Mengapa situs prasejarah Stonehenge dibangun?

Stonehenge Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Lokasi Stonehenge adalah situs prasejarah yang berjarak sekitar 80 mil di sisi baray daya London.

Seiring penelitian para arkeolog tentang Stonehenge, beragam misteri muncul. Tapi satu kisah yang masuk akal perlahan mencuat.

Stonehenge merupakan atraksi turisme di Inggris yang paling sering dikunjungi wisatawan dan salah satu peninggalan masa lalu yang paling misterius. Turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk memandangi pilar-pilar batu ikonik itu, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa dan bagaimana batu-batu itu menjadi sedemikian rupa.

Situs wisata itu mungkin mudah dikenali, tapi ada hal lain dari apa yang dapat ditangkap mata. Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.

Para peneliti kini tidak hanya mendalami Stonehenge sebagai situs tunggal, tapi juga area yang melingkupi monumen itu. Mereka berharap mendapatkan petunjuk dari bentang alam di sekitar situs prasejarah tersebut.

Pemetaan bawah tanah dan eskavasi menyingkap fakta bahwa Stonehenge pernah menjadi bagian dari jejaring yang rumit: gundukan makam purba, pemukiman yang tak teridentifikasi, jalur kirab dan bahkan kuburan berhias emas.

Temuan itu menggambarkan situasi yang lebih misterius, serta mengelaborasi era neolitikum dan zaman perunggu, dibandingkan yang selama ini diperkirakan.

Proyek yang meneliti Stonehenge secara menyeluruh adalah Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge—digelar dari 2010 hingga 2014. Radar bawah tanah dan teknik pemetaan magnetik mengungkap, Stonehenge terletak di tengah kompleks seluas 12 kilometer persegi.

Proyek tersebut disorot banyak media massa pada 2015. Ketika itu para peneliti mengumumkan temuan mereka di sekitar Durrington Walls—sebuah lingkaran bebatuan besar berdiameter 500 meter. Temuan itu mereka prediksi dapat mengungkap 'Superhenge'.

Namun kehebohan media massa tidak berlangsung lama. Saat para ilmuwan mengekskavasi situs itu, mereka tak menemukan batu apapun. Sebaliknya, mereka mendapati fakta bahwa pepohonan pernah tumbuh di kawasan tersebut.

Setelah fosil pohon-pohon itu dibersihkan, para peneliti memasukkan kapur ke lubang tersebut, lalu menguburnya agar membentuk setumpuk batu. Merujuk pada pemindaian radar, celah di antara kapur-kapur itu memang terlihat seperti bebatuan.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Saat ini Durrington Walls merupakan sebidang lahan yang dikelilingi dataran lebih tinggi yang menjorok ke parit-parit buatan.

Di luar target yang meleset, pemimpin Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, Vincent Gaffney, menyatakan timnya telah menemukan ratusan petunjuk dan situs yang belum pernah terungkap sebelumnya.

"Berdasarkan survei ini, kami akhirnya tahu lokasi sisa-sisa zaman prasejarah ini, tapi juga tempat-tempat yang tak berkaitan dengannya," ujar Gaffney, seorang arkeolog dari Universitas Bradfor.

Gaffney menyebut penyelidikan semacam ini vital karena "memberikan ruang investigasi kepada para arkeolog, tak hanya terhadap pusat monumen prasejerah yang telah diketahui publik, tapi kawasan-kawasan lainnya. Penelitian ini membebaskan kami menginterpretasikan petunjuk melalui pendekatan yang rumit.

"Apa yang telah terungkap dalam penelitian ini merupakan fase penting Durrington Walls yang sebelumnya tak diketahui.

Di antara perkampungan neolitik dan benteng raksasa terdapat pilar lingkaran yang tingginya sekitar empat sampai enam meter, jumlahnya paling sedikit 200 atau setidaknya 300 buah.

"Temuan baru ini pasti akan terlewatkan tanpa penelitian ini."

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Penanda berupa bebatuan modern ditancapkan di sejumlah titik di mana pilar-pilar Woodhenge, sebuah monumen prasejarah lain di lokasi itu, seharusnya berada.

Penemuan monumen prasejarah lain di area tersebut mengubah cara para arkeolog melihat fase perubahan dan sejarah kawasan itu.

"Secara bertahap, saya menyarankan kita mulai melihat mozaik dari area yang kosong dan tugu-tugu yang ada, selagi menganjurkan perpindahan yang berarakan," kata Gaffney.

Dalam kata lain, bentang alam itu dulu biasa digunakan untuk prosesi keagamaan yang berhubungan dengan sejumlah tugu di tempat tersebut.

Mike Parker Pearson dari Institut Arkeologi University College London, yang memimpin Proyek Stonehenge Riverside dari 2003 hingga 2009, menilai penempatan pilar-pilar batu itu hanya sementara atau dapat dibongkar sewaktu-waktu.

"Batu-batu itu mungkin hanya didirikan untuk beberapa bulan sebelum digantikan tumpukan batu yang melingkar dan parit," ujarnya.

"Tujuan mereka sepertinya membuat garis lingkaran imajiner di perkampungan itu, yang sekarang telah ditinggalkan. Jadi mungkin pilar-pilar itu merupakan tugu peringatan bagi orang-orang yang tinggal di sini selama membangun Stonehenge."

Apapun kegunaan monumen prasejarah itu, Stonehenge jelas bukan satu-satunya tugu di bentang alam tersebut. Memahami fungsi Stonehenge tergantung pada pemahaman terhadap benda-benda lain di sekitarnya.

Proyek Stonehenge Rverside menemukan petunjuk bahwa Stonehenge dibangun dalam dua fase berbeda. Yang pertama—terdiri dari selokan, dataran yang menjorok ke sungai, dan deretan bebatuan biru yang membentuk bulatan—dibangun 500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan peneliti. Sementara itu, batu-batu besar melingkar yang ikonik dibangun 500 tahun sesudahnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Stonehenge bukanlah satu-satunya situs prasejarah di kawasan itu.

Adapun, kawasan itu ditinggali setidaknya 9,000 tahun lalu—penanda bahwa area itu telah dimanfaatkan sebelum Stonehenge dibangun.

Tiga puluh kilometer dari area itu berdiri tugu purbakala yang tidak begitu dikenal namun memliki kegunaan serupa Stonehenge, yakni Avebury—situs batu melingkar terbesar di Eropa.

Jangkauan zaman neolitik di area Avebury lebih jauh dibandingkan kawasan lainnya, antara lain sampai ke Wales, di mana masyarakat Britons kuno mendapatkan bebatuan biru sebagai material utama lingkaran dalam Stonehenge.

Di sisi lain, Parker Pearson menyebut batu-batu besar Stonehenge didatangkan dari area Avebury. Ini menandakan bentang alam dari zaman neolitik tersebut saling berhubungan—Plateau Salisbury, Avebury, Bukit Preseli di Wales, dan kawasan lain yang memiliki banyak tugu prasejarah.

Parker menilai, batu-batu biru dari Wales adalah batu pertama yang diletakkan di Stonehenge. Asal-muasal monumen itu sangat penting diketahui.

Batu-batu itu disebut sebagai simbol nenek moyang masyarakat Briton barat. Parker berkata, "membawa batu-batu itu ke Plateau Salisbury merupakan medium pemersatu dua masyarakat neolitik di selatan Inggris."

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Sejumlah bebatuan muncul di permukaan Bukit Presili, Wales.

Kini, Bukit Preseli terlihat berbintik karena keberadaan dolmen atau meja batu datar yang ditopang tiang batu. "Massa jenis dolmen-dolmen itu menunjukkan kawasan itu merupakan area vital, baik secara politik dan religius, 700 tahun sebelum Stonehenge dibangun," kata Parker.

Pernyataan Parker itu secara tidak langsung memunculkan probabilitas Bukti Preseli sebagai daerah unggul di seantero Inggris barat pada tahun 3000 sebelum masehi.

Saatnya bertanya

Meskipun kita setuju tentang teori yang menyebut pengangkutan batu-batu dari Wales itu simbolik dan politis, teori itu menghadirkan misteri lain, yaitu tentang cara masyarakat prasejarah di Briton memindahkan batu-batu besar tersebut.

Sejumlah peneliti menyebut mereka sama sekali tak mengangkut batu-batu itu, melainkan gletser atau bongkahan es yang terbentuk dari endapan salju. Namun penemuan dua bongkah batu tambang di Preseli mengakhiri hampir seluruh perdebatan itu.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Ekskavasi di Craig Rhos-y-felin mengungkap bahwa bebatuan biru ditambang dan diangkut menuju Stonehenge.

Peneliti juga telah bereksperimen tentang cara memindahkan batu-batu besar itu sejauh 260 kilometer dari Wales. Merujuk Parker Pearson, mereka mendapati fakta bahwa mengangkut benda megalitikum seperti bebatuan biru yang beratnya rata-rata dua ton, sebenarnya tidak sulit, bahkan bisa hanya dengan meletakkannya di atas kereta pengeret.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Tumpukan batu di atas Bukit Preseli yang terletak di Wales.

Pada temuan baru lainnya, arkeolog menemukan sisa kremasi yang dikubur di Stonehenge. Ekskavasi yang dilakukan proyek Stonehenge Riverside tahun 2008 menemukan kembali sekitar 58 pemakaman, yang terdiri dari setidaknya sembilan laki-laki dan 14 perempuan.

Merujuk pandangan bahwa orang yang dikuburkan di Stonehenge memiliki status sosial yang tinggi, temuan itu memantik pertanyaan tentang peran perempuan pada era neolitik.

Hak atas foto Vivien Cumming
Image caption Stonehenge terus memberikan kejutan bagi para arkeolog.

"Kerap kali muncul hal baru dari Stonehenge, tapi saya tetap saja terkejut kita terus menemukan banyak hal—bahkan di area yang sudah dipelajari secara intensif selama bertahun-tahun," kata Gaffney.

Temuan terakhir dari Durrington menunjukkan, teknologi terkini tak hanya mampu menemukan situs baru, tapi juga mengubah cara kita memahami situs prasejarah tersebut.

"Temuan itu tidak cuma menegaskan keunikan Stonehenge, tapi juga betapa pentingnya bentang alam di sekitar tugu prasejarah tersebut—dan kita baru saja mulai memahami cara area itu berkembang dan arti Stonehenge bagi orang-orang yang membangunnya."

Meski demikian, tak peduli berapa temuan yang muncul, Stonehenge sepertinya akan tetap melemparkan beragam pertanyaan yang patut direnungkan para peneliti dan media massa. Masyarakat neolitik ini memiliki keterampilan dan ambisi yang besar.

Tidak mudah bagi kita yang hidup serba instan di era modern ini untuk memahami monumen besar yang didirikan secara sempurna dalam beberapa abad itu.

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul Why Stonehenge was built di BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait