Desas-desus dentuman Gunung Anak Krakatau, siapa yang harus kita percayai?

Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12) Hak atas foto ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
Image caption Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12)

Dentuman misterius di beberapa lokasi, yang diduga bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau ramai diperbincangkan di dunia maya. Namun seberapa jauh warga bisa percaya atau tidak percaya, mengingat yang dipertaruhkan adalah jiwa manusia?

Suara sangat keras ini terdengar hingga di wilayah Anyer dan sekitarnya. Bahkan dilaporkan, kaca beberapa bangunan ikut bergetar.

Suara dentuman keras terdengar oleh warga yang tinggal di pesisir Selat Sunda, Rabu (26/12) pagi, dan diduga berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Kristianto menjelaskan hingga kini gunung tersebut memang masih terus mengalami erupsi.

"Betul, suara dentuman atau gemuruh tersebut berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau," ujar Kristianto kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/12).

"Kalau potensi besarnya, kita masih melihat dalam beberapa hari ini masih sama. Itu terlihat dari rekaman seismograf kita bahwa amplitudo tremornya masih sekitar antara 30mm," imbuhnya kemudian.

Amplitudo tremor ini sama dengan letusan yang terjadi pada Sabtu (26) malam lalu, yang longsorannya menyebabkan tsunami pesisir Selat Sunda.

Sebelumnya, beberapa warga di Sumatra Selatan mengaku mendengar suara dentuman misterius yang terdengar di langit pada Senin (24/12) malam. Desas-desus soal suara dentuman itu ramai diperbincangkan warganet di media sosial.

Belakangan kabar serupa di wilayah lain muncul dan ikut meramaikan media sosial. Salah satunya seperti yang diakui oleh warga di Jawa Barat, tepatnya di Cianjur, Sukabumi, hingga Garut.

Mereka menyebut suara gemuruh terdengar di langit. Tak sedikit yang mengaku khawatir dan menduga dentuman ini berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Desas-desus ini dibantah oleh Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Kalau itu kami agak menyangsikan berasal dari mana, karena kan kalau dari Krakatau hanya berjarak 42 kilometer," ujar Kristianto.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menghimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya desas desus dan hanya mempercayai sumber pemerintah. Dia merekomendasikan masyarakat untuk terus memantau situs dan media sosial BMKG serta aplikasi dari badan geologi untuk memantau kondisi Gunung Anak Krakatau.

"Karena aplikasi mobile Magma Indonesia ini akan memberikan peringatan dini tentang level aktivitas anak gunung Krakatau agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang menyesatkan," ujar Dwikorita dalam konferensi pers yang digelar Selasa (25/12) malam.

Suara gemuruh yang biasa terdengar

Suara gemuruh dan dentuman dari Gunung Anak Krakatau sudah biasa terdengar di telinga Kamsid, warga Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten yang hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari letak gunung itu di Selat Sunda.

Tiga hari setelah erupsi yang kemudian mengakibatkan tsunami, Kamsid mengaku mendengar kembali dentuman keras pada Selasa (25/12) sore.

"Intensitas (dentuman dan gemuruh) sih hampir sama, ya kadang kala agak lama. Dentuman yang keras sih ada kemarin doang," ujarnya.

Diakuinya, warga sempat panik karena mengira tsunami kembali menerjang. Kamsid pun mengaku trauma.

"Ya termasuk saya kalau ngedenger dentuman seperti itu ya akhirnya takut juga. Tapi sebelum terjadi ini kita anggapnya hal yang biasa," imbuh Kamsid.

Hak atas foto EPA
Image caption Anak Krakatau sudah bergemuruh bertahun-tahun.

Kristianto dari PVMBG tak memungkiri bahwa suara dentuman dan gemuruh dari Gunung Anak Krakatau merupakan hal yang lazim terdengar, terutama sejak gunung itu terus beraktivitas pada Juni lalu.

"Malah paling keras terjadi pada bulan September - Oktober, sampai menggetarkan kaca," ungkap Kris.

Menurut dia, getaran muncul akibat airshock, atau hentakan di dalam kolom udara akibat dari suara gemuruh maupun dentuman.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Bagaimana gunung berapi bisa menyebabkan tsunami?

Hingga saat ini getaran akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi. Oleh karena itu BMKG masih terus memonitor aktivitas tremor Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca ekstrim dan gelombang tinggi.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, kondisi tersebut dapat berpotensi mengakibatkan tebing kawah Gunung Anak Kratakatu longsor kembali ke laut dan dikhawatirkan dapat berpotensi memicu tsunami.

"Kami meminta agar warga masyarakat tetap waspada dan menghindari lokasi pesisir dalam radius 500 meter sampai dengan 1 kilometer," ujar Dwikorita.

Sistem peringatan dini tsunami khusus Selat Sunda

Selain itu, BMKG telah mengembangkan aplikasi sistem pemantauan yang memfokuskan pada aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau agar dapat memberikan peringatan yang lebih cepat, dengan menggunakan enam sensor seismograf yang 'mengepung' Gunung Anak Krakatau.

Hak atas foto Copernicus Data/Sentinel Hub/@HarelDan
Image caption Satelit Sentinel 1 Eropa menunjukkan sisi barat dari gunung api yang berubah bentuk.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menuturkan pada tsunami 22 Desember lalu, sensor ini tidak memberikan peringatan dini tsunami lantaran hanya menangkap getaran tremor yang relatif kecil, setara magnitude 3,4.

Sebelumnya, BMKG baru mengeluarkan peringatan dini tsunami jika bencana gempa mencapai lebih dari 7 skala richter (SR). Namun ke depan, lanjut Rahmat, BMKG akan mengeluarkan peringatan dini tsunami jika aktivitas Gunung Anak Krakatau mencapai lebih dari 3,5 SR.

"Ini cara yang paling efektif, paling tidak untuk saat ini karena potensi longsor masih terjadi."

"Katakanlah pada saat 22 Des kemarin setara dengan magnitude 3,4 nah kalau ini nanti mungkin sekitar 3,4 atau 3,5 ke atas, bisa jadi BMKG akan memberikan warning untuk selat Sunda," ujar Rahmat.

Diakui Rahmat, sistem khusus ini diperkirakan akan menimbulkan kepanikan, namun menurutnya "paling kita tidak jangan sampai kita kecolongan seperti kemarin."

"Dengan cara ini lebih baik kita memberikan warning, syukur-syukur tidak ada tsunami, masyarakat bisa lari, kami berharap tidak ada tsunami, kalaupun kita monitor kurang lebih 1 jam karena waktu tibanya itu sekitar 20 sampai 30 menit," kata dia.

Dia melanjutkan, jika satu jam setelah peringatan dini tidak terjadi tsunami, maka peringatan dini akan dicabut.

Berita terkait