Sederet alasan Beijing menyandang status kota terbaik bagi ekspatriat

Beijing Hak atas foto Getty Images
Image caption Beijing yang terus bertransformasi menjadi kota modern menarik perhatian para pekerja asing untuk menetap dan berkarier.

Dengan investasi besar untuk sistem kecerdasan artifisial, akses terhadap teknologi terkini, dan energi perkotaan yang tiada tara, Beijing adalah salah satu kota paling atraktif di dunia.

Beijing mungkin mempunyai sejarah berusia 3000 tahun. Namun, ibu kota Cina ini melesat menjadi kota berbasis teknologi informasi paling modern di dunia.

Dengan koneksi internet yang cepat, akses terhadap teknologi terkini seperti piranti pembaca wajah, serta investasi besar untuk aplikasi kecerdasan artifisial dan energi terbarukan, Beijing merupakan salah satu kota paling menarik bagi wirausahawan global.

"Jika saya dapat meraih sukses di sana, tentu saya juga akan sukses di manapun," kata ekspatriat asal Jerman, Clemens Sehi, merujuk lirik berisi sanjungan Frank Sinatra untuk New York.

"Apabila Sinatra saat ini masih hidup, dia barangkali akan melantunkan sebuah tembang untuk kota seperti Beijing," ujarnya.

Sehi, yang bekerja sebagai direktur kreatif di Travellers Archive, menyebut bermukim di perkotaan berarti hidup dalam era baru dan selalu mengikuti perkembang terkini.

"Muncul suatu perasaan saat berada di tengah perubahan besar, yang sulit dicari penyebabnya, tapi membuat banyak ekspatriat bertahan di sebuah kota untuk waktu lama," tutur Simon Norton.

Norton adalah warga Inggris yang belum lama ini pindah ke Beijing dan membagi kisahnya secara daring di 4Corners7Seas.

"Para warga asing penasaran dan ingin berada di tempat itu ketika perkembangan kota itu berhasil," kata dia.

Mengapa Beijing dicintai?

Segala hal yang berjalan cepat di Beijing, akses internet yang berkualitas tinggi dan lingkungan ramah teknologi membuat keseharian di kota itu lebih mudah dijalani.

"Beijing secara kilat bertransformasi menjadi kota tanpa uang tunai, internet memindahkan fungsi konvensional dompet ke ponsel pintar, memudahkan warga kota melakukan banyak transaksi," kata Andy Penafuerte, ekspatriat asal Manila yang bekerja sebagai deputi editor di Beijing Kids.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Beijing merupakan salah satu kota yang atraktif bagi wirausahawan asing.

Faktanya, integrasi banyak urusan ke dalam ponsel pintar hanyalah ambisi awal Beijing. Piranti lunak pembaca wajah semakin kerap digunakan untuk keperluan transfer antarbank dan pembayaran lainnya.

Teknologi itu juga diterapkan di apartemen dan perkantoran serta untuk memverifikasi pengemudi layanan transportasi daring.

Beijing baru-baru ini juga mengumumkan rencana mereka membangun taman berbasis teknologi kecerdasan artifisial berbiaya 12,8 miliar yuan atau sekitar Rp2,8 trilun.

Taman itu diwacanakan untuk 400 usaha yang fokus mengembangkan aplikasi sepintar otak manusia, dari biometrik hingga penciptaan mobil tanpa sopir.

Meski teknologi terkini menarik minat orang asing, panganan ternyata juga dapat meluluhkan hati para pendatang dan memudahkan mereka mendapatkan teman yang berstatus warga lokal.

"Anda harus kenal laki-laki yang menjual dim sum di pojok pasar," kata Sehi. Dan cita rasa makanan khas Cina itu tidak tertandingi.

"Jiaozi, pangsit a la Cina, yang dijual pagi hari oleh pedagang kaki lima di antara stasiun dan apartemen saya selalu menggoda indera perasa saya," tutur Norton.

Makanan juga menjadi inti berbagai festival besar masyarakat Cina sepanjang tahun dan para ekspatriat merekomendasikannya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menikmati kuliner lokal bisa menjadi pintu masuk adaptasi ekspatriat dengan penduduk lokal.

Festival pada musim semi dan imlek, yang berlangsung beberapa hari di bulan Februari, adalah libur yang sangat vital dari sudut pandang ekonomi dan sosial.

Periode itu juga merupakan salah satu momen yang tepat bagi ekspatriat untuk melebur dengan masyarakat lokal. "Saya menyarankan mereka membantu penduduk setempat menyiapkan festival," ujar Sehi.

"Membersihkan apartemen pun sama pentingnya dengan mendekorasi pintu tempat tinggal menggunakan gulungan kertas merah. Ucapan selamat tahun baru biasanya ditulis di atas kertas itu," kata dia.

Pada malam tahun baru Cina, semua anggota keluarga berkumpul untuk menyantap makanan mewah.

Mereka lalu akan terjaga hingga tengah malam untuk saling memberi ucapan selamat tahun baru dengan kembang api yang berwarna-warni dan bersuara kencang.

Berada dalam perayaan itu dengan satu keluarga lokal merupakan awal adaptasi yang tepat bagi para ekspatriat.

Seperti apa rasanya menetap di Beijing?

Populasi ekspatriat di Beijing besar dan terus berkembang. Namun, bahasa Mandarin yang menjadi hambatan dan keengganan mereka untuk saling bersosialisasi menyebabkan integrasi ke budaya lokal sulit terwujud.

"Beberapa ekspatriat yang telah menetap di Cina selama bertahun-tahun, tapi mereka hampir tidak memiliki pengalaman sosial dengan negara itu," kata Sehi.

"Jika upaya awal untuk bersentuhan dengan warga Cina dapat dikatakan lebih dari gagal, anda pasti merasa lebih mudah menghabiskan waktu dengan orang-orang asing," tambahnya.

Dalam keseharian yang terisolasi dari masyarakat lokal, para orang asing itu tidak dapat terlepas dari komunitas mereka sendiri. Ekspatriat itu makan di restoran yang menyajikan makanan Barat dan berteman bukan dengan warga Cina.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perekonomian Cina bertumbuh 6,9% pada 2017. Kehidupan masyarakat Beijing pun tidak terlepas dari pusat perbelanjaan.

Cara paling sederhana untuk mengatasi situasi itu adalah menguasai sedikit bahasa Mandirin, yang tidak sesulit dipikirkan orang.

"Satu atau dua jam kursus privat bahasa Mandarin per pekan atau mendengar sandiwara radio lokal seharusnya dapat dilakukan di sela-sela kesibukan," ujar Sehi.

Ungkapan paling baku sekalipun, kata Sehi, dapat memudahkan para ekspatriat ketika berbelanja, memesan makanan di restoran, dan berbincang singkat dengan pengendara taksi.

Memahami dasar kultur sosial masyarakat Cina juga dapat berdampak positif bagi para ekspatriat, terutama tentang konsep guanxi dan mianzi.

"Guanxi adalah memelihara hubungan dengan warga lokal, sedangkan mianzi berarti menjamin reputasi mereka, dalam kata lain, tidak memalukan mereka dengan acara apapun," ujar Penafuerte.

"Orang-orang di negara Barat mungkin terbiasa berbiacara apa adanya. Di Cina, masyarakat menjaga nama baik mereka.

"Bersikap arogan dan membuat mereka tidak nyaman harus dihindari karena akan menjadikan anda sebagai bahan pembicaraan banyak orang," tutur Penafuerte.

Hal lain yang perlu diketahui

Salah satau kunci beradaptasi dengan budaya lokal adalah dengan tidak takut menjadi sedikit lebih agresif.

"Apabila anda tidak seperti itu, anda justru akan mendapat perlakuan yang cukup kasar," kata Mikey Wu, ekspatriat asal San Fransisco yang bekerja sebagai penulis blog di WuWuLife.

Saran itu berlaku di tempat pembelanjaan. "Tawar semua barang! Jika harga yang tercantum bukan harga pas, tawarlah," ujarnya.

"Harga yang tertera bukanlah harga faktual. Waswaslah terhadap barang yang akan anda beli karena 70% pengalaman, pembeli berupaya mengelabuimu," kata Wu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Memahami budaya Cina akan bermanfaat bagi para ekspatriat yang menetap di Beijing.

Tingkat polusi udara yang sulit diturunkan di Beijing juga persoalan yang harus dihadapi sehari-hari, meski pemerintah setempat telah berupaya mengendalikan persoalan ini beberapa tahun terakhir.

Warga lokal menekankan pentingnya keluar rumah di bulan-bulan saat cuaca hangat dan polusi lebih tipis.

Saran lain mereka adalah memanfaatkan momen langit biru itu untuk berkeliling di hutongs, pemukiman penduduk di sebuah gang yang legendaris, serta menjelajahi Taman Ritan, lokasi Kuil Matahari yang dibangun pada Dinasti Ming.

"Beijing adalah kota di Cina yang dapat dengan mudah dijelajahi," ucap Norton.

"Terdapat beragam lokasi seni dan musik yang menyenangkan, kehidupan malam yang atraktif, peninggalan masa lalu yang bersejarah, distrik bisnis modern, hingga pemukiman sempit yang reyot," tambahnya.


Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam judul Why Beijing is the best city for enterprising expatsdiBBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait