Taman di Israel yang memiliki rahasia yang berharga

Israel Hak atas foto Sara Toth Stub
Image caption Selama berabad-abad, ribuan tambang dan terowongan digali di bawah lahan yang saat ini dikenal sebagai Taman Nasional Timna.

Banyak orang mengunjungi Taman Nasional Timna di Israel untuk mengagumi formasi bebatuannya, namun cerita utuh mengenai tempat ini hanya dapat dinikmati dengan menjelajahi bawah tanah.

Di Gurun Negev, Israel, sebuah jalan kecil mengarah ke lembah yang dikelilingi tebing berwarna merah, ungu dan coklat. Lembah yang merupakan bagian dari Taman Nasional Timma ini terkenal dengan lanskap bergerigi yang dibentuk oleh angin dan air selama ribuan tahun.

Turis dan ahli geologi juga suka berkunjung ke sini untuk mengagumi formasi batu yang berbentuk seperti jamur raksasa, pilar yang elegan dan lengkungan halus.

Hari beranjak siang ketika saya bertolak melakukan pendakian singkat. Matahari sudah mulai terik. Dari sebuah jalan setapak di dekat taman yang terkenal dengan formasi batu karang berwarna, yang disebut sebagai Busur, saya memanjat sebuah bukit kecil dan dalam waktu 10 menit berdiri di atas sebuah dataran tinggi.

Dari atas sini saya dapat melihat medan yang terjal, dengan tebing di atas dan ngarai di bawahnya.

Pemandangan di sini luar biasa. Namu, cerita lengkap mengenai tempat ini - dan alasan mengapa orang berbondong-bondong ke lanskap yang keras dalam masa prasejarah - hanya dapat dinikmati dengan mengarah ke bawah tanah.

Hak atas foto Sara Toth Stub
Image caption Taman Nasional Timna di Israel terkenal dengan lanskap yang bergerigi dan formasi.

Taman Nasional Timna pernah menjadi pusat produksi logam pada zaman kuno. Di sini, ribuan lubang tambang dan terowongan digunakan untuk memanen tembaga yang menempel di bebatuan.

Bercak tembaga hijau dan biru terlihat pada jalan kerikil ketika saya menuju ke tambang tertua di taman, yang digali sejak 4500 Sebelum Masehi.

Pegangan logam membantu pengunjung menuruni lereng yang curam untuk memasuki tambang, sebuah lorong yang sempit dengan atap yang rendah sehingga saya harus merangkak menggunakan tangan dan lutut saya agar kepala saya tidak terbentur.

Pancaran cahaya bersinar ke dalam terowongan dari lubang yang terbuat dari erosi selama bertahun-tahun, mengekspos guratan vertikal pada tembok yang ditorehkan hasil peralatan batu yang digunakan untuk mengukir rongga Bumi.

"[Penambang] bekerja dalam kondisi sulit di gurun, sebuah tempat tanpa air dan benar-benar tanpa apapun," kata Dr Erez Ben-Yosef, profesor arkeologi di Universitas Tel Aviv dan direktur Central Timna Valley Project, sebuah proyek riset antar disiplin ilmu mengenai sejarah produksi tembaga di wilayah tersebut.

Tambang ini, dan lainnya di wilayah ini, mengikuti lapisan horizontal berwarna pirus dari tembaga yang melintas di dataran bagian selatan Laut Mati di wilayah Israel dan Yordania.

Ribuan tahun yang lalu, para penambang memahat bijih tembaga ini, membawanya keluar tambang, kemudian memanaskannya untuk mendapatkan logam berkilau yang digunakan untuk membuat manik-manik, liontin, dan aksesoris lainnya.

Itu adalah salah satu contoh paling awal bagaimana orang mendapatkan logam dari batu, kata Dr Ben-Yosef. Berkat iklim yang kering, Timna merupakan salah satu tambang kuno yang terawat dengan baik.

"Anda dapat melihat apa saja. Anda dapat menyentuh peninggalan 3.000 dan 4.000 tahun lalu di Timna," tambah dia.

Hak atas foto Sara Toth Stub
Image caption Tambang tembaga tertua di Taman Nasional Timna sejak 4500 SM.

Di samping tambang seperti ini serta beberapa alat kikir dan tumpukan batu yang tersisa dari proses peleburan, para petambang pada masa awal tidak meninggalkan banyak hal.

"Kami mengetahui sedikit mengenai penambang pertama ini," kata Dr Ben-Yosef. "Kami tidak mengetahui nama mereka. Kami hanya mengetahui bahwa mereka merupakan orang lokal yang bekerja dengan peralatan batu yang sederhana."

Gua-gua dan lubang di sepanjang Taman Nasional Timna mengungkapkan sejarah tambang ribuan tahun. Bukti-bukti yang ditemukan menunjukkan kaitan antara tambang-tambang ini dan Kerajaan Baru era Mesir Kuno, yang muncul dari abad 16 sampai awal abad ke-11 SM.

Tembaga dari sini memperkaya sejumlah Firaun Ramses yang menggunakannya untuk berbagai barang, dari senjata sampai perhiasan. Bagaimanapun, bukti lebih lanjut menunjukkan bahwa tambang di sini mencapai puncaknya beberapa ratus tahun kemudian.

Penanggalan radiokarbon dengan resolusi tinggi terhadap biji dan bahan organik lain yang ditingggalkan di kamp kerja para penambang mengindikasikan bahwa tambang-tambang itu aktif pada abad ke-11 dan 9 SM, bersandar pada teori bahwa Timna merupakan sumber tembaga untuk kuil Raja Salomo di Yerusalem.

Selama ini para ahli berasumsi bahwa kerja kasar dilakukan oleh para budak. Namun penemuan arkeologi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kain-kain berkualitas tinggi yang diawetkan oleh iklim kering, mengindikasikan bahwa para pekerja logam digaji bukanlah diperbudak.

Sisa tulang domba, kambing, juga biji zaitun menunjukkan bahwa para pekerja mengkonsumsi sebuah menu makanan sangat beragam yang tidak biasanya ditemukan di gurun.

Hak atas foto Sara Toth Stub
Image caption Tulisan dan tanda lain yang ditinggalkan oleh para penambang tua masih terlihat di tembok batu.

Pada masa itu, masyarakat telah mempelajari bagaimana membentuk tembaga yang ditemukan di tambang-tambang Timna menjadi perangkat dan senjata, dan bagaimana mencampurnya dengan bahan timah untuk membuat perunggu, sebuah material yang lebih kuat.

Bukti pengerjaan logam ini dipamerkan di museum di seluruh dunia. Museum Erets Israel di Tel Aviv memiliki koleksi artefak terbesar dari Timna, termasuk pahat tembaga yang digunakan untuk tambang dan sebuah ular perunggu yang ditemukan di sebuah kuil lokal.

"Ketika Anda melihat benda-benda yang mereka buat, Anda memahami mengapa semua pekerjaan di tambang berarti," jelas Dr Ben Yosef.

Tambang dapat diakses selama jam buka taman tanpa pemandu atau rencana sebelumnya. Saya merasa lega sampai di tujuan akhir dan pada saat bersamaan gua menjadi tempat sejuk, jauh dari cuaca panas. Mendaki tangga kembali ke permukaan gurun pasir, rasanya menyenangkan untuk berdiri tegak kembali.

Saya melanjutkan perjalanan untuk melongok terowongan tambang yang berusia hampir 3.000 tahun, melihat sekilas ceruk-ceruk yang dibuat para penambang ketika mereka mendaki masuk dan keluar.

Menelusuru gurun pasir yang kering lebih jauh, pintu masuk ke puluhan tambang tampak seperti moncong berwarna pirus di sepanjang tembok berbatu.

Di sekeliling saya, pegunungan yang berwarna-warni tampak seperti menjangkau matahari padang pasir yang terik. Lanskapnya menganggumkan, namun tidak semenarik yang ditinggalkan para penambang di masa lalu.

Anda bisa membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris dalam The Israeli park with a valuable secret atau artikel lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait