Seberapa penting oleh-oleh bagi rakyat Filipina?

filipina Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Seorang penjual suvenir di Manila menunjukkan barang dagangannya. Membawa oleh-oleh tidak terbatas pada sesama orang Filipina, tapi juga berlaku untuk teman di mancanegara.

Makna pasalubong lebih dari sekadar suvenir atau hadiah. Kata itu menyimpan ritual dan makna yang berlapis-lapis.

Sebagai seorang putri dari ibu yang berstatus buruh migran, saya selalu berharap menerima pasalubong dari Mama ketika masih kanak-kanak. Pasalubong datang beberapa bulan sekali di dalam kardus yang dikirim Mama dari luar negeri. Isinya penuh dengan coklat, makanan kalengan, pengharum, pakaian, sepatu, dan apapun yang tidak bisa dibeli atau ditemukan di Filipina.

Barang-barang ini ditata secara rapi oleh Mama, yang berharap bisa mengisi kekosongan di dalam hati anak-anak karena orang tua bekerja di luar negeri.

Kata 'pasalubong' dalam bahasa Tagalog berakar dari kata 'salubong', artinya 'bertemu' atau 'menyambut'. Ketika diawali dengan kata 'pa', salubong berubah tindakan aktif. Dengan demikian, pasalubong adalah oleh-oleh atau suvenir yang diberikan kepada seseorang.

Awal ritual pasalubong sulit dilacak. Dr Nestor Castro, seorang pakar antropologi di University of the Philippines, meyakini pasalubong adalah praktik orang-orang Filipina pada era sebelum penjajahan Spanyol mengingat kata tersebut berasal dari bahasa Tagalog dan komunitas masa itu terlibat dalam perdagangan jarak jauh.

Dr Michael Tan, pakar antropologi lainnya di University of the Philippines, sepakat dengan dugaan tersebut.

"Saya mengira itu berasal dari suatu masa ketika bepergian sulit sehingga orang yang kembali ke rumah disambut dengan haru. Semakin jauh dan semakin sulit tempat yang dituju, seperti yang sekarang dialami orang-orang Filipina di luar negeri, semakin penting membawa sesuatu untuk orang-orang di kampung halaman," tulis Tan.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Orang Filipina yang baru bepergian dari luar negeri diharapkan membawa pasalubong atau oleh-oleh yang khas untuk kerabat dan teman.

Makna pasalubong lebih dari sekadar suvenir atau hadiah. Kata itu menyimpan ritual dan makna yang berlapis-lapis.

"Pasalubong didasari oleh prinsip timbal balik—pemberian hadiah atau balas melakukan perbuatan baik," terang Dr Mary Racelis, peneliti dari Institut Budaya Filipina dan dosen di Departemen Sosiologi dan Antropologi Ateneo de Manila University.

Menurut Racelis, membawa pasalubong untuk kerabat di kampung halaman menegaskan budaya setempat, seperti menguatkan persahabatan, menghormati penerima, berbagi kenikmatan karena mampu bepergian jauh, dan meyakinkan bahwa si pemberi memikirkan si penerima walau si pemberi sedang berada di tempat yang jauh.

Pasalubong tidak terbatas pada barang-barang yang dikirimkan buruh migran kepada keluarga mereka. Pasalubong bisa bermakna penganan dari orang tua yang baru pulang dari kantor atau oleh-oleh dari tempat jalan-jalan. Pasalubong bisa berwujud benda yang khas dari tempat bepergian atau benda yang tidak bisa dibeli si penerima.

Setiap kali saya bepergian, saya selalu memikirkan pasalubong yang bisa saya bawa pulang. Saya mencari sesuatu yang khas di tempat saya bepergian, seperti camilan kacang dari Provinsi Bohol di Filipina Tengah, kue ubi dari Palawan di Filipina, permen duren dari Davao di Filipina selatan, sarung batik dari Bali, kaus Menara Petronas dari Malaysia, biskuit Tim Tam dari Australia, dan kue Choco-ade dari Selandia Baru.

Sebaliknya, saya menerima pasalubong dari keluarga dan teman sepulangnya mereka dari bepergian. Sebut saja espasol (kue beras yang dimasak dengan santan) dari Laguna di Filipina selatan, sapin-sapin (kue beras ketan warna-warni) dari Malabon di bagian utara Manila, bagnet (camilan gorengan) dari kawasan Ilocos di Filipina Utara, kurma dari Arab Saudi, rosario dari Jerusalem, gantungan kunci dan magnet kulkas dari banyak kota dan negara.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Para buruh migran Filipina di luar negeri secara rutin mengirim kardus berisi oleh-oleh kepada keluarga dan teman di kampung halaman.

Budaya pasalubong ternyata tak hanya dilakukan orang Filipina. Teman kerja saya dari negara lain membawa pasalubong seperti nougat dan macaron dari Prancis dan cokelat dari Australia. Sebagai tanda iktikad baik, kami memastikan mereka membawa pulang oleh-oleh khas Filipina, seperti pajangan kerbau dari kayu atau replika jeepney (transportasi khas Filipina). Manakala kami mengunjungi mereka di luar negeri, kami membawa mangga kering yang merupakan pasalubong favorit dari Filipina.

Makna tersembunyi dari tindakan saling memberi oleh-oleh adalah bagian penting dari ritual pasalubong. Ekspresi menghargai dan kebahagiaan ketika sang pemberi oleh-oleh pulang ke kampung halaman juga menjadi bagian penting.

Buruh migran Filipina sangat diharapkan membawa pasalubong.

"Karena mereka pergi ke luar negeri dan diasumsikan mendapat uang banyak, pasalubong adalah bentuk dari berbagi kekayaan," jelas Dr Racelis.

"Pasalubong untuk keluarga dekat dinilai sebagai kompensasi atas kepergian si buruh migran selama beberapa waktu dan atas beban yang diakibatkan oleh ketiadaan si buruh migran," tambahnya.

Semakin banyaknya buruh migran Filipina di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, telah menciptakan fenomena kardus oleh-oleh.

"Kardus oleh-oleh adalah respons kreatif pengusaha pengirim paket yang paham bahwa banyak buruh kigran mengirim banyak kardus oleh-oleh ke kampung halaman. Mereka paham tuntutan pasar dan menanggapinya dengan merancang serta menjual kardus kokoh, mudah dirakit, dan pas untuk pengiriman menggunakan pesawat," papar Dr Racelis.

Kardus oleh-oleh dinilai telah menjadi wadah pasalubong, meski si buruh migran belum pulang ke kampung halaman.

"Tatkala seseorang pergi ke tempat yang jauh, mereka kembali membawa pasalubong. Namun, untuk kardus oleh-oleh, benda-benda itu dikirim ke kerabat dan teman walau si pengirim belum kembali," tutur Dr Castro.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Ketika barang-barang impor semakin mudah diperoleh di Filipina, apakah pasalubong dari buruh migran mulai kehilangan makna?

Dengan semakin mudahnya bepergian dan mengirim kardus oleh-oleh, apakah pasalubong mulai kehilangan makna?

"Lantaran banyak barang-barang semakin mudah diperoleh, beberapa tipe pasalubong tidak lagi punya makna yang kuat," ujar Dr Castro.

Dr Michael Tan, pakar antropologi di University of the Philippines, menulis: "Ketika Anda banyak bepergian, sebagaimana saya, pasalubong menjadi kewajiban membosankan ketimbang tindakan berbagi kebahagiaan dan kemurahan hati. Karena kita merasa diwajibkan membawa sesuatu untuk semua orang, kita memilih apapun yang kita bisa untuk diberikan."

Dr Racelis menemukan adanya kemuakan sejumlah buruh migran karena meladeni kerabat dan keluarga yang terlalu banyak berharap mendapat pasalubong. Menurutnya, ketika pertama kali ke luar negeri, rata-rata buruh migran gembira berbagi keuntungan selama bekerja di mancanegara dan menunjukkan kesuksesan mereka dengan membawa beragam pasalubong.

Akan tetapi, saat memberi pasalubong mulai menggerogoti tabungan, perasaan gembira itu semakin menurun setiap kali mereka pulang ke Filipina.

Bagaimanapun, pasalubong tetap menjadi perilaku khas dalam budaya Filipina.

"Pasalubong tetap memenuhi fungsi untuk menyatukan orang-orang Filipina dari luar negeri dengan komunitas masing-masing serta menguatkan hubungan kekerabatan dan pertemanan," kata Dr Racelis.

"Kita sebaiknya jangan meremehkan ketahanan budaya. Kekangenan memberi dan menerima pasalubong menghubungkan orang Filipina dengan kampung halaman dan peninggalan," tutupnya.

Versi bahasa Inggris tulisan ini dapat Anda baca dengan judul What the Philippines can teach us about giving di BBC Travel

Berita terkait