Tebing batu di Skotlandia yang mengubah pemahaman kita tentang waktu

Hak atas foto John Van Hoesen

Tebing batu di wilayah terpencil di Skotlandia telah menginspirasi kesadaran bahwa Bumi berumur jutaan tahun - sekaligusmengilhami Charles Darwin dengan teori evolusinya.

"Tidak jauh lagi, di tikungan berikutnya" ujar Jim, pemandu saya ketika perahu kami meluncur di Laut Utara yang bergelombang.

Saya tetap tidak nyaman dengan penjelasannya. Tetapi walau diombang-ambingkan ombak, saya mencoba meyakinkan diri bahwa perjalanan sulit ini setimpal dengan tujuan perjalanan kami.

Ya, kami tengah menelusuri kembali perjalanan berumur 230 tahun yang telah mengubah cara pandang umat manusia terhadap sejarah Bumi untuk selama-lamanya - dan bahkan terhadap waktu itu sendiri.

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Siccar Point adalah salah satu situs geologis yang terpenting di dunia - namun hal ini membutuhkan seorang petani berumur 62 tahun untuk menemukan maknanya.

Siccar Point adalah tujuan kami. Saya pernah mengunjunginya, tetapi dengan berjalan kaki. Berdiri angkuh di puncak tebing, dan memakan sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan (serta berjalan kaki di tepi pantai) di timur Edinburgh, saya merasa seperti berada di sebuah perbatasan. Jauh dibawah saya, tampak serpihan batu kelabu yang menghunjam ke dasar laut yang berbuih. Namun di puncak tebing, batuan itu berwarna kemerahan.

Namun untuk benar-benar merasakan ketakjuban terhadap keajaiban Siccar Point, yang barangkali merupakan situs geologi tersohor di dunia, Anda harus melihatnya dari atas kapal.

Tiba-tiba Jim menepuk pundak saya. "Di depan sana," tunjuknya. Semakin kami mendekat, saya mulai melihat lapisan ceruk-ceruk dari singkapan bebatuan itu. Dan makin mendekati tebing itu, semakin terlihat ketidakselarasan antara lapisan vertikal batuan bagian bawah tebing dengan lapisan horisontal batu pasir di atasnya.

Kembali ke tahun 1788, hanya segelitir orang yang dapat memahami arti penting dari perbedaan bebatuan itu. Salah-seorang yang diantaranya adalah seorang pemikir abad Pencerahan - petani berumur 62 tahun bernama James Hutton yang mengelilingi Siccar Point lebih dari dua abad yang lalu - yang kemudian menyadari bahwa ketidakselarasan batuan itu membuktikan usia bumi yang jauh lebih tua ketimbang perkiraan sebelumnya.

Sebelum Hutton memikirkan batuan di pinggir laut itu, Siccar Point merupakan situs penting mengenai sejarah dan ilmu bumi. Lebih dari 1,000 tahun sebelumnya, orang Inggris kuno membangun benteng di atas bukit untuk menghalau penjajah dari wilayah selatan. Tapi tak seorang pun menyadari bagaimana Siccar Point menggambarkan cerita dari Bumi itu sendiri.

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Jauh sebelum James Hutton, Siccar Point merupakan situs penting mengenai sejarah.

Bahkan, masyarakat pada abad ke-18 masih percaya bahwa Bumi berumur antara 4,000 sampai 10,000 tahun, yang didasarkan tafsir atas Kitab Suci. Namun Hutton meyakini Bumi jauh lebih tua. Keyakinan inilah kelak mengubah jalannya sains.

Seperti para ilmuwan Pencerahan abad ke-18 asal Skotlandia, seperti ekonom Adam Smith, filsuf David Hume dan penyair Robert Burns, Hutton adalah seorang polimatik - seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang. Lahir pada tahun 1726, saat berumur 14 tahun, dia mendalami sejarah, bahasa, peradaban Yunani dan Romawi di Universitas Edinburgh. Dan pada usia 23 tahun, dia meraih gelar dokter di Universitas Leiden, Belanda, tetapi dia lebih berminat pada kimia. Beberapa tahun kemudian, Hutton menemukan cara untuk mengisolasi amonium klorida dari jelaga. Dia lantas memulai bisnis dengan mendirikan perusahaan kimia di Edinburgh sehingga dia hidup berkecukupan.

Namun demikian di tengah-tengah kesuksesannya, kehidupan pribadi Hutton menjadi sorotan publik. Menjadi ayah dari anak dari hubungan di luar nikah, dia sepertinya menjalani kehidupan yang tidak mempedulikan norma-norma kalangan bangsawan yang berlaku saat itu.

Dari situasi seperti itulah, Hutton kemudian memutuskan pindah ke kawasan pertanian - yang tanahnya diwariskan oleh ayahnya -di dekat perbatasan Skotlandia-Inggris. Pilihan ini membuatnya tertarik pada masalah pertanian yang kelak disebutnya sebagai "studi tentang hidup saya". Dan, dunia pertanian akhirnya mengubah orientasi berpikirnya untuk menitikberatkan pada proses terbentuknya Bumi - dan berapa umur Bumi itu sendiri.

"Salah satu kesulitan yang dia hadapi adalah seringnya terjadi tanah longsor," kata Colin Campbell, pimpinan lembaga penelitian The James Hutton Institute. "Cukup lama dia memikirkan cara agar tanah tidak longsor dan bagaimana menghentikan longsoran tanah itu masuk ke sungai saat hujan badai. Namun dia mulai menyadari bahwa ada proses pembaruan. Saat tanah terbawa hujan badai, tanah baru akan terbentuk pada akhirnya, dan siklus memakan waktu yang lama."

Hutton mulai memahami bahwa tanah dibentuk melalui proses bertahap yang berlangsung sangat lama - melebihi ribuan tahun. Dan, setelah melakukan penelitian selama beberapa dekade, sehingga terbentuk pemikiran yang utuh, dia menyampaikan temuannya pada 1785 di hadapan sekelompok kecil akademisi yang terdiri para filsuf di Royal Society of Edinburgh.

Temuannya itu diterima dengan baik. Namun untuk meyakinkan lebih banyak orang, Hutton menyadari dia membutuhkan banyak bukti.

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Hutton menemukan ilustrasi ideal tentang sejarah Bumi di Siccar Point.

Dia berangkat mengelilingi Skotlandia mencari lanskap dengan persimpangan yang jelas tanpa cacat, yang diyakininya dapat menunjukkan jarak waktu antara perbedaan penampakan geologis. Semakin tidakselaras secara visual, semakin mudah untuk melihat bahwa penampakan ini tercipta secara terpisah dalam periode waktu yang sangat panjang, bahkan jutaan tahun.

Tidak lama setelah Hutton memperhatikan Siccar Point, dia tahu bahwa dia telah menemukan apa yang dicari. Filsuf dan ahli matematika John Playfair, yang menjadi rekannya pada hari itu, kemudian menggambarkan momen tersebut: "Pikiran seperti gamang saat melihat jauh ke belakang ke dalam jurang waktu."

Firasat Hutton benar. Hari ini kita mengetahui batuan laut greywacke terbentuk sekitar 435 juta tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, lumpur-lumpur pada dasar laut mengeras, miring secara vertikal, terangkat ke atas dan perlahan terkikis sehingga terungkap lapisannya.

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Greywacke di Siccar Point terbentuk pada 435 juta tahun yang lalu.

Tetapi proses itu terjadi 65 juta tahun lalu sebelum batu pasir itu terbentuk. Hal ini terjadi pada periode iklim yang sangat berbeda, ketika Skotlandia merupakan wilayah tropis yang terletak tepat di sebelah selatan khatulistiwa. Sungai-sungai di musim hujan perlahan menimbun pasir gurun di atas batu greywacke, dan seiring berjalannya waktu kemudian menyatu menjadi batuan.

"Hutton menyadari bahwa pembentukan dan pergerakan bebatuan ini membentuk garis pantai yang kita lihat di Siccar Point ini tidak terjadi akibat bencana mendadak," kata Iain Stewart, ahli geologi di Universitas Plymouth. "Da memahami konsep tentang waktu yang sangat lama: bahwa Anda membutuhkan puluhan juta tahun untuk menghasilkan perubahan besar pada planet ini. Hal ini digambarkan secara sempurna oleh ketidakselarasan antara lapisan batuan samudra dan terestrial ini.

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Batuan pasir di tebing ini terbentuk 65 juta tahun setelah pembentukan greywacke.

Ide-ide Hutton mulai banyak dikenal pada awal Abad ke-19 setelah Playfair menerbitkan bukunya yang berjudul Illustrations of the Huttonian Theory of the Earth pada tahun 1802, meringkas teori milik temannya tersebut. Termasuk ilustrasi tentang Siccar Point.

Beberapa dekade kemudian, ahli geologi Sir Charles Lyell menulis apa yang kemudian dikenal sebagai terobosan tiga jilid Principles of Geology, membawa ide-ide Hutton yang revolusioner kepada masyarakat umum dan mengenalkan teorinya bahwa Bumi terbentuk dalam waktu yang terus bersiklus secara tidak terbatas.

"Hutton sendiri, sepanjang hidupnya, dikenal karena ia memberikan pembahasan yang tidak dapat dibantah," kata Stewart. "Kebanyakan dari tulisan-tulisannya juga tidak bisa ditembus. Namun bagi Playfair dan kemudian Lyell, logika pemikirannya cukup menarik, dan kemudian memainkan peran utama saat mempopulerkannya dan mendapat pengakuan orang-orang untuk menerima pendapatnya."

Ide-ide tersebut sangat mempengaruhi Charles Darwin muda, dan menyediakan pijakan dasar bagi pemikirannya yang kelak akhirnya menghasilkan Teori Evolusi.

"Jika anda percaya bahwa bumi hanya berumur 4,000 tahun, tidak akan ada banyak waktu untuk seleksi alamiah dan evolusi," jelas Campbell.

"Tetapi jika Anda percaya bahwa bumi ini berumur jutaan tahun, hal itu memberikan sebanyak mungkin waktu yang anda butuhkan untuk evolusi. Inilah mengapa Hutton benar-benar memiliki pengaruh yang besar terhadap cara berpikir masyarakat pada sekian abad yang akan datang."

Hutton sendiri tidak sempat menyaksikan warisan yang terilhami oleh ide-idenya. Dia meninggal pada umur 70, tahun 1797, sembilan tahun setelah kunjungannya ke Siccar Point. Anehnya, bagi salah seorang ilmuwan terbesar Skotlandia, kematiannya nyaris tidak diperingati dan dia dimakamkan di makam tanpa nisan. Baru 100 tahun kemudian sekelompok ahli geologi menggalang dana untuk memberikan batu nisan pada makamnya.

"Tak ada seorangpun yang tahu mengapa hal ini terjadi," kata Campbell. "Mungkin saja ada beberapa alasan - ia tidak menikah, anaknya tidak sah. Beberapa orang mengatakan ia pemabuk dan hidung belang, namun mungkin saja hal itu hanyalah sebuah mitos. Terlepas dari kejeniusannya secara ilmiah, ada banyak sejarah pribadi yang tidak dapat dijelaskan terkait Hutton."

batu karang Hak atas foto John Van Hoesen
Image caption Hutton tidak sempat menyaksikan warisan yang ditinggalkannya, namun ide-idenya mengubah persepsi kami terhadap waktu itu sendiri.

Akan tetapi, selama beberapa dekade, ide-ide Hutton telah menginspirasi kelahiran budaya populer dan diterima secara luas, bahkan oleh kalangan gereja di Inggris.

Sebagian besar dari hal ini bukan hanya untuk Hutton, tetapi untuk situs geologi Siccar Point itu sendiri.

"It's such a massive, obvious contrast in terms of not just the angle but the colour of the rocks, and that leaves absolutely no room for anyone to argue about it," Campbell said. "It so neatly summarises all of Hutton's theories in one big way, and I think that's one of the reasons why it's so significant."

"Penampakan di Siccar Point ini jelas menunjukkan ketidakselarasan, tak hanya soal sudut-sudutnya tetapi juga warna bebatuan, juga hasil penelitiannya di lokasi ini tidak memberikan ruang perdebatan sama-sekali," kata Campbell.

"Inilah yang menjadi alasan mengapa teori James Hutton menjadi sangat penting."

Anda bisa membaca artikel aslinya How siccar point changed our understanding of earth history atau artikel lainnya dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait