Bahasa siulan Yunani yang menghilang

Yunani Hak atas foto Eliot Stein

Selama sekitar 2.500 tahun, para penduduk di desa pegunungan ini telah menggunakan bahasa yang menakjubkan yang hanya dipahami oleh mereka. Akan tetapi hanya tersisa enam orang yang 'berbicara' dengan bahasa itu.

Tersembunyi jauh di sudut tenggara pulau Evia di Yunani, di atas sebuah labirin jurang yang berputar-putar, yang menghujam ke Laut Aegea, desa kecil Antia menempel ke lereng Gunung Ochi.

Sedemikian terpencilnya, dusun tersebut nihil di Google Maps dan tidak ada hotel atau restoran dalam radius 40 kilometer.

Tetapi ketika Anda bepergian ke sini, di sepanjang jalan yang memusingkan dari Karystos, melalui lanskap mistis nisan megalitik "rumah naga" dan bongkahan batu raksasa Cyclopic, Anda akan mendengar siulan bergema di dinding-dinding gunung.

Hal itu karena selama ribuan tahun, para penduduk Antia telah menggunakan bahasa siul, yang menyerupai suara-suara burung untuk berkomunikasi melintasi lembah.

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Desa mungil Antia menempel di punggung Gunung Ochi, Pulau Evia, Yunani.

Dikenal sebagai sfyria, bahasa ini langka dan terancam punah di dunia - suatu bentuk komunikasi jarak jauh yang misterius di mana seluruh percakapan, tidak peduli betapa rumitnya, dapat disiulkan.

Selama dua milenium terakhir, satu-satunya orang yang telah mampu menyuarakan dan memahami catatan rahasia sfyria adalah para gembala dan petani dari dusun di lereng bukit ini, yang dengan sangat bangga menurunkan tradisi itu kepada anak-anak mereka.

Tetapi dalam beberapa dekade terakhir, populasi Antia telah menyusut dari 250 orang menjadi 37 jiwa dan saat penyiul yang lebih tua kehilangan gigi mereka, banyak yang tidak dapat lagi merekam nada tajam sfyria.

Sekarang ini, hanya ada enam orang di muka bumi ini yang masih dapat "berbicara" bahasa yang tidak diucapkan ini, dan salah satu dari mereka baru-baru ini mengundang saya ke Antia, sehingga saya dapat menemui para penyiul terakhir di Yunan.

Ketika saya tiba, Yiannis Apostolou, seorang petani berusia 45 tahun, menunggu di luar satu-satunya toko di desa itu. Setelah menyapa saya dengan bahasa Yunani, dia menatap ke jurang yang menghujam di bawah desa, menyelipkan lidahnya ke gigi bawahnya dan melontarkan melodi yang mengalun sampai ke jurang.

"Koula? Tsipas? Kita kedatangan tamu!" katanya menerjemahkan.

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Aristi Tsipas (kiri) pernah bersiul untuk keluarganya dari seberang lembah.

Tak lama kemudian, Koula, seorang perempun berusia 76 tahun muncul dari sebuah batu yang tinggi di lereng gunung. Dengan gigi palsunya, dia bersiul membalas, mengubah siulan bernada riang ini menjadi duet.

"Nah, tunggu apa lagi?" dia menanggapi, mengalahkan paduan suara lonceng-lonceng kambing. "Ayo ke sini!"

Ketika dua penduduk desa lainnya turun dari bukit untuk bergabung bersama kami, Apostolou bertanya apakah kami ingin minum. Dia kemudian bersiul sebaris melewati pintu toko yang terbuka.

Sesaat kemudian, sang pemilik, Maria Kefalas, keluar dengan sebotol air, dua cangkir teh dan segelas jus cherry visinada yang asam - menyusunnya dengan sempurna di meja depan kami.

Tidak seorang pun mengingat bagaimana tepatnya atau kapan para penduduk desa di sini menggunakan sfyria - berasal dari kata bahasa Yunani sfyrizo, yang artinya 'bersiul' - untuk berkomunikasi.

Beberapa penduduk berspekulasi bahwa bahasa itu berasal dari para tentara Persia, yang mencari para pengungsi di pegunungan sekitar 2.500 tahun yang lalu. Yang lainnya mengklaim bahwa bahasa itu dikembangkan selama masa Byzantine sebagai cara rahasia untuk memberi peringatan bahaya dari desa lawan dan perompak yang menyerang.

Bahkan ada yang meyakini bahwa di masa Athena kuno, mereka menempatkan para penyiul dari Antia di puncak-puncak gunung sebagai tentara penjaga sehingga mereka dapat mengirimkan tanda-tanda serangan mendadak terhadap kerajaan.

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Zografio Kalogirou berkata bahwa dia pernah menjadi penyiul terbaik di kota.

Hebatnya, sfyria baru ditemukan oleh dunia luar pada tahun 1969, ketika sebuah pesawat terbang jatuh di pegunungan di belakang Antia. Saat tim pencari pergi mencari pilot yang hilang, mereka mendengar para gembala saling melemparkan serangkaian nada melintasi ngarai dan merasa terpesona pada kode samar mereka.

Menurut Dimitra Hengen, seorang ahli bahasa Yunani yang menemani saya ke Antia, sfyria secara efektif merupakan versi siul dari bahasa lisan Yunani, di mana huruf-huruf dan suku kata-suku kata sesuai dengan nada dan frekuensi.

Karena gelombang suara siulan berbeda dengan ucapan, pesan dalam sfyria dapat menempuh jarak lebih dari empat kilometer melewati lembah yang terbuka atau kira-kira 10 kali lebih jauh daripada berteriak.

"Sebagai seorang gadis, saya akan berlatih sampai larut malam sambil menutupi kepala saya dengan selimut," kenang Zografio Kalogirou, seorang penduduk desa berusia 70 tahun dengan rambut yang memutih.

"Dulu saya bisa bersiul melewati puncak gunung ketika saya masih memiliki gigi. Saya dulu merasa bangga. Sekarang saya merasa malu. Yang bisa saya lakukan hanyalah makan."

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Selain para gembala dan petani di Antia, hanya sedikit orang yang dapat memahani pesan-pesan sfyria.

Bagi mereka yang memiliki gigi yang bagus atau implan modern, bentuk kuno dari komunikasi tanpa kabel ini sangat berguna selama bertahun-tahun di tempat yang sangat jauh seperti Antia.

"Jalanan, air dan listrik baru masuk ke sini 30 tahun yang lalu, dan masih belum ada layanan telepon seluler," kata Yiannis Tsipas, seorang pengembala kambing berusia 50 tahun dan merupakan penyiul termuda di desa itu setelah Apostolou.

"Sampai tahun 1997, Koula memiliki satu-satunya telepon di Antia, jadi ketika seseorang ingin pergi ke Athena, mereka akan menelponnya untuk mengatakan bahwa mereka telah tiba dengan selamat, dan dia akan menyiulkan berita tersebut pada keluarga."

Ketika saya menyesap visinada, wajah Kefalas bersinar saat dia bercerita bagaimana sfyria dapat juga digunakan untuk mengadili penduduk desa yang lain.

"Satu malam, seorang laki-laki berada di pegunungan dengan dombanya ketika salju turun. Dia mengetahui bahwa jauh di dalam pegunungan ada seorang gadis cantik dari Antia dengan kambing-kambingnya. Jadi dia menemukan sebuah gua, menyalakan api dan bersiul utuk mengajaknya menghangatkan diri. Gadis itu melakukannya, dan itulah bagaimana orang tua saya jatuh cinta."

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Yiannis Tsipas (kanan) berharap satu hari dapat mengajarkan sfyria kepada anaknya.

Saat ini ada 70 bahasa bersiul lainnya di dunia, dan semuanya ada di desa-desa pegunungan terpencil seperti Antia. Lagi pula, lebih mudah memajukan bibir Anda daripada pergi naik turun gunung setiap kali Anda ingin mengundang tetangga Anda menikmati segelas ouzo.

Sfyria tidak hanya diyakini lebih tua dan lebih terstruktur daripada bahasa bersiul lainnya, tapi juga lebih terancam punah. Bahkan, menurut Unesco Atlas of the World's Languages in Danger, tidak ada bahasa lain di Eropa - bersiul atau tidak - memiliki penutur hidup lebih sedikit daripada sfyria.

"Sebenarnya, bahasa siulan jauh lebih terancam daripada bahasa lisan karena jauh lebih sulit untuk diproduksi ulang," kata Hengen. "Kecuali sesuatu yang drastis berubah di sini, saya memperkirakan sfyria akan lenyap dalam waktu dekat, dan ini adalah sebuah tragedi."

Sementara banyak penyiul tua di sini yang telah meninggal atau kehilangan gigi mereka, orang-orang yang lebih muda telah pindah ke Athena. Dan sekarang, beberapa penutur terakhir Antia - seperti Apostolou - tidak lagi tinggal di desa.

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Panagiotis Skopelitis adalah salah satu dari hanya 37 orang yang tersisa di Antia.

"Saya mencoba bertahan sampai tahun lalu,tetapi tidak ada cara untuk mencari nafkah atau membesarkan keluarga di sini," katanya sambil menatap sekelompok rumah yang ditinggalkan dengan ayam jantan yang berkokok di atas atap. "Hari ini, hanya ada satu anak yang tinggal di sini."

Setelah berbunyi selama puluhan generasi, sfyria mungkin akan pudar ke kedalaman berkabut di bawah Gunung Ochi dengan dua orang Yiannis. Apostolou tidak memiliki anak, dan walaupun Tsipas berharap suatu hari bisa mengajar anaknya bahasa unik Antia, dia tinggal satu jam jauhnya dari sekolah terdekat.

"Ketika saya masih kecil, kami harus belajar sfyria dengan bahasa Yunani untuk bertahan hidup," kata Panagiotis Tzanavaris, seseorang bersuara lembut berusia 69 tahun dan penyiul terbaik Antia. "Ini cara hidup kita, dan jika hilang, begitu pula identitas budaya desa ini."

Jadi, pada tahun 2010, Tzanavaris memulai pencarian untuk menghidupkan kembali bahasa yang sekarat ini. Dia membentuk Organisasi Budaya Antia di gedung sekolah satu ruang yang sudah ditutup di desa tersebut.

Yunani Hak atas foto Eliot Stein
Image caption Banyak penduduk muda Antia yang pindah; Panagiotis Bournousouzis, 31, adalah penutur bahasa kuno desa yang termuda.

Tiga tahun yang lalu, dia menyambut sebuah tim ahli bahasa dari Universitas Harvard dan Yale untuk datang mencatat pesan-pesan penyiul untuk generasi mendatang. Tahun lalu, dia dan Apostolou ditampilkan dalam sebuah film dokumenter yang diputar di Metropolitan Museum of Art, New York. Dan yang paling baru, dia dengan ramah mengundang saya ke Antia.

Tzanavaris juga telah melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Dia mengajarkan seseorang dari kota lain tentang bagaimana cara bersiul sfyria. Setelah tujuh tahun pembelajaran, penutur termuda bahasa Antia kuno sekarang adalah seorang kurir berusia 31 tahun yang tinggal 40 km jauhnya di Karystos.

"Selama bertahun-tahun, orang-orang di Antia telah berbicara tentang bahasa yang lenyap," kata Tzanavaris pada saya. "Tapi dengan bantuan Anda, mungkin kita bisa mulai berbicara tentang bahasa yang bisa bertahan."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di Greece's disappearing whistled language dan artikel tentang perjalanan lainnya di BBC Travel.

Berita terkait