Kutukan di balik jam kerja fleksibel

Hak atas foto iStock

Memiliki kerja yang fleksibel, yang tidak harus melulu jam 9 pagi hingga jam 5 sore, tidak selalu menyenangkan dan kadang bisa jadi sumber stres.

Anda menemukan pekerjaan impian - dan Anda memiliki keleluasaan untuk pulang kerja lebih awal dan membalas surel-surel Anda di rumah nanti pada malam hari. Ini adalah prosedur standar - tetapi mengapa Anda punya perasaan bersalah tentang itu?

Ini mungkin adalah kutukan di balik jam kerja fleksibel.

Beberapa periset menemukan bahwa banyak orang yang bekerja dengan waktu leluasa memiliki perasaan bersalah yang konstan: mereka merasa bahwa mereka harus bekerja beberapa jam lebih lama dan bekerja lebih keras untuk menunjukkan mereka serius - walau ketika tak ada bukti bahwa mereka dituntut melakukannya.

“Rata-rata, pekerja yang memiliki otonomi terhadap jam kerjanya sendiri menghabiskan waktu lembur lebih banyak,” kata Heejung Chung, sosiolog senior dan dosen kebijakan sosial di Universitas Kent di Inggris. Bahkan, penelitian Chung menemukan bahwa orang dengan jam kerja fleksibel malah kerja empat jam lebih lama dibanding dengan karyawan yang punya jam kerja normal.

Beberapa orang mungkin mengalami rasa bersalah terkait fleksibilitas itu dan merasa bahwa mereka harus menghabiskan beberapa jam lagi, karena pekerja yang memiliki keleluasaan untuk mengatur jamnya sendiri dianggap sebagai sebuah kemewahan.

“Mereka merasa perlu menunjukan bukti bahwa bekerja di rumah atau mengatur jam sendiri, memiliki hasil yang sama atau bahkan lebih produktif,” kata Moen.

Chung menjelaskan ini dengan cara yang berbeda, “Umumnya, jika Anda memiliki kontrol yang lebih besar terkait jam kerja Anda, Anda cenderung lebih khawatir ketika Anda tidak sedang bekerja, dan kasus ini utamanya terjadi pada para pekerja yang memiliki kontrol terkait jam dan tempat mereka bekerja. Kecenderungan untuk merasa khawatir ini terjadi lebih banyak di negara yang memiliki tinggat pengangguran tinggi, pasar tenaga kerja yang tak terlalu stabil, dan jika pekerja tidak memiliki kekuatan untuk bernegosiasi.”

Hak atas foto Thinkstock

Jennifer Tomlinson, profesor relasi kerja dan gender di Leeds University Business School percaya bahwa tren ini kultural.

Di negara yang menganggap lumrah pulang cepat, dan kerja paruh waktu adalah hak biasa, para pekerja tidak terlalu merasa tekanan rasa bersalah itu.

Orang-orang lebih bisa menerima opsi kerja fleksibel dan tidak cenderung merasa bersalah di negara-negara yang membayar pekerja lebih tinggi per jam, dengan pasar tenaga kerja yang lebih stabil, dan mengangap waktu bekerja tidak terlalu penting dibandingkan pekerjaan Anda selesai.

Ini mungkin terjadi di Prancis, Denmark, Swedia, dan Belanda - dan tidak terlalu di Inggris dan Amerika Serikat.

"Peraturan tenaga kerja di AS, misalnya, memungkinkan bos memiliki lebih banyak kontrol terkait jam kerja," kata Tomlinson.

Ketakutan karena keleluasaan

Bagi sebagian dari kita, kesempatan untuk mengendalikan waktu kerja membuat kita lebih mudah mengatur kebutuhan keluarga dan pekerjaan.

Misalnya, dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya bekerja, salah satu mungkin kerja pukul 07.00 pagi dan bisa pulang ke rumah sore hari ketika anak-anak pulang dari sekolah, sementara yang lainnya mungkin akan kerja lebih telat sekitar pukul 10.00 pagi untuk membenahi rutinitas pagi dan pulang agak lebih telat.

Tetapi, bagi sebagian besar pekerja, ketakutan akan kehilangan pekerjaan akan membuat mereka tetap berada di kantor dan takut meminta jam kerja yang fleksibel.

"Ada beberapa kisah sukses tentang orang memilih perubahan besar di pertengahan umur 40 tahun, tetapi mereka itu pengecualian bukanlah hal yang umum," kata satu manajer senior di bank internasional besar di Sydney, yang meminta untuk tak disebut namanya.

"Kenyataannya adalah, kebanyakan orang di perbankan mencoba untuk bertahan dalam sektor yang keuntungannya semakin mengecil."

Hanya sekitar 10% karyawan Australia yang bekerja jarak jauh sehari-hari, cukup rendah dibanding standar internasional, kata Rea Cooper, dekan di Sekolah Bisnis Universitas Sydney.

Tetapi, risetnya terkait pekerja fleksibel (di berbagai pekerjaan kantoran dan di berbagai sektor) mengindikasikan bahwa mereka yang melakukannya cenderung memiliki produktivitas yang tinggi. "Mereka bekerja lebih keras dalam sistem kerja non-standar, dibanding rekan kerjanya yang memiliki jam kerja biasa."

Ini adalah perasaan yang banyak bisa dipahami pekerja fleksibel.

Jadi, besok-besok ketika Anda merasa bersalah karena pulang cepat setelah masuk lebih pagi, ingatlah - Anda tidak sendirian.

Anda juga bisa menyimak berita ini dalam bahasa Inggris berjudul The curse of flexible work atau tulisan lain dalam BBC Capital.

Berita terkait