong orang pemberani itu menyelamatkan kakek saya pada suatu masa ketika propaganda Usmaiyah membuat semua orang Armenia seakan-akan berbahaya. Apa yang membuat sang syeikh tetap membantu tanpa melihat perbedaan?

"Ini karena ajaran Islam untuk bermurah hati," jelas salah satu cucu Syeikh Hammud al-Aekleh.

Saya membacakan mereka jurnal-jurnal kakek saya, membaca kembali saat ketika sang syeikh membawa kakek masuk ke rumah, menghangatkannya di depan perapian, dan memberikannya waktu untuk beristirahat, terlepas dari permintaan kakek saya untuk membantu melakukan pekerjaan di ladang. Karena pertemuan yang digariskan oleh nasib itu, kehidupan kakek saya telah berubah yang semula berjuang untuk mencari makan dari sisa-sisa makanan menjadi anggota keluarga syeikh yang dipercayai.

Kakek saya melewati hari-harinya menyaksikan teman-temannya satu per satu meninggal di kamp. Sejak saat itu, diskusi muncul di seputar perkawinan, karena perempuan setempat hendak mendekati kakek saya - bahkan ada yang mencuri pakaiannya saat dia berenang di sungai - untuk dikembalikan dengan imbalan ciuman. Orang-orang di klan memintanya untuk menuliskan puisi cinta untuk mereka.

Beberapa kali saat saya berbicara, keluarga Syeikh al-Aekleh akan memotong pembicaraan saya. Ya, itulah respons mereka, karena mereka pernah mendengarkannya sebelumnya, karena cerita-cerita itu diturunkan dari generasi ke generasi.

Hak atas foto Dawn Anahid MacKeen
Image caption Anahid MacKeen mengatakan, "Bantuan dari syeikh mengembalikan martabat kakek saya, dan akhirnya saya bisa mengucapkan terima kasih kepada keluarga syeikh."

Dengan klan ini, kakek saya menemukan kekuatannya lagi. Waktunya bersama dengan syeikh memberinya umur 58 tahun berikutnya dalam hidupnya, kesempatan untuk memiliki istri dan anak-anak dan kemampuan untuk hidup untuk menulis semuanya. Hal itu juga mengembalikan martabatnya, dan akhirnya saya bisa berterima kasih kepada keluarga syeikh.

Saya berhenti sejenak, menatap semua wajah yang tersenyum di ruangan itu, lalu membaca dua kalimat sederhana yang ditulis kakek setelah bertemu dengan keluarga yang hebat ini: "Kebahagiaan saya tidak terkira. Apakah ada orang yang lebih bahagia daripada saya?"

Air mata mengalir di mata saya. Kalimatnya tercermin dalam ingatan saya sendiri, hampir seabad kemudian, saat bertemu dengan keluarga Syeikh al-Aekleh dan bertemu dengan seorang syeikh di Raqqa yang telah menuntun saya ke sana.

Catatan: Dawn Anahid MacKeen adalah penulis The Hundred-Year Walk: An Armenian Odyssey, yang menceritakan kisah bertahan hidup kakeknya pada peristiwa genosida dan pencariannya untuk menceritakan kisah kakeknya. Berdasarkan satu dekade penelitian, buku tersebut diberi penghargaan sebagai biografi terbaik dari American Society of Journalists & Authors. Sebelumnya dia adalah seorang staf penulis di Salon, Newsday, dan SmartMoney. Karyanya telah muncul di The New York Times Magazine, ELLE, The Sunday Times Magazine, dan lain-lain.

Versi bahasa Inggris artikel ini bisa Anda baca di The sheikh that saved my family di laman BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait