Strategi pakar reptil Australia bebaskan buaya terlilit ban di Sungai Palu: 'Kami punya banyak rencana. Kalau gagal, coba cara lain'

buaya, reptile, rescue Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Matt Wright (kanan) terbang ke Palu untuk bergabung dengan tim satgas dalam misi membebaskan buaya dari jerat ban dengan cara aman.

Presenter asal Australia Matt Wright dan rekannya, seorang pakar reptil, Chris Wilson, sudah beberapa hari ini berada di Palu, Sulawesi Tengah, dalam misi membantu melepaskan buaya sepanjang empat meter di Sungai Palu, yang sudah bertahun-tahun terjebak ban yang melilit lehernya.

Kedua pakar bergabung dengan tim satuan tugas yang dipimpin Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah Haruna setelah berkonsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan mendapat izin resmi.

Dalam unggahan di akun Instagram miliknya, Wright menunjukkan proses "latihan" bersama anggota tim dengan memanfaatkan buaya yang berukuran lebih kecil.

"Ketua tim bertanya padaku apakah kita bisa menangkap buaya yang lebih kecil sebagai latihan, jadi aku menunjukkan apa yang dapat kita lakukan sebelum menuju ke event sesungguhnya," kata Wright.

Tim tersebut berencana untuk menarik perhatian buaya tersebut agar keluar dari sungai dan masuk ke "perangkap" yang telah mereka siapkan, untuk memudahkan mereka mengatur strategi untuk melepaskan lilitan ban dari lehernya.

Wright mengungkapkan tantangan utama dalam menarik perhatian buaya agar keluar dari sungai adalah kondisi sungai dan fakta bahwa buaya tersebut tidak lapar karena ada banyak sumber makanan di sungai.

"Kami harus yakin kami benar-benar siap untuk tantangan ini dan setiap orang paham tugasnya," katanya.

Ingin lepaskan buaya dengan cara aman

Strategi pertama Tim Satgas termasuk memasang perangkap di dekat daratan di mana buaya tersebut kerap berjemur.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Matt Wright mengaku memiliki misi untuk membantu membebaskan buaya dari lilitan ban dengan cara yang aman.

Matt Wright mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa tujuan utama kedatangannya adalah untuk membantu melepaskan ban dengan cara yang aman.

"Saya sudah melihat buaya yang terperangkap di bawah sana. Kami berusaha agar buaya tidak merasa tertekan. Anda tahu, melepaskan ban dari leher buaya itu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dari jarak jauh. Kami berpengalaman dalam urusan serupa dalam hal ini. Tak ada trial and error. Saya berharap ini berjalan sesuai rencana," kata Wright.

Hingga Sabtu, perangkap yang dipasang belum berhasil menarik buaya keluar dari sungai dan memakan umpan.

Wright dan tim menggunakan strategi lain yakni dengan menggunakan harpun. Harpun merupakan alat yang panjang mirip seperti tombak yang digunakan untuk menangkap ikan atau mamalia laut besar seperti paus.

Harpun yang dibuat Wright dan tim satgas tidak akan digunakan untuk membunuh satwa. Tim mengujinya dengan membidik buaya berukuran tiga meter yang kemudian ditarik ke tepi sungai untuk kemudian dilepaskan kembali.

Hari berikutnya, tim satgas kembali melakukan perburuan buaya untuk melepaskan ban di leher buaya.

Dengan menggunakan drone atau kamera udara, Matt mencoba mengikat umpan bangkai unggas di drone. Upaya ini pun gagal. Drone seharga Rp24 Juta itu pun masuk ke dalam air dan rusak.

Kerumunan warga buat takut buaya

Setelah beberapa upaya penyelamatan belum juga berhasil. Wright dan rekannya Chris Wilson mengakui misi ini sangat sulit terutama karena prosesnya menarik perhatian warga yang berkerumun di sekitar sungai.

"Kalau banyak sekali orang, dia takut juga. Tapi kalo cuma keramaian normal, orang-orang desa yang biasanya memang tinggal di tepi sungai, dia lumayan rileks, dia akan naik, duduk-duduk di bantaran kalau tidak merasa terancam. Tapi kalau banyak orang dia akan ragu karena situasinya berbeda buat dia," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kerumunan warga membuat buaya enggan muncul ke permukaan dan masuk perangkap.

Wright mengaku ia dan tim tidak akan menyerah meski beberapa kali percobaan telah gagal.

"Kami punya banyak rencana, kalau yang ini gagal ya coba cara lain. Saya di sini sampai Selasa. Sekarang ini kami telah pasang perangkap. Kalau gagal, beberapa bulan lagi kami akan kembali dan coba lagi. Kami akan selalu kembali sampai (buaya) tertangkap," katanya.

Ia mengatakan,yak tak kalah penting adalah untuk menjaga berat badan buaya.

"Kalau dia tambah gemuk akan bahaya karena ban itu membatasi saluran pernafasannya," katanya.

Terlilit ban sejak 2016

Buaya berkalung ban ini mulai muncul tahun 2016 silam. Saat kemunculan pertamanya, bantaran Sungai Palu di Jembatan Palu 2 ramai dipadati warga. Saat itu, ada sekelompok anak muda yang ingin membebaskan ban di leher buaya itu, namun pihak BKSDA melarang anak-anak muda yang tidak punya keahlian tersebut.

Buaya berkalung ban ini merupakan buaya muara yang bernama latin Crocodilus porosus. Buaya muara ini dikatakan mampu tumbuh hingga sepanjang 12 meter.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Matt Wright mengaku akan terus kembali hingga buaya tersebut masuk perangkap.

Ketua Satgas Penyelamatan Satwa Liar, Haruna, mengatakan BKSDA pernah menyelidiki asal mula buaya tersebut terjebak ban di 2016.

"Berdasarkan investigasi kami, buaya ini berasal dari Desa Loli, ditangkap sama masyarakat yang ada di Loli. Ia ditambatkan dipinggir laut, karen takut kalau pakai nilon akan melukainya, maka dimasukanlah ban yang diikatkan nilon. Kemudian tali nilon itu terlepas dan buaya ini lepas dengan membawa ban di lehernya. Motifnya sederhana, dia mau memelihara buaya itu sehingga banyak yang menonton, dan bisa mendapatkan sesuatu dari banyaknya penonton yang melihat itu," kata Haruna.

Selain Matt Wright dan Chris Wilson, Panji Petualang pernah ke Palu pada 2018 dalam misi yang sama, yang tidak berujung pada keberhasilan. Akankah misi tersebut membuahkan hasil kali ini?

Berita terkait