Bagaimana sosis dan babi meresap ke dalam bahasa Jerman

german sausage Hak atas foto Michele Tantussi/Getty Images

Tak dapat dipungkiri bahwa daging babi benar-benar merasuk ke dalam jiwa orang Jerman, dengan cita rasanya yang meresap ke dalam obrolan keseharian.

Ketika saya terbangun suatu pagi pada langit kelabu yang mengguyurkan hujan di hari pernikahan saya, setiap orang punya ungkapan untuk mengomentari hal itu. Di ambang pernikahan di sebuah taman di pedesaan di utara Berlin, saya dengan cepat dikelilingi oleh orang-orang Jerman yang penuh itikad baik dengan berbagai pepatah dan peribahasa.

Salah satu yang paling sering muncul adalah pepatah klasik 'Viel Regen bringt viel Segen' atau 'banyak hujan membawa banyak berkah', yang menurut saya kurang terbukti dan lebih sekadar upaya menghibur seorang perempuan yang sebenarnya tidak dapat dihibur. Ayah mertua saya, bagaimanapun, hanya menatap saya dengan sedih, menggelengkan kepalanya dan berulang kali mengatakan 'Schweinewetter, Schweinewetter' ('Cuaca babi').

Mereka yang peduli dengan berapa banyak yang telah kami investasikan di hari besar kami mungkin membahas bagaimana saya akan menghabiskan 'Schweinegeld' ('uang babi' yang berarti banyak uang). Yang lain lagi, dalam upaya membuat saya bersemangat menyatakan, 'Alles hat ein Ende, nur die Wurst hat zwei' ('Semuanya akan berakhir di stautu ujung-, hanya sosis yang punya dua ujung').

Hak atas foto Guillaume Speurt/Flickr
Image caption Bahasa Jerman penuh dengan idiom yang berbicara tentang ketiadaan waktu dan nilai intrinsik dari produk daging mereka.

Di Jerman, para pendatang senang bercanda mengenai obsesi negara itu pada segala hal yang berbau sosis. Dan orang Jerman sendiri tidak keberatan. Bahkan, pidato mereka dipenuhi dengan referensi tentang Wurst (sosis); penuh ungkapan yang berbicara tentang nilai intrinsik dari produk daging mereka.

Seorang ilmuan dan penulis makanan asal Bonn, Irina Dumitrescu, merinci dalam esainya yang dicetak ulang pada tahun 2013 berjudul 'Currywurst', bahwa bahasa Jerman mungkin akan selalu memiliki pepatah bersosis yang sesuai untuk menjelaskan kejadian apa pun.

"'Das ist mir Wurscht' atau 'bagi saya itu sosis' adalah cara untuk mengekspresikan ketidaktertarikan, mungkin karena kedua ujung sosi itu kelihatannya dan rasanya sama saja. Namun kebalikannya, 'es geht um die Wurst' atau 'itu tentang sosis' memberi rasa urgensi: ini sangat penting sekarang. Seorang perempuan yang 'spielt die beleidigte Leberwurst' atau 'memainkan sosis hati yang dihina' adalah primadona dalam ketersinggungan; sementara seseorang yang hampir tidak bisa mencuri sosis dari piring - 'die Wurst vom Teller ziehen' - tidak mengesankan meski sudah berusaha keras."

Orang Jerman juga memiliki bahasa sehari-hari mengenai babi. Seperti halnya Schweinwetter, awalan 'schwein atau' sau ' (keduanya berarti babi) dapat digunakan sebagai penegas, dan mengatakan bahwa seseorang 'hat Schwein '(memiliki babi) berarti dia sangat beruntung. Saya pastinya perlu seekor babi yang beruntung atau 'Glücksschwein' pada hari pernikahan saya yang diguyur hujan itu.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Images
Image caption Setiap penduduk Bundesrepublik mengkonsumsi 52,1 kg per tahun

Statistik dari Bundesministerium für Ernährung und Landwirtschaft (Kementerian Nasional Pangan dan Pertanian) menunjukkan bahwa babi adalah binatang paling populer yang disantap di Jerman, dengan setiap penduduk Bundesrepublik mengkonsumsi 52,1 kg per tahun (sebaliknya, Independent melaporkan bahwa konsumsi unggas di Inggris meningkat sementara penjualan daging sapi dan babi terus menurun). Hanya saja, tak dapat dipungkiri bahwa daging babi akan benar-benar merasuk ke dalam jiwa orang Jerman, citarasanya meresap ke dalam bahasa sehari-hari. Kapan dan mengapa hal ini dimulai, tetaplah misteri.

"Gambaran tukang jagal di Jerman selalu menampilkan seorang pria gemuk yang memegang dua sosis di tangannya... sesosok kasar dan menggelikan," kata Hendrik Haase, yang telah mengabdikan dirinya untuk daging lokal berkualitas, dengan menulis buku tentang subjek ini, Crafted Meat; membuka warung daging Berlin dan restoran Kumpel & Keule; dan mendirikan The Butcher's Manifesto, yang dia sebut "klub rotary untuk tukang jagal".

Menggunakan humor untuk berurusan dengan subjek yang sensitif biasa dilakukan di Jerman, tapi ini terpusat pada bagaimana pendekatan orang Jerman terhadap banyak aspek kehidupan mereka. Mengapa kecenderungan karnivora mereka berbeda?

"Kami mencoba menghadapi kenyataan bahwa ada orang lain yang membunuh sesuatu untuk kami," Haase menambahkan, "bahwa ada hewan yang harus mati sehingga kita (bisa) makan sosis."

Hak atas foto TOBIAS SCHWARZ/GETTY IMAGES
Image caption "Ada hewan yang harus mati sehingga kita (bisa) makan sosis," kata Hendrik Haase

Teori lain berkaitan dengan fakta bahwa memiliki seekor babi tadinya berarti anda cukup kaya dan memiliki status tertentu. "Nenek saya punya dua ekor babi setiap tahunnya, yang dia buat sebagai sosis, karena bisa awet," kata Haase.

Ursula Heinzelmann, ahli makanan dan penulis Beyond Bratwurst: A History of Food in Germany, menjelaskannya sebagai perbedaan antara orang-orang yang bertani dan nomaden: "Budaya memelihara babi adalah pertanda bahwa masyarakat itu telah menetap dan tidak lagi nomaden. "

Hak atas foto Thomas Lohnes/Getty Images
Image caption Sosis selalu ada di menu di kedai bir atau Biergarten.

Makan sosis juga bisa membantu membentuk rasa persahabatan. Tidak ada institusi Jerman yang mempromosikan ini lebih baik dari warung minum bir atau Biergarten, tempat sosis selalu ada di menu. Di Jerman bahkan saat ini, makanan lebih sering bermakna ritual dan kumpul-kumpul, bukan sekadar tentang rasa.

Untuk berhemat, orang Jerman juga sering mementingkan harga murah dibanding rasa - dan harga dan rasa ini jarang bisa cocok seperti di Wurst yang sederhana. "Kami sudah tahu sejak lama bahwa (mengawetkan) paling baik dilakukan dengan memasukkan semua potongan kecil itu, termasuk jeroannya, ke dalam bungkusnya," jelas Heinzelmann. Itu bukan hal yang trlalu keren ataupun sempurna, namun mendefinisikan bagaimana menjadi seorang Jerman - ingin memanfaatkan setiap potongan terakhir dari babi berharga itu.

Terlebih lagi, tulis Neil MacGregor dalam bukunya Germany: Memories of a Nation, setiap bagian Jerman memiliki sosisnya sendiri: "Wurst, seperti bir, mendefinisikan kota dan wilayah Jerman, masing-masing sosis berbeda dengan ramuannya sendiri dan tradisi tertentu .... Peta Wurst di Jerman akan menjadi mosaik kompleksitas yang tidak dapat dibayangkan.

Maka bukan suatu kebetulan, sejumlah nama produk daging bisa lestari. Wieners, Frankfurter dan bahkan Hamburger yang sederhana hanyalah nama kota berbahasa Jerman, dan sebutan bagi penduduk kota-kota tersebut. Orang hampir bisa membayangkan lembutnya sosis kecil dari Wina (Wien) atau Frankfurt, dengan memecahkan kemasan sosis-sosis yang berasal dari tempat-tempat yang terkenal, dengan bangga. Mereka yang menyantapnya - mungkin menertawakan bahasa yang sarat dengan Wurst untuk memberi isyarat bahwa mereka berasal dari budaya yang berragam namun menyatukan ini - mungkin merasakan kebanggaan yang serupa saat mereka menenggak bir dan menggigit sosis yang dinamai dengan kampung halaman mereka.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Images
Image caption Neil MacGregor: "Wurst, seperti bir, mendefinisikan kota dan wilayah Jerman."

Kami sendiri tidak menyajikan Wurst pada pesta pernikahan kami, tapi sesuatu yang lebih baik; sesuatu yang saya anggap sangat Jerman, yang memberikan seluruh upacara, meski lembab dan berlumpur, sebuah sentuhan yang bernuansa era pertengahan: memanggang seekor babi hutan dan para tamu pun diundang untuk mencicipinya.

Mungkin itu adalah Glücksschwein yang kami butuhkan: Tujuh tahun kemudian, tidak ada yang mengingat cuacanya, tapi semua orang masih membicarakan makanannya.


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini How sausage flavours the German language di BBC Travel

Berita terkait