100 Perempuan: Apakah pendidikan ibu meningkatkan imunisasi?

vaksinasi, afghanistan Hak atas foto EPA
Image caption Diperkirakan kematian seperempat anak-anak di dunia pada usia di bawah lima tahun bisa dicegah dengan vaksin yang tersedia saat ini.

Sepanjang sejarah, pemberdayaan perempuan biasanya berkaitan dengan pendidikan, yang bukan hanya meningkatkan kehidupan mereka namun juga anak-anak mereka.

Di negara-negara berkembang, penelitian memperlihatkan ada kaitan kuat antara pendidikan ibu dengan imunisasi anak untuk penyakit-penyakit yang bisa dicegah, antara lain seperti polio, dipteri, tetanus, campak, dan TBC.

Diperkirakan bahwa kematian seperempat anak-anak di dunia pada usia di bawah lima tahun bisa dicegah dengan vaksin yang tersedia saat ini.

Sebuah analisis atas imunisasi di Nigeria menemukan hanya 6% dari ibu-ibu yang buta huruf mendapat vaksinasi dari total 24% anak-anak yang divaksinasi di seluruh negara.

Gambaran yang serupa juga terlihat di negara-negara dengan perekonomian berkembang.

Hak atas foto EPA
Image caption Kesehatan dan kesejahteraan anak diasumsikan ikut terangkat oleh pendidikan ibu mereka.

Di India, misanya, di kalangan ibu-ibu yang berpendidikan tinggi maka anak-anak lebih mungkin untuk mendapat imunisasi secara lengkap.

Peningkatan terbesar ditemukan di kalangan ibu-ibu yang memiliki pendidikan dasar maupun pendidikan dasar lanjutan, dibanding dengan ibu-ibu tanpa pendidikan.

Pendidikan 'nanggung' di Indonesia

Namun di Indonesia, situasinya agak sedikit berbeda, seperti dijelaskan dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Di kalangan ibu berpendidikan tinggi di Indonesia, ada kecenderungan mereka berupaya untuk mendapatkan vaksin terbaik bagi anaknya dan bahkan bersedia untuk membelinya.

"Kalau dia berpendidikan tinggi, dia mencari vaksinnya dan akan lengkap vaksinasinya. Dari media sosial dia bisa mencari sendiri kebutuhan vaksin untuk anaknya," tutur dr. Elizabeth Jane kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Hak atas foto Dr Elizabeth Jane
Image caption Dr Elizabeth Jane Soepardi bersama warga Kecamatan Mbua, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua saat progam imunisasi, yang hanya berlangsung pada hari pasar saja.

"Yang justru tantangan itu yang tingkat pendidikannya yang nanggung. Jadi di Indonesia itu mending yang pendidikan rendah. Kasarnya kita tinggal pukul gong, mereka kumpul, lalu anak disuntik."

Masalahnya -menurut dr Elizabeth Jane- antara lain karena ibu-ibu yang berpendidikan tanggung juga mendengar 'hasutan' atau berita-berita yang hoaks.

Sementara di Indonesia, kaum ibu yang berpendidikan 'setengah' itu jumlahnya semakin banyak pula sehingga tantangan untuk imunisasi semakin berat.

"Kalau dulu, misalnya 30 tahun yang lalu, itu sebagian besar pendidikan rendah dan dengan mudah kita dapat sekitar 65%. Tinggal pukul gong. Disuruh kumpul, anak mereka disuntik, dan tidak tanya disuntik apa karena mereka percaya. Sektiar 30 tahun terakhir ini, sudah ada pendidikan tapi mungkin terbatas, mereka gampang dipengaruhi black campaign (kampanye hitam)."

Image caption Ibu yang berpendidikan tinggi di Indonesia 'bisa mencari' sendiri vaksinasi yang diperlukan oleh anaknya.

Bagaimanapun keberhasilan imunisasi di Indonesia tergolong tinggi di dunia, yaitu mencapai tingkat di atas 90% secara nasional, dengan beberapa daerah bercakupan di atas 95% dan di beberapa lain masih di bawah 50%.

Bahkan untuk MR (measles-rubella/campak dan rubella), Indonesia secara nasional mencapai tingkat hampir 99%.

Hal itu antara lain bisa dicapai dengan penyuluhan besar-besaran, antara lain dengan media massa, selebaran, film, maupun mobilisasi sosial melalui ulama. "Tapi itu kan biaya besar," tegas dr Elizabeth Jane.

Saat ini masih berlangsung kampanye MR di Pulau Jawa, yaitu di enam provinsi: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.

"Di Jakarta dan Banten itu lebih sulit, tapi di Jawa Tengah, Timur kita bisa lebih cepat. Jadi semakin metropolis, semakin sulit," jelas dr. Elizabeth Jane.

Cakupan MR di Jatim, Jateng, DIY mencapai target lebih cepat, lebih tinggi, dan merata sementara semakin dekat ibu kota atau metropolitan, cakupan makin sulit dicapai.

"Bagian dari Provinsi Jabar dan Banten, berbatasan dengan DKI, cakupan (imunisasi) belum mencapai target," tambah dr Elizabeth Jane.

Situasi negara maju

Di negara-negara maju, ada bukti-bukti bahwa kaitan antara pendidikan dan imunisasi malah bertolak-belakang.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat, dengan menggunakan data tahun 2003 atas 11.860 anak, memperlihatkan ibu-ibu dengan pendidikan di bawah 12 tahun cenderung untuk menuntaskan imunisasi anaknya dibanding ibu-ibu berpendidikan akademi.

Para peneliti tidak yakin apa yang menjadi penyebabnya namun mengutip beberapa faktor seperti sikap budaya atas kebutuhan anak-anak di kalangan Hispanik, yang secara umum mendapat pendidikan formal lebih rendah dibanding kelompok etnis lain di Amerika Serikat.

Juga ada faktor ketersediaan informasi di kalangan ibu-ibu berpenghasilan rendah -yang diasumsikan tidak berpendidikan tinggi- karena mendapat program kesehatan yang disubsidi pemerintah.

Survei global tentang keyakinan untuk vaksinasi tahun 2016, yang dipimpin London School of Hygiene & Tropical Medicine, menemukan bahwa negara-negara maju dengan pendidikan perempuan yang tinggi -umumnya di Eropa- memiliki tingkat yang rendah dalam sikap positif terhadap vaksinasi.

Hal itu antara lain disebabkan, ibu yang berpendidikan tinggi lebih yakin untuk menantang pihak berwenang -termasuk dinas layanan kesehatan- berdasarkan penelitian mereka sendiri.

Juga karena kecil kemungkinan mereka mengalami anak-anak yang meninggal karena penyakit yang bisa dicegah.

Hak atas foto Getty Creative
Image caption Ibu berpendidikan tinggi lebih yakin untuk menantang pihak berwenang. (Foto ilustrasi dengan menggunakan model)

Kemunculan penyakit campak di beberapa negara Eropa tahun ini, antara lain karena sejumlah orang tua menolak vaksin gabungan untuk MMR (measles, mumps, dan rubella) dengan alasan sebuah studi yang diragukan yang mengkaitkan vaksin itu dengan autisme dan penyakit Crohn.

Di Prancis, sikap negatif atas vaksin Hepatitis B dan HPV mungkin berasal dari kontroversi tentang dugaan atas dampak sampingannya. Sedang di Italia, pemimpin partai Gerakan Lima Bintang, sempat mengungkapkan keraguan atas vaksinasi.

Oleh karena itu upaya untuk meyakinkan para orang tua -yang skeptis atas vakisinasi- menjadi lebih sulit dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya.

Berita terkait