Lima negara yang terbaik untuk para pengusaha

Jerman Hak atas foto Francesco Iacobelli/Getty Images
Image caption Jerman merupakan negara terbaik untuk pengusaha, menurut U.S. News & World Report

Memulai sebuah bisnis di manapun membutuhkan ketabahan, tekad, dan gagasan yang dapat dipasarkan, namun ada sejumlah negarayang membuat perusahaan-perusahaan perintis lebih mudah maju dan melesat.

U.S. News dan World Report baru-baru ini membuat peringkat negara-negara terbaik bagi pengusaha berdasarkan pada beberapa faktor, antara lain keterhubungan dengan bagian dunia lain, ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, pembangunan infrastuktur, kerangka hukum yang baik, dan akses yang mudah ke ibukota.

Untuk mengetahui apa yang membuat negara-negara teratas ini jempolan bagi perusahaan baru untuk mendapatkan kesuksesan, kami berbicara dengan para pengusaha di setiap negara tersebut untuk mengetahui apa manfaat bisnis yang ditawarkan di sana dan mengapa mereka senang tinggal di negeri itu.

Jerman

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar ke-empat di dunia dan terbesar di Eropa, paduan budaya transparansi bisnis, tenaga kerja berpendidikan tinggi dan kebijakan yang ramah bagi perusahaan baru melesatkan Jerman di puncak indeks ini.

"Jerman memiliki standar tinggi dalam budaya bisnis ketika berkaitan dengan etik, hukum dan regulasi," jelas Irina Graf, yang mengelola perusahaan manajemen acara The MICE blog dan baru-baru ini memindahkan perusahaannya dari Inggris ke Jerman.

Pemerintah juga mendorong agar usaha baru lebih mudah dikembangkan. "Benar-benar mudah untuk membangun bisnis di Jerman. Ibaratnya, saya keluarkan 20 euro (Rp330.000), dan bam!: saya langsung memiliki sebuah usaha bisnis," kata Guy Arthur, yang mendirikan Guy Arthur School of English di Stuttgart.

"Pemerintah mengizinkan berbagai penghapusan biaya dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan bisnis, dan klien di sini tampak loyal sepanjang Anda memberikan layanan kualitas tinggi pada mereka."

Hak atas foto Joe daniel price/Getty Images
Image caption Jerman memiliki beberapa pusat bisnis, termasuk Berlin, Hamburg, Frankfurt (foto) dan Munich.

Tak seperti negara lain (seperti Inggris) yang ekonominya berpusat pada satu kota, Jerman memiliki banyak pusat bisnis besar, seperti Berlin, Frankfurt, Muenchen dan Hamburg.

Ini sangat penting ketika menguji produk baru untuk pasar global, menurut Jens Wohltorf, CEO dan salah satu pendiri layanan pengemudi mobil mewah Blacklane yang berkantor di Berlin. "Jerman memiliki pasar yang cukup besar untuk meluncurkan sebuah perusahaan dan uji coba produk. Kami belajar bagaimana peluncuran di kota baru dari Berlin, dari waktu ke waktu membangun hubungan dengan mitra pengemudi dan mendapatkan pelanggan baru," kata dia. "Setelah para pelancong menggunakan jasa kami di Berlin, Frankfurt, Muenchen atau Stuttgart, mereka ingin berkendara dengan Blacklane di London, Milan, New York dan Tokyo."

Di Jerman banyak yang menggunakan bahasa Inggris juga- yang merupakan bahasa bisnis utama di Blacklane dan banyak perusahaan rintisan- yang membuatnya lebih mudah untuk membangun perusahaan multinasional dan menarik beragam bakat.

Walaupun demikian, Jerman memiliki berbagai tantangan besar bagi pemilik bisnis baru, terutama aturan pajak yang kompleks yang hampir selalu membutuhkan seorang akuntan atau penasihat pajak. Graf juga mencatat bahwa VAT harus dilaporkan untuk perusahaan yang pendapatannya melebihi 17.500 euro (sekitar Rp300 juta), sementara di inggris, batasnya adalah £85.000 dibandingkan (sekitar Rp1,6 milliar) di Inggris, yang bisa menambah kerumikan pekerjaan administratif di awal berkembangnya bisnis. Kekurangan perumahan juga mulai menjadi sebuah masalah di Berlin dan kota besar lain karena pertumbuhan populasi, peningkatan imigrasi dan kekurangan konstruksi baru, meskipun biaya hidup masih rendah dibandingkan dengan ibukota negara-negara Eropa lain.

Semangat kreatif di Jerman memenuhi kehidupan profesional dan personal, terutama di Berlin, menurut Wohltorf. "Berlin memiliki kehidupan seni dan budaya di setiap sudutnya," kata dia. "Di sekeliling Anda terdapat museum-museum kota dan galeri, tempat minum bir, pasar, kafe, taman-taman dan festival."

Jepang

Jepang sejak lama merupakan sebuah paradoks dalam dunia bisnis, di mana sebuah budaya tradisional yang menghindari risiko juga melahirkan inovasi yang mengubah dunia. "Teknologi lama seperti faks di mana-mana, namun juga dikelilingi robot-robot dan sejumlah ggasan dan gawai yang terkeran dan paling muktahir," jelas Joanna Crisp, general manager pada perusahaan travel PEAK DMC Japan, Intrepid Group, yang berasal dari Australia dan saat ini berbasis di Kyoto.

Hak atas foto Alexander Spatari/Getty Images
Image caption Walaupun memiliki budaya tradisional menghindari risiko, Jepang melahirkan inovasi yang mengubah dunia.

Banyak pegusaha di Jepang, negara yang juga berada di ambang perubahan budaya yang besar. Sementara orang-orang pernah suatu masa memilih bergabung dengan sebuah perusahaan multinasional dengan janji pekerjaan seumur hidup, saat ini para anak muda memilih ke perusahaan yang lebih kecil, lebih wirausaha. "Beberapa hambatan yang ada di masa lalu telah disingkirkan," kata Crips. "Ada lebih banyak perintis, lebih banyak dana untuk perusahaan baru dan jaringan yang lebih baik di antara orang-orang yang bekerja di perusahaan rintisan."

Jantung ekonomi di Tokyo, di mana komunitas ekspat yang cukup besar membuat orang asing lebih mudah untuk menjalin koneksi professional. "Tokyo memberikan banyak peluang internasional bagi orang yang terlibat dan terkoneksi satu sama lain, sementara itu juuga memiliki pengalaman unik yang hanya dapat di akses di Jepang dan diciptakan oleh budaya Jepang," kata orang Jepang Kohei Kurihara, yang merupakan salah satu pendiri dan CMO platform kolaborasi CollaboGate.

Sementara bahasa Inggris dikuasai sejumah orang di Tokyo dan pemerintah secara aktif melakukan pelatihan lebih banyak penutur bahasa Inggris dalam persiapan untuk Olimpiada Tokyo, belajar bahasa Jepang dan sosial lebih penting bagi setiap pengusaha di Jepang. "Untuk sukses Anda harus dapat membaca yang tersirat dan mempelajari lapisan tersembunyi bisnis Jepang dan etika sosial," jelas Crisp.

Hak atas foto nattrass/Getty Images
Image caption Joanna Crisp: "Untuk sukses Anda harus dapat membaca yang tersirat dan mempelajari lapisan tersembunyi bisnis Jepang dan etika sosial."

Kesempatan untuk keluar dari kesibukan memulai perusahaan rintisan merupakan salah satu manfaar hidup di Jepang, dengan sejumlah tempat alami di sepanjang negara pulau ini, terutama di Kyoto, yang disebut Crisp sebagai "jantung budaya Jepang". "Saya tumbuh di sebuah kota kecil dan saya suka dikelilingi gunung-gunung dan sungai di mana dengan berjalan kaki yang singkat atau dengan sepeda saja, saya dapat keluar dari distrik bisnis menuju hutan dan alam," kata dia. "Saat ini, salju turun di atap kayu di kuil terdekat dan lentera berwarna di terasnya. Tidak ada pemandangan perubahan musim yang seromantis ini."

Jepang juga secara konsisten merupakan satu tempat di mana orang-orangnya berumus panjang - karena kualitas hidup, rasa komunitas dan diet yang sehat.

Amerika Serikat

Mimpi Amerika - di mana setiap orang dapat menjadi apapun yang mereka inginkan jika mereka memikirkannya - masih melekat bagi banyak penduduk di AS, terutama mereka yang ingin memulai sebuah bisnis.

"Kami ingin berjuang untuk apa yang kami inginkan dan menuntut kehidupan yang lebih banyak dari mereka yang berupaya untuk menghalangi kemajuan," Jason Patel, penduduk Washington DC dan pendiri perusahaan persiapan kuliah Transizion. "Sifat pemberontak ada dalam DNA: Revolusi Amerika, bangkir dari Depresi Besar, memenangkan Space Race dan memproduksi banyak inovasi yang luar biasa. Kami merupakan orang-orang yang menghargai mereka yang mempertaruhkan mata pencaharian mereka untuk mewujudkan impian mereka."

Tidak seperti di banyak budaya lain, kegagalan tidak disukai di sini, tetapi dipandang sebagai pengalaman belajar. "Pengusaha didorong untuk mengambil risiko dan menguji status quo," kata Wen-Wen Lam, CEO dan salah satu pendiri platform travel manajemen yang berkantor pusat di San Francisco NexTravel. Sebuah budaya kewirausahaan juga berarti banyak mentor yang senang membantu pemilik bisnis pemula.

Hak atas foto Steve Proehl/Getty Images
Image caption Banyak perusahaan rintisan bidang teknologi yang sukses di AS berlokasi di Silicon Valley, California.

Sementara banyak perusahaan rintisan teknologi yang sukses baru-baru ini berkanor pusat di Silicon Valley California, New York City dan kota besr pelabuhan AS lainnya memiliki andil yang adil terhadap perusahaan rintisan. Karena AS merupakan sebuah budaya yang cukup seragam dan pasar yang besar, skala nasional sangat mudah di sini, kata Lam.

Mempekerjakan orang bsulit dakam pasar kompetitif di Silicon Valley, di mana saat ini perusahaan raksasa teknologi yang massif berkompetisi untuk mendapatkan orang berbakat yang terbaik dengan gaji dan fasilitas yang tinggi. "Untuk perusahaan rintisan yang lebih kecil, Anda harus menjual gagasan untuk mendapatkan dampak yang lebih besar dan kemampuan untuk mempengaruhi perubahan," tambah Lam.

Keyakinan untuk memiliki suara mempengaruhi kehidupan sehari-hari di AS, di mana satu orang, satu suara, masih berdampak pada budaya. "TIdak ada yang lebih suci dibandingkan premis dalam demokrasi," jelas Patel. "Warga yang terlibat dapat mengatur rekan-rekannya untuk memilih dan melakukan perubahan, dan perbaikan dalam komunitas mereka merupakan tulang punggung untuk mendapatkan ekspektasi yang tinggi untuk negara kami. "Keyakinan ini juga memberikan perspektif keberagaman dan pandangan untuk diterima secara luas.

Hak atas foto Chiara Salvadori/Getty Images
Image caption Penduduk dapat memanfaatkan sistem taman nasional yang luas di AS.

Sistem taman nasional di sini juga merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan penduduk dapat memanfaatkan secara penuh untuk melihatnya di mana pun mereka tinggal. "Hanya di Amerika Anda dapat pergi dari gurun Death Valley ke gunung Yosemite ke ngarai Zion ke danau Yellowstone," kata Patel. "Saya cukup beruntung untuk dapat mengunjungi semuanya. Itu merupakan keindahan alam yang menarik, melihat apa yang ada sebelum manusia dan apa yang bertahan setelah waktu kita di planet ini berakhir."

Inggris Raya

Meskipun Brexit telah menciptakan ketidakpastian seputar masa depan hubungan dagang Inggris dengan Eropa, banyak pengusaha masih yakin ini merupakan tempat yang baik untuk memulai sebuah bisnis karena hambatan yang rendah untuk memulai dan komunitas bisnis yang kuat serta bakat berlimpah.

"Saya mendaftarkan bisnis saya dengan Companies House sebesar Rp 227.586 (£12) (ini dapat melebihi Rp 7 juta atau $500+ di sejumlah negara bagian AS) dan membuka sebuah akun bank untuk bisnis secara online hanya dalam waktu beberapa menit," kata David Murphy, yang mulai memperhatikan perusahaan Oliver Coen di London pada tahun lalu. Pemerintah juga membuat sejumlah sumber online tersedia, seperti pinjaman pemerintah untuk mendukung perusahaan rintisan dan contoh rencana bisnis, dan mengisi pajak bisnis dapat lebih cepat dan mudah.

"Sementara saya menggunakan seorang akuntan untuk menghemat waktu, ini cukup sederhana bahwa saya dapat melakukannya sendiri. Dokumen sangat mudah dan pajak mudah dimengerti," kata Canadian Ian Wright, penemu situs perbandingan pedagang MerchantMachine.co.uk. "Plus, pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan pemotongan pajak perusahaan, yang artinya tariff pajak sangat kompetitif."

Hak atas foto Alexander Spatari/Getty Images
Image caption Hambatan yang rendah untuk masuk dan kumpulan bakat yang kuat membuat Inggris merupakan sebuah negara yang baik untuk memulai bisnis.

Pendanaan lebih mudah didapat di Inggris, menarik lebih dari £4 miliar dalam investasi- yang jumlah terbesar modal ventura diseluruh ibukota negara-negara eropa - pada 2017. "Kami telah didekati sejumlah malaikat investor yang telah menawarkan keuangan dan bimbingan," jelas Murphy. "Kami juga diundang untuk mengajukan permohonan dana dari pemerintah, namun kami menolaknya karena kami tidak membutuhkan dukungan finasial pada saat ini."

Komunitas di sini, terutama di London, juga menuntun kesuksesan perusahaan rintisan, sangat mudah untuk mempekerjakan karyawan atau pekerja paruh waktu yang tepat, dan menghadapi pertemuan bisnis secara tatap muka sangat mudah untuk disiapkan. "Saya sangat khawatir Brexit akan berdampak pada banyak orang-orang berbakat yang ada di London dari seluruh negara Eropa," kata Wright. "Namun, saya berpikir Anda akan sulit untuk menemukan banyak bakat yang terkonsentrasi di satu tempat di luar Silicon Valley."

Murphy sepakat, dan menambahkan, "Apakah saya membutuhkan sebuah produk fotografer kelas dunia, ahli media sosial atau direktur kreatif, berada di Inggris, semuanya tersedia di ambang pintu saya."

Perumahan yang mahal di London dapat menyulitkan pemilik bisnis dan karyawan potensial. "Satu-satunya rumah yang saya mampu adalah di pinggir London dan itu ukurannya separuh dari yang bisa saya dapat di Kanada," kata Wright. Tetap saja, memiliki layanan kesehatan NHS yang gratis membuat memulai bisnis sedikit lebih berisiko. " Saya tidak perlu khawatir jika saya tiba-tiba sakit atau terluka," kata dia. " Sejujurnya, saya rasa layanan kesehatan public merupakan sesuatu yang utama yang dapat dilakukan pemerintah untuk mendorong kewirausahaan."

Hak atas foto David Cabrera/Getty Images
Image caption Biaya perumahan di London merupakan tantangan bagi pemilik bisnis dan karyawan potensial.

Selain iklim bisnis, Wright mengatakan dia menyukai hidup di London karena kombinasi dari sejarah dan budaya modern. Lokal juga menyukai multikulturalisme di ibukota, di mana orang dari berbagai belahan dunia hidup berdampingan untuk menciptakan lanskap makanan dan budaya yang kaya.

Swiss

Kurangnya sumber daya alam, Swiss sejak lama melakukan investasi dalam bentuk riset dan pembangunan untuk meningkatkan ekonominya. Itu telah terbayar dengan baik, dengan negera tersebut menjadi pemimpin internasional dalam bidang perbankan dan keuangan.

"Swiss secara tradisional memilki sektor tradisional yang kuat, dengan kepatuhan dan peraturan pemerintah yang pada intinya bijaksana," jelas Marco Abele, mantan kepala digital officer dari Credit Suisse, dan CEO dan penemu platform investasi blockchain TEND, yang berbasis di Zug. "Budaya Swiss sangat menarik dalam nilai-nilai tradisonalnya, yang tertanam di sektor keuangan Swiss untuk beberapa dekade, siap ditransfer para pengusaha dibidang yang mereka minati masing-masing."

Akhir-akhir ini keahlian itu telah bekerja dengan cara yang baru, seiring dengan negara tersebut telah menjadi pusat mata uang cryto dan blockchain yang berbasis pada rintisan. "Swiss memimpin dalam penerapan nilai-nilai inti yang tertanam dalam sektor keuangan tradisional dalam indtrusri baru," kata Abele. "Universitas di Swiss, juga, merangkul perubahan ini,meneliti blockchain dan dampaknya terhadap dunia dengan keingintahuan intelektual keunikan Swiss."

Hak atas foto Rosmarie Wirz/Getty Images
Image caption Dikenal dengan 'Lembah Crypto', Zug merupakan rumah bagi perubahaan mata uang kripto.

Secara khusus kota Zug di Swiss telah mendapatkan julukan 'Lembah Crypto' karena keberadaan sejumlah perusahaan rintisan mata uang crypto di wilayah tersebut. Kota yang merupakan Ethereum Foundation, platform blockchain dibalik aplikasi desentralisasi baru juga merupakan mata uang crypto terbesat yang kedua mengekor Bitcoin di dalam kapitalisasi pasar.

"Banyak proyek crypto memilih Swiss untuk kantor pusat mereka dengan alasan yang sama dengan internasional organisasi dan perusahaan lainnya: netralitas Swiss, stabilitas dan rezim pajak," kata Nabil Naghdy, COO dari sistem operasi Ethereum mobile Status.

Sebagai tambahan terhadap dari lingkungan regulasi yang ramah dan tarif pajak yang ramah bisnis, perusaan rintisan di Swiss juga mendapatkan manfaat dari lokasi di tengah Eropa, membuat perdagangan dan menemukan bakat sangatlah mudah. "Karena keberagamannya, kefasihan berbahasa penduduknya dan standar hidup yang tinggi, Swiss merupakan sebuah lokasi kerja yang populer bagi ekspat," jelas Naghdy.

Meskipun biaya hidup yang sangat tinggi di sini seringkali menyakitkan bagi para pendatang baru, pengusaha musiman mengatakan manfaat dan keuntungan merupakan bagian dari ekonomi yang lebih besar dibandingkan biayanya.

Pengembalian itu juga terbayar dalam gaya hidup sehari-hari, sebagai penduduk menikmati akses pada sekolah kelas dunia dan peluang pendidikan, juga keindahan alam di sekitar Alpen. Lokasi Swiss yang berada di tengah-tengah Eropa artinya penduduk lokal mendapatkan keuntungan dari penerbangan murah dari seluruh benua untuk liburan akhir pekan.


Anda bisa membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris Five best countries for entrepreneurs atau artikel lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait