Sebuah kota di Belanda yang lebih menyerupai Dubai

Markthal, Rotterdam, Belanda. Hak atas foto EschCollection/Getty Images
Image caption Markthal, Rotterdam, Belanda.

Rotterdam bagi para pencinta arsitektur ibarat taman bermain Disneyland. Saat Anda mengunjunginya, Anda akan pulang sambil berpikir mengapa kota kita tidak bisa seperti itu.

Anda harus mengunjungi Rotterdam dengan kereta. Dengan begitu, saat meninggalkan stasiun kereta, Anda dapat jeda sejenak, seperti yang saya lakukan bulan lalu, meletakkan tas anda dan melihat ke belakang ke salah satu bangunan yang paling menyenangkan di seluruh dunia.

Itu adalah pusat transportasi dengan desain yang paling riang sejak arsitek Eero Saarinen merancang TWA Flight Center di Bandara Idlewild (yang kemudian dinamakan JFK). Stasiun Rotterdam menjulang, mengabaikan gravitasi, ibarat lompatan balet dalam balutan besi baja, kaca dan kayu.

Di kota lain, stasiun itu mungkin bisa menjadi pusat perhatian, atau anomali, seperti Museum Guggenheim di Bilbao atau Balai kota Toronto. Namun di Rotterdam, bangunan itu tampak pas.

Kota ini penuh dengan eksperimen liar, dapur uji arsitek Eropa: Dubai atau Doha pascaperang, namun dilakukan dengan lebih baik. Bukan dibangun dengan terburu-buru oleh sebuah generasi orang kaya yang berusaha membuat reputasi global.

Hak atas foto Walter Bibikow/Getty Images
Image caption Stasiun Rotterdam adalah salah satu harta di kota yangmenyenangkan secara arsitektur ini.

Rotterdam telah berkembang selama tiga perempat abad merespon kebutuhan masyarakat yang berkembang dan masa-masa yang dilewati.

Kota itu nyaman untuk ditinggali, untuk berjalan kaki dan untuk mengendarai sepeda. Namun pengelolaannya, seperti kota instan di Negara Teluk, untuk menciptakan kesan mendalam di setiap persimpangan jalan, bukan dengan dua atau tiga bangunan yang menonjol - sebuah Transamerica Pyramid di sini, sebuah Walt Disney Concert Hall di sana: tapi lusinan bangunan.

Namun tadinya tidak seperti ini.

Pada pukul 1:28 siang pada 14 Mei 1940, suara kawanan lebah berasal dari timur, terdengar di jalanan kota di Belanda itu. Itu adalah suara yang mereka takutkan selama ini. Dalam satu menit, kawanan lebah itu menuju kota kembar Amsterdam dengan kanalnya sendiri dan rumah-rumah kuno pipih yang terbuat dari kayu dan batu bata. Rotterdam tadinya adalah mesin industri Belanda dan pelabuhan terbesar di dunia.

Lima belas menit kemudian, kawanan itu kembali, meninggalkan kota dalam api yang membara selama enam hari hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk dibakar: 250 hektar, 25.000 rumah, 11.000 banguna komersial tertutup abu. Rotterdam pun lenyap.

Hampir hilang. Api kebakaran bahkan belum sepenuhnya padam saat pejabat kota bertemu pada 18 Mei untuk memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Meskipun dinding-dinding hampir semuanya sudah roboh, namun cukup untuk dibangun kembali. Itu adalah pilihan logis. Itu adalah pilihan yang mungkin dilakukan kota Coventry, Warsawa dan sejumlah kota Jerman akan ambil dalam beberapa tahun, untuk membangun kembali, sepotong demi sepotong, bangunan yang akurat secara historis, hingga seorang pengunjung pascaperang yang berjalan melewati jalanan sempit zaman pertengahan tidak akan tahu apa yang pernah terjadi.

Hak atas foto Keystone-France/Getty Images
Image caption Pada 1940, Rotterdam hanya tersisa asap dan reruntuhan oleh pembom Jerman.

Meskipun pasti ada sejumlah perdebatan dan permohonan untuk memulihkan kota abad ke-14 ini menjadi sesuatu yang bisa memberi rasa nyaman dan stabil bagi generasi selanjutnya, keputusan yang keluar dari pertemuan itu adalah meluluh-lantakkan semuanya dan memulai lagi dari nol. Perancang kota, Willem Witteveen, segera mengerjakan sebuah rancangan. Rotterdam akan akan menjadi kota yang baru, tapi monumental dan megah.

Kemudian sesuatu yang lebih menakjubkan terjadi.

Pada 1944, saat kota itu masih diduduki Jerman namun tanda akhir perang sudah terlihat, industrialis Cees van der Leeuw meminta untuk melangsungkan pertemuan lainnya, kali ini cukup rahasia, di ruang teh di atas pabrik kopi teh dan tembakau Van Nelle.

Pabrik itu adalah karya arsitektur modern kota yang pertama (Le Corbusier menyebutnya 'tontonan terindah era modern') dan cukup jauh dari pusat hingga tidak tersentuh oleh perang. Ada peluang, kata van der Leeuw.

Hak atas foto EMMANUEL DUNAND/AFP/Getty Images
Image caption Setelah hancurnya kota, para pejabat memutuskan mereka akan membangun Rotterdam dari nol.

"Para kapten industri ini berpikir, sebaiknya brsikap lebih fleksibel dibanding Witteveen," jelas sejarawan arsitektur Rotterdam Michelle Provoost, menunjukkan bahwa modernisasi yang dipengaruhi bisnis ini dimulai di kota bahkan sebelum perang, dengan bangunan seperti Café Unie (hancur dan telah dibangun kembali).

"Rancangannya dipandang terlalu ketat." Witteveen tidak berpikir cukup besar atau cukup modern bagi para pebisnis maupun penjajah Jerman, yang menyukai gagasan membangun sebuah kota baru sepenuhnya dari nol, yang terinspirasi oleh Reich (yang tidak pernah lepas dari tanah).

Van der Leeuw meyakinkan warga kota untuk memecat Witteveen dan mempekerjakan asistennya, Cornelis van Traa, untuk melakukan sesuatu yang lebih radikal. "Van Traa memperkenalkan sebuah kota dengan objek yang bebas mengalir," kata Provoost.

Inilah saat lahirnya Rotterdam yang baru - kota yang paling serius secara arsitektural, intens, menyenangkan, penuh kegembiraan di dunia.

Hak atas foto Geography Photos/Getty Images
Image caption Rotterdam seperti Disneyland bagi para pecinta arsitektur.

Selesai menatap Stasiun Rotterdam, masuklah salah satu trem ke stasiun Blaak untuk menikmati kota sepenuhnya.

Berjalan keluar dari bawah tenda stasiun bawah tanah yang menyerupai ekor merak, Anda akan melihat dua karya arsitektur dari akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Di sebelah kanan Anda adalah Kubuswoningen (1980-84) karya Piet Blom, 39 rumah kubus, masing-masing menyeimbangkan sudutnya di atas tangkainya sendiri, membuat sesuatu yang tampak seperti hutan beton.

Di sebelah kiri adalah Markthal (MVRDV, 2014), sebuah pasar berbentuk tapal kuda besar dengan apartemen dan kondominium yang dibangun di sisi-sisinya. Di dalamnya ada banyak barang untuk dibeli dan untuk dimakan (begitu banyak stroopwaffel).

Selain ikonik - bentuknya sederhana tapi sangat unik - ini adalah evolusi logis dari pasar kota tempat orang dapat bertemu, makan dan tinggal.

Tapi yang terbaik dari Rotterdam adalah apa yang Anda lihat di antara bangunan yang dipamerkan.

Kembali ke arah halte trem dan Anda akan melihat Blaak 8 (arsitek Grup A, 2012). Itu hanya gedung perkantoran. Tidak perlu sekeren itu, tapi lihatlah jendela trapesiumnya: bentuknya bergeser setiap beberapa lantai.

Dan di sebelah kanan Anda, gedung perkantoran lain, Blaak 31, terdapat sebuah restoran Italia di lantai dasar sebelum naik ke lantai tiga tanpa sebab tertentu.

Perusahaan pajak yang menempati sebagian besar bangunan itu baru saja mengumumkan bahwa mereka sedang membangun kantor pusat baru dalam bentuk jam pasir; sekali lagi, tidak ada sebab tertentu.

Biasanya saat melakukan perjalanan, saya memilih hotel berdasarkan lokasi, sejarah atau fasilitas. Di Rotterdam, saya memilih dengan alasan arsitekturnya.

Dalam perjalanan pertama saya beberapa tahun yang lalu, saya tinggal di Citizen M, bagian dari rantai hotel berdesain modern dan tidak memiliki banyak fasilitas. Yang ini, hotelnya rendah dan datar, terlihat seperti paduan antara gudang, sekolah dasar tahun 1970an dan kaki sofa merek Mies.

Kali ini di malam pertama saya menginap di Marriott di Millennium Tower (WZMH, 2000), sebuah kepatuhan yang terlambat untuk postmodernisme di sebelah Stasiun Rotterdam.

Malam kedua saya menginap di akomodasi terbaru di kota ini, sebuah hotel satu kamar bernama Wikkelboat. Ruang apung ini, ditambatkan di sebuah marina, terbuat dari 24 lapis karton kardus, lengkap dengan dek dan barbeque. Ruang ini mengapung di bawah Red Apple (KCAP, 2009), sebuah kompleks kantilever multi-guna yang dibuat dengan aluminium yang dilapisi anoda yang secara alami berubah warna merah seiring berjalannya waktu.

Hak atas foto EschCollection/Getty Images
Image caption Bentuk Markthal ini sederhana namun sangat unik.

Warga Rotterdam menyukai bangunannya seperti warga Santa Monica menyukai pantainya.

Ruang kafe terbaik di kota, lantai bawah bangunan bata Bauhaus pascaperang dengan cekungan sudut yang indah, disebut Dudok, berdasarkan nama arsiteknya. Hugh, sebuah bar dan klub malam di Modernist Hilton (1962), dinamakan berdasarkan Hugh Maaskant, arsitek utama kota ini pasca perang (yang juga merancang Euromast, menara besar di kota itu).

Rotterdam seperti Disneyland bagi para pecinta arsitektur. Tapi mungkin lebih menyenangkan lagi bagi kita semua, yang biasanya tidak menghiraukan bangunan tempat kita bekerja, bermain dan tinggal, dan yang pulang sambil bertanya-tanya mengapa kota kita tidak bisa agak seperti Rotterdam.


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini The Dutch City that's more like Dubai di BBC Travel

Berita terkait