Kota yang membagi dunia menjadi dua

Tordesillas Hak atas foto Franz Marc Frei/LOOK-foto/Getty Images

Sekilas, Tordesillas, sebuah kota kecil di pinggir sungai Duero di Provinsi Valladoid, Spanyol, tampak seperti kota biasa. Kota in memiliki lapangan dengan Plaza Mayor yang terawat dan gereja yang dibangun pada abad pertengahan.

Tapi, kalau Anda menyebutnya di São Paolo, Cargaena atau kota lain di Amerika dan Amerika Selatan, banyak orang akan mengenali kota ini.

Di sinilah terjadi pada 1494, Spanyol (yang pada saat itu bernama Kerajaan Castile) dan Portugal membagi tanah yang belum juga mereka temukan -dan lambat laun setelah perjanjian itu Brasil sebagai satu-satunya negara berbahasa Portugis di Amerika.

Lokasi kota ini mungkin yang menjadi sebab tempat ini menjadi lokasi yang pas untuk merundingkan perjanjian yang bersejarah, Perjanjian Tordesillas.

"Kota ini berada di persimpangan jalan yang sangat penting," ujar Miguel Angel Zalama, seorang profesor Sejarah Seni di Universitas Volladoid dan Direktur dari Tordesillas Center of Ibero-American Relations.

"Di situ juga terdapat sebuah istana [dan] semua yang mengindikasikan bahwa [perjanjian] itu ditandatangani di situ."

Hak atas foto wikimedia
Image caption Di kota Tordesillas, Portugal dan Spanyol membagi daerah jajahan yang belum mereka temukan. (Sumber: Franz Marc Frei/LOOK-foto/Getty Images)

Namun keberadaaan lapangan kerajaan dan kondisi geografis kota tersebut mungkin bukan satu-satunya alasan bagi Monarki Katolik, Isabella dari Castille dan Ferdinand dari Aragon, memilih kota tersebut.

"Dengan label 'sangat imajinatif, kuno, mewah, setia dan noble villa' [yang diberikan pada abad pertengahan], kota Castillian ini berhubungan erat dengan tradisi sejarah Portugal," jelas Ricardo Piqueras Céspedes, Profesor Sejarah di Universitas Barcelona.

"Pada abad ke-15, Ratu Maria dari Portugal dan Beatriz dari Portugal tinggal di situ. Sangat mungkin ini menjadi isyarat bahwa Portugis pernah lebih nyaman pada posisi netral semacam ini."

Isabella dan Ferdinand memiliki alasan yang bagus untuk menenangkan Portugal. Meskipun dirundingkan selama Mei hingga Juni 1494, proses Perjanjian Tordersillas memakan waktu satu tahun dalam ketidakpastian, dengan potensi perang yang sangat tinggi antara kedua negara dan kecemasan Spanyol atas negara jajahannya di seberang lautan Atlantik.

Jalan menuju perundingan perjanjian ini dimulai ketika, dalam perjalanan pulang dari tempat dimana ia kira sebagai India, kapal penjelajah Christopher Columbus menghadapi badai.

Ia melempar jangkar di dekat Lisbon, dan meskipun perjalanannya disponsori oleh monarki Spanyol Ferdinand II dan Isabella I, ia dipaksa untuk buka mulut atas penemuannya kepada John II, Raja Portugal.

Yakin bahwa pulau baru ini termasuk dalam Perjanjian Alcáçovas-Toledo yang ditandatangani pada 1878, yang membagi daerah di selatan Canary Islands kepada Portugal, John II mendeklarasikan kepemilikannya.

Hak atas foto Margarita Gokun Silver
Image caption Perundingan Perjanjian Tordesillas memakan waktu setahun dengan potensi yang tinggi akan terjadinya perang (Sumber:Margarita Gokun Silver)

Sementara itu, Martin Alonso Pinzón, navigator asal Spanyol yang menemani Colón berhasil membawa kapalnya, Pinta, ke tepi pantai Spanyol dan langsung mengabarkan tentang tanah temuan baru ini ke Barcelona dimana monarki Katolik berada pada saat itu. Tempat dimana Ferdinand memulihkan dirinya.

Merespon kabar tersebut, monarki mengirim utusan ke Paus Alexander VI dengan klaim atas penemuan Colón. Berasal dari Valencia (yang menjadi bagian dari Kerajaan Aragon) dan menjadi bagian dari Monarki Katolik, Paus Alexander VI mengeluarkan tiga surat putusan kepausan.

Salah satunya adalah Inter Caetera yang dikeluarkan pada 4 Mei 1493 - dan secara efektif membatalkan Perjanjian Alcáçovas-Toledo. Alih-alih secara paralel, perjanjian ini justru membagi Atlantik untuk Portugal dan Spanyol melalui garis horizontal, sebuah perbatasan demarkasi vertikal yang membagi dunia dari kutub ke kutub melewati Samudra Atlantik.

Portugal marah. Selain karena kehilangan pulau-pulau baru, mereka sekarang tidak memiliki ruang lagi untuk melakukan manuver ketika melakukan perjalalan ke Afrika lantaran garis itu hanya berlaku 100 leagus (sekitar 320 mil) di barat Cape Verde.

"Portugis ingin untuk mempertahankan koloninya di Afrika [dan] pulau-pulau mereka di Atlantik," ujar Zalama. "Garis ini mengejutkan karena mereka tidak bisa melayarinya sama sekali. Untuk berlayar, [mereka] butuh angin yang baik dan untuk memiliki angin semacam ini, seringkali dibutuhkan lingkaran yang sangat luas. Dengan tindakan ini, mereka tidak bisa karena [mereka akan menemukan diri mereka] di teritori Castilian."

Hak atas foto Margarita Gokun Silver
Image caption Sebuah perbatasan vertical digambar dari kutuh ke kutub, membagi dunia antara Spanyol dan Portugal (Sumber: Margarita Gokun Silver)

Selanjutnya, sebuah pertukaran diplomatis yang membingungkan terjadi antara Portugal dan Spanyol. Kedua pihak sama-sama tidak ingin perang, namun keduanya mengatur dan mempertahankan armadanya selama perundingan.

Di tengah perundingan pada September 1493, Colón pergi untuk perjalanan keduanya memastikan kedaulatan untuk membantu negosiasi.

Ia mengatakan ini dalam janjinya pada April 1494 ketika ia mengirim sebuah peta atas temuannya. Namun karena ia tidak tahu bahwa John II sudah menyepakati untuk melanjutkan pembagian secara horizontal, ia palsukan peta tersebut.

Ia menaikkan latitude dari Hispaniola (sekarang Haiti/Republik Dominika) -pulau yang ditemuinya dalam ekspedisi pertamanya- beberapa derajat ke utara, meletakkannya pada garis paralel dengan Canary Islands, dan hal ini memasitkan dominion Spanyol paska Perjanjian Alcáçovas-Toledo.

Saat peta Colón tiba, Portugis telah menyepakati pembagian vertikal. Lebih banyak mempertimbangkan supaya bisa berlayar ke Afrika, John II hanya meminta agar garis itu dipindah ke 370 leagus (1.185 mil) ke barat Cape Verde.

Di bawah perjanjian tersebut, Portugal mendapatkan semua bagian timur dari garis it -lokasi dimana Cape Verde dan Afrika berada- sementara teritori Spanyol luas di barat garis itu dan termasuk temuan Colón baru-baru ini.

Lantaran peta baru Colón tidak menunjukkan tanah koloni baru untuk demarkasi Portugis, Isabella dan Ferdinan menyutujuinya.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui bahwa garis baru melewati bagian atas Brasil, dan, membuat bagian timur dari negara itu menjadi bagian dari Portugal.

Pada 1500, navigator Portugis, Pedro Álvares Cabral menemukan itu dalam perjalanannya dan mengklaim wilayah itu untuk rajanya. Dalam beberapa abad sesudahnya, Portugal mengembangkan pengaruhnya di darat dan Brasil menjadi satu-satunya negara berbahasa Portugis di benua Amerika.

Hak atas foto Karol Kozlowski/Getty Images
Image caption Brasil menjadi satu-satunya negara berbahasa Portugis di Amerika (Sumber: karol Kozlowski/Getty Images)

"Untuk sebagian besar orang Brazil [sekarang], Perjanjian Tordesillas berarti sebuah deklarasi bahwa raja Portugis bisa menguasai tanah Barat yang 'tidak diketahui'," ujar Anna Paula Torres Megiani, Profesor Sejarah Iberia di Sâo Paolo. "[Namun itu juga] sebuah momen kunci sejarah untuk memahami hubungan dari dominasi dan hegemoni antara Eropa dan dunia."

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul The town that split the world in two di BBC Travel.

Berita terkait