Jodoh Anda tergantung profesi dan kondisi keuangan

Romance Hak atas foto Thinkstcok
Image caption Jalur karier bisa enentukan kelanggengan jodoh.

Di hari Valentine mendatang, lupakan bunga dan juga lupakan coklat.

Kalau Anda ingin cinta yang lebih bertahan lama, lebih baik untuk berlatih mengendalikan pengeluaran Anda dan yakin Anda memilih jalur karir yang cocok dengan pasangan.

Para psikolog memberi nasehat agar orang yang mencari perbaikan dalam kehidupan percintaan menilai bagaimana pilihan karir dan filosofi dalam pengeluaran bisa berpengaruh terhadap hubungan. Banyak pasangan paham kalau masalah uang kadang menjadi akar pertikaian, tapi sering tak memperhitungkan soal keuangan dan jalur karir ketika memilih jodoh.

Kenyataannya, keputusan yang Anda ambil dalam bagian terbesar dari hidup Anda dapat memainkan peran terbesar untuk membangun perjodohan yang langgeng.

“Dalam beberapa contoh, pengkhianatan dalam soal keuangan sama artinya dengan perselingkuhan,” kata Fran Davis, seorang psikolog dan penasehat karir yang bekerja dengan mahasiswa dan alumni dari Harvard Business School.

Berikut lima strategi tentang bagaimana keputusan karier dan keuangan yang akan meningkatkan kehidupan percintaan Anda:

Hindari kecocokan karir yang sempurna

Punya pasangan yang kariernya cocok agaknya sesuatu yang ideal karena Anda akan punya banyak hal yang bisa anda bicarakan dengan pasangan.

Ini akan bagus di awal kisah cinta, tapi bisa berbalik dalam jangka panjang. Pasangan yang profesinya sama —bahkan ketika mereka tidak secara langsung bersaing satu sama lain— kemungkinan besar berpisah, khususnya berhenti mengejar kepentingan bersama di waktu senggang.

Soalnya, mereka sudah punya hal terbesar untuk dihabiskan bersama: pekerjaan.

Pengacara, peternak, dan profesi di bidang pendidikan cenderung untuk memilih pasangan yang seprofesi sedangkan mereka yang bekerja di bidang keuangan, pertambangan, dan konstruksi cenderung tidak. Begitulah hasil penelitian dari Priceonomics, sebuah perusahaan data yang menggunakan data sensus Amerika Serikat.

Hak atas foto Thinkstcok
Image caption Keputusan karier bisa jadi juga merupakan keputusan perjodohan.

Namun akhirnya, pasangan yang profesinya sama bisa memiliki waktu yang lebih sulit untuk mencapai keseimbangan antara hidup dan pekerjaan, kata Gail Kinman, guru besar di bidang kesehatan psikolgi di University of Bedfordshire, Inggris, yang melakukan penelitian terhadap pasangan yang berprofesi sejenis.

“Pekerjaan bisa menjadi hal besar dalam hubungan, memperkeruh percakapan," kata Kinman.

Maka, pertimbangkan profesi yang saling melengkapi

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai melacak profesi apa yang baik jika berpasangan. Contohnya, profesi di bidang periklanan sering tertarik kepada musisi, sementata polisi cenderung tertarik kepada bankir investasi, menurut penelitian dari The Grade, sebuah apilkasi perjodohan yang melacak 450.000 pengguna berdasarkan suka tidaknya mereka pada para pengguna lain.

Dan situs perjodohan lain seperti eHarmony.com -yang lebih berhati-hati dalam memasangkan pengguna menurut berbagai kecenderungan dan ketertarikan- berhasil menemukan bahwa orang di bidang tertentu tertarik dengan mereka bidang-bidang tertentu.

Contohnya, data dari eHarmony menemukan 10 pasangan paling cocok adalah pengacara laki-laki dengan arsitek perempuan, pengacara perempuan dengan pilot laki-laki, peneliti laki-laki dengan ahli farmasi perempuan, namun —agak bertentangan dengan data lainnya— pebisnis laki-laki tertarik dengan pebisnis perempuan.

Hak atas foto Thinkstcok
Image caption Apakah jam kerja yang tak pasti mempersingkat kelanggengan perjodohan?

Ulama, ahli mata, dan insinyur cenderung untuk tetap menikah, apapun karier pasangannya, menurut Michael Aamodt, professor emeritus di Radford University yang meggunakan data sensus Amerika Serikat tahun 2000.

Rencanakan jauh-jauh hari

Kita sudah mendengar keluhan mengenai pasangan yang ‘kabur’, yang ‘menikah dengan pekerjaan mereka’. Bekerja keras secara rutin adalah satu hal tapi tambahan waktu kerja yang tidak diperkirakan bisa mengakhiri kehidupan pibadi.

Ketidakpastian waktu kerja sering membawa dampak buruk terhadap buhubungan ketimbang waktu kerja panjang yang rutin. Coba bayangkan, sebuah pekerjaan yang membuat Anda pulang sekirtar jam delapan malam setiap hari dibanding pekerjaan yang tiba-tiba meminta Anda harus membatalkan makan malam ulang tahun pernikahan, hanya satu jam sebelum rencana makan malam itu karena tiba-tiba harus bekerja sampai tengah malam.

Mengubah jadwal kerja Anda terus menerus sampai menit terakhir bisa membuat hidup 'lebih sengsara dan stress karena kehilangan waktu bersama keluarga, menurut Davis. Hal itu juga bisa berarti memberi pesan buruk kepada pasangan bahwa pekerjaan selalu lebih utama, katanya lagi.

Pekerja di sektor perbankan atau firma professional, biasanya bisa merasa tak berdaya kalau harus membuat perencanaan jauh-jauh hari sebelumnya.

Untuk memelihara hubungan agar tidak terlalu stress, Davis menyarankanagar memberitahu pasangan secepat mungkin jika terjadi bentrokan antara kerja, dan segera mengambil prakarsa ketika harus ada perubahan rencana.

Hindari ‘acara penikahan besar-besaran’

Bagi pernikahan yang berbahagia, mengeluarkan sumber daya untuk hari pernikatan tidak terlalu perlu, kata Andrew Francis-Tan, profesor di Emory University di Atlanta, Amerika Serikat. Dia mengadakan penelitian mengenai kaitan antara pengeluaran pernikahan dengan lamanya suatu pernikahan.

Hak atas foto Thinkstcok
Image caption Benarkah pernikahan mewah cenderung berumur singkat?

Para peneliti melakukan survei terhadap 3.000 pasangan dan menemukan bahwa pasangan yang mengeluarkan lebih banyak uang di hari pernikahan, secara umum usia pernikahannya lebih singkat. Tak apakah memang mengeluarkan lebih banyak menjadi penyebab bagi perceraian atau hanya kebetulan saja.

Di Amerika Serikat, sebuah survei terhadap 1.000 perempuan yang bertunganan menemukan 32% pasangan berhutang dengan kartu kredit mereka sesudah hari pernikahan, menurut situs web pernikahan TheKnot.

Sedang di Asia, khususnya di Malaysia dan India, lazim bagi keluarga untuk berutang sesudah menjamu pesta pernikahan. "Waspadalah, pasangan yang menikah harus mengurangi pengeluaran pernikahan mereka hingga mencapai tingkat yang bisa mereka kelola,” kata Francis-Tan.

Temukan pasangan yang cocok secara finansial

Ternyata, kondisi finansial itu lebih penting ketimbang yang Anda duga. Sebuah penelitian tahun 2015, yang menggunakan data dari United States Federal Reserve atau Bank Sentral AS, memperlihatkan bahwa pasangan yang cocok dalam kondisi keuangan bisa diharapkan untuk juga lebih cocok dalam percintaan.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Beberapa profesi tertentu cenderung untuk terus mempertahankan perjodohan.

Di sisi lain, pasangan yang memiliki kondisi keuangan berbeda, lebih cenderung untuk berpisah.

Kondisi keungan bisa memberi masukan bagi 'tingkat kepercayaan individu dan komitmen kepada kewajiban-kewajiban bukan utang', menurut tim peneliti. Riset juga menemukan bahwa memungkinkan untuk menggunakan kondisi keuangan pasangan dalam memahami lebih banyak nilai-nilai pribadi dan 'dasar kepercayaaan'.

Satu tambahan lagi, ketika bicara tentang kondisi keuangan yang sulit seperti jumlah rekening di bank atau utang, hindari berkutat terlalu banyak pada kondisi keuangan pasangan Anda.

“Tetap nilai orang itu tanpa harus menyebabkan kecemasan terlalu besar,” kata Kinman yang menambahkan bahwa aturan keluarga dalam menangani soal keuangan harus diputuskan sejak awal sebelum meulai sebuah hubungan.

Anda bisa membaca artikel asli ini di sini, Why police are drawn to bankers and teachers marry teachers dan untuk artikel sejenis di BBC Capital.

Berita terkait