Bagaimana sebuah kota di Italia mengubah hidup saya

Hak atas foto Jessica Colley Clarke

"Di hari-hari pertama bulan madu, saya berjalan-jalan ke pusat kota Italia untuk menelusuri langkah Filomena, nenek buyut saya yang melewati jalan yang sama setelah pernikahannya, hampir 100 tahun silam."

Kemanapun saya pergi, saya menapaki jejak kakinya. Ia melangkah di atas bebatuan yang sama, melewati pemandian air panas peninggalan era Romawi, melewati gereja, sampai ke istana abad ke-15 di jantung kota. Ketika saya membayangkan dirinya, ia bukan lagi perempuan berumur dan berambut putih yang saya kenal dari masa kecil saya, namun seorang pengantin baru berumur 25 tahun dengan kehidupannya di masa depan.

Di hari-hari pertama bulan madu saya, saya berjalan-jalan ke pusat kota Italia untuk menelusuri langkah Filomena, nenek buyut saya yang melewati jalan yang sama setelah pernikahannya sendiri, hampir 100 tahun sebelumnya. Selama dua tahun terakhir, saya disibukkan dengan rencana pernikahan saya sehingga saya tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan apa artinya menikah. Namun berjalan-jalan ke kota tempat Filomena menjalani kehidupan pernikahannya selama 50 tahun tampak seperti awal yang bagus untuk sebuah permulaan.

kota di Italia Hak atas foto Jessica Colley Clarke
Image caption Sembari berbulan madu di Italia, pengarang Jessica Colley Clarke mengunjungki kota Vasto, tempat asal nenek buyutnya.

Filomena tumbuh besar di puncak bukit kota Vasto, di selatan wilayah Abruzzo, dengan panorama Laut Adriatik di kejauhan. Terletak di antara wilayah Marche dan Molise, wilayah Abruzzo agak terlupakan jika dibanding lokasi tempat wisata turis terkenal lainnya di Italia.

Dan tumbuh hingga dewasa di Vasto, sang nenek tidak pernah membayangkan seperti apa perjalanan hidupnya, dari keluarga kaya yang bahagia sampai kesengsaraan akibat perang dan penyakit.

Kisah keluarga saya, setahu saya, berawal dari Vasto. Begini ceritanya. Sang nenek, Filomena Smargiassi, melangkah turun dari kapal penumpang SS Argentina dan menjejakkan kaki di pulau Ellis di New York pada 1 September 1922, sembari menggendong bayi laki-lakinya. Namun setelah saya pergi ke Vasto, titik awal ceritanya beralih. Saya mulai menebak-nebak Filomena sebagai perempuan muda pemberani yang merencanakan kehidupan baru jauh dari rumahnya. Domenico, suaminya, sudah pergi terlebih dahulu untuk mencari pekerjaan sebagai tukang batu. Ia tidak punya keluarga sama sekali di Amerika Serikat, namun dia siap untuk naik kapal di Napoli dan berlayar ke tempat yang tidak diketahuinya.

Semacam kerelaan untuk menerima resko apapun yang terjadi, mengingatkan saya atas pilihan untuk menikah. Anda tidak harus mengetahui apa yang akan terjadi di masadatang, Anda hanya butuh untuk pergi.

New York's Ellis Island Hak atas foto Smith Collection/Gado/Getty Images
Image caption Filomena Smargiassi tiba di Ellis Island, New York dengan bayi laki-lakinya pada tahun 1922.

Vasto tidak masuk dalam daftar yang ingin saya kunjungi saat merencanakan bulan madu ke Italia. Saya kemudian memutuskan untuk mendatanginya setelah mengetahui bahwa Vasto tidak jauh dari rute perjalanan selama sebulan yang kami rencanakan, yaitu dari Roma sampai Puglia. Setelah kuliah di Italia, suami saya Peter bisa berbahasa Italia dan mampu menjadi penerjemah. Tapi, bagaimana saya bisa begitu dekat secara emosional dengan kota itu, padahal saya tidak pernah tahun dari mana Filomena berasal?

Ketika mencoba mencari tahu bagaimana membentuk dan menjalani status sebagai keluarga baru, saya pikir, masuk akal untuk menengok ke masa lalu. Jika saya tahu lebih banyak tentang tempat saya berasal, bukankah akan membantu saya agar mudah melangkah pergi?

Kendatipun dia meninggalkan Italia dan pindah ke AS pada umur 26 tahun, Filomena tidak pernah belajar berbicara bahasa Inggris dengan fasih. Yang terjadi kemudian, dia adalah sosok bayangan bagi saya, sosok yang hangat, tetapi saya semasa kanak-kanak nyaris tidak pernah mendengarkan kehidupannya selama di Italia. Dia hanya bekerja di rumah, membesarkan delapan anak dan memasak hasil kebunnya di halaman belakang rumahnya di New Jersey, dan sesekali kembali ke Vasto selama bertahun-tahun. Tetapi tetap saja, pada keluarga besar kami yang berlatar Italia dan Amerika, kota Vasto tetap tidak banyak diketahui. Hanya beberapa anggota keluarga yang pergi ke kampung halamannya.

Namun ketika sepupu saya mengetahui rencana saya untuk mengunjungi Vasto, dia mengirimi saya sebuah surel pendek: "Anda harus bertemu Maurizio!"

kota di Italia Hak atas foto Jessica Colley Clarke
Image caption Colley Clarke adalah satu dari sebagian kecil anggota keluarganya yang mengunjungi Vasto.

Saya tidak yakin jika keluarga saya masih memiliki kerabat di Abruzzo, namun sepupu saya akhir-akhir ini pergi ke Vasto dan bertemu dengan kerabat jauh. Seorang arsitek dan penikmat sejarah lokal, Maurizio, yang terdengar seperti pemandu yang ideal. Setelah mengirim beberapa email, saya beruntung: meskipun kotanya sedang dipadati turin untuk liburan musim panas, dia sedang berada di Vasto dan bersedia memandu saya dan suami baru saya.

Kami sepakat untuk bertemu di depan hotel kami di pusat kota Vasto yang bersejarah, sebuah lokasi yang dipenuhi bangunan peninggalan abad ke-12 hingga 18. Saya mengamati setiap orang yang lalu-lalang untuk mengetahui i ciri-ciri keluarga: bentuk wajah atau cara berjalannya. Walaupun saya belum pernah melihat fotonya, saya mengenali Maurizio segera saat dia melenggang - sesuatu yang sangat khas keluarga besar nenek kami, Smargiassi. Dia memiliki tinggi badan yang sama, ramping seperti kakek saya, dan bentuk tulang belakang yang sama

Di Via Bucci, Maurizio menunjukkan rumah yang terbuat dari batu, tempat Filomena lahir. Rumah itu memiliki pintu kayu yang berat dan balkon besi tempa dengan pintu kaca dan daun jendela yang dapat ditutup untuk menjauhkan panas di tengah hari. Saya membayangkan Filomena kecil berdiri di balkon itu, namun foto ulang tahun pernikahannya yang ke 50 tahun justru yang muncul di benak saya. Mengingat foto ini, keputusan saya baru-baru ini merayap dan menguasai pikiran saya.

Saya memang mungkin telah menikah di Dublin, kota asal suami saya, namun konsep saya tentang pernikahan mulai memadat dan menggumpal di Vasto.

kota di Italia Hak atas foto Jessica Colley Clarke
Image caption Kota Vasto dikenal dengan pusat abad pertengahannya dengan pemandangan Laut Adriatik di kejauhan.

Selanjutnya, kami berdiri di depan gereja tempat Filomena dan Domenico menikah. Ketika dia mencium pengantin pria di pintu yang melengkung, mungkinkah dia sudah membayangkan kehadiran 18 cucu dan mengirim seorang putranya untuk kembali ke Eropa untuk bertempur selama Perang Dunia II?

Di tepi jurang tidak jauh dari rumah Filomena, kami mencoba menerjemahkan kata 'la frana'. Setelah menggunakan beberapa bahasa isyarat dan Google Translate, kata 'longsor' muncul. Pada tahun 1956, bagian timur kota, tempat salah satu distrik tertua, runtuh ke dalam jurang saat longsor. Bagian dari tempat Filomena dibesarkan benar-benar luluh-lantak setelah kepergiannya. Ketika dia kembali untuk berkunjung dan berdiri di ujung jurang, dia melihat panorama yang berbeda dari yang dia tinggalkan dulu; bahkan hal-hal yang kita harapkan untuk tetap menjadi kekal tidak selalu berakhir demikian.

Maurizio tidak ingin jika kami hanya melihat kota semata, dia ingin kami melihat hal-hal yang membentuk warga Vato alias Vastesi. Karena kota itu pernah menjadi pelabuhan Romawi, rasanya kunjungan kami tidak akan lengkap tanpa pergi ke laut. Ia membawa kami ke Mercusuar Punta Penna, yang dibangun pada tahun 1906, sekaligus mercusuar nomor dua tertinggi di Italia. Lalu kami menaiki tangga goyah menuju sebuah trabocco tradisional, dermaga kayu kecil di atas panggung yang secara tradisional digunakan untuk menangkap ikan. Saya bertanya-tanya apakah Filomena memilih untuk tinggal di Pantai Timur AS agar dekat dengan laut, seperti di desa asalnya.

kota di Italia Hak atas foto Jessica Colley Clarke
Image caption Jessica Colley Clarke: "Saya memang mungkin telah menikah di Dublin… namun konsep saya tentang pernikahan mulai memadat di Vasto."

Selama kami di Vasto, suami saya tertawa saat mendengar kelakar Maurizio, kemudian dia menerjemahkannya dan membuat saya dapat berkomunikasi dengan kerabat saya - walaupun saya tidak mengerti bahasanya. Ketika mereka berbincang dalam bahasa Italia, saya menyadari bahwa saya belum pernah memilih seseorang untuk membentuk sebuah keluarga. Cincin yang melingkar di jari saya pada bulan Juni nan panas ini seperti berujar: itulah sosoknya, Peter.

Selama beberapa hari menapaki jejak Filomena, dan mengetahui segala perubahan yang tak terduga selama lima dekade pernikahannya, membuat Anda tidak akan pernah bisa merencanakan hidup tanpa ketidakpastian. Longsor menyapu habis kota dan runtuh ke dalam jurang dan terkadang jala melompong tanpa sekeor ikan pun.

Setelah Vasto, saya tidak ingin lagi mengetahui bagaimana garis besar hidup saya di masa depan. Jika kecemasan seperti itu muncul kembali dan membayangi, mulai sekarang saya akan memikirkan Filomena di dek kapal uap, meski tidak seratus persen yakin, namun tetap bergerak maju.

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di How an Italian town changed me di BBC Travel.

Berita terkait