Internet masuk desa

Internet masuk desa
Image caption Sejumlah warnet berdiri di Wonosari Kab Gunung Kidul, DI Yogyakarta

Perangkat komputer dan akses internet yang lambat membuat pemanfaatan teknologi informasi internet di desa-desa tidak optimal.

Direktur Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara atau Permina di Jogjakarta, Among Kurnia Ebo mengatakan hambatan lain terkait pemanfaatan intenet di desa adalah adalah kultur masyarakat yang tidak akrab dengan dunia internet.

Permina adalah salah satu organisasi yang menggagas penggunaan internet untuk para peternak ikan.

Tidak terbiasanya masyarakat dengan internet ini, menurut Among, menyebabkan penduduk desa lebih memilih jalur konvensional untuk menjalankan bisnis atau mendapatkan informasi soal pertanian dan peternakan.

"Ternyata internet tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat desa, mereka lebih memilih mengembangkan pasar secara tradisional ketimbang menggunakan teknologi," kata Among.

Pengenalan internet kepada masyarakat desa ternyata tak semudah yang dibayangkan, apalagi mereka selama ini bekerja sebagai petani, peternak dan pengrajin.

Keengganan untuk menggunakan internet diakui oleh Budi Suyoto peternak Gurame di desa Jambidan, Kabupaten Bantul.

“Saya ini gaptek, saya tidak pernah memanfaatkan internet, selama ini pemasaran produk dilakukan melalui pasar yang sudah ada,” kata Budi.

Meski perangkat internet gratis tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani atau peternak ikan gurame tetapi sejumlah peternak ikan di Bantul memanfaatkan internet untuk penjualan.

"Mereka yang menggunakan internet biasanya berusia muda, tetapi ya tidak memanfaatkan internet gratis yang pernah disediakan, " tambah Among.

Internet masuk desa

Warung internet atau Warnet dengan mudah dapat anda temui di jalan-jalan utama pedesaan di daerah Istimewa Yogyakarta terutama di ibukota kabupaten ataupun kecamatan, seperti di Wonosari Kabupaten Gunung Kidul.

Selain warung internet, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul juga menyediakan akses internet gratis bagi masyarakat di media centre Kantor Komunikasi dan Informasi, sejak pertengahan 2008 lalu.

Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Dinas Perhubungan Kominfo Kabupaten Gunung kidul, Galih Sapto mengatakan tujuannya agar masyarakat bisa memanfaatkan internet untuk menambah pengetahuan mereka.

Tetapi ternyata hanya segelintir warga yang menggunakan akses internet gratis itu.

"Hampir 80 persen yang menggunakan adalah wartawan, 20 persen warga tapi yang bekerja di LSM, dan pelajar, sedangkan masyarakat umum tak ada yang menggunakan, mungkin karena lokasinya di sini (Kantor Kominfo) jadi masyarakat segan,” jelas Galih.

Padahal selain di media center, juga disediakan hot spot gratis untuk akses internet di sekitar pendopo kabupaten.

Galih mengatakan para pelajar juga sedikit yang mengakses internet di media center, karena di sekolah mereka sudah tersedia.

Di sejumlah warnet di ibukota kabupaten Gunung Kidul ini terlihat juga pelajar ataupun anak muda yang mengakses internet untuk mengunduh data ataupun sekedar main games.

Internet bagi peternak

Image caption Hampir seluruh peternak ikan Gurame Bantul belum membutuhkan internet

Program internet gratis masuk desa juga pernah dilakukan di di desa Jambidan, Kabupaten Bantul, tetapi hanya efektif berjalan selama 6 bulan saja.

Bantuan yang datang dari perusahaan penyedia perangkat lunak Microsoft itu, teronggok di kantor kepala desa Jambidan.

Warga enggan menggunakan karena kualitas perangkat komputer dan akses yang lambat.

Internet untuk peternak ikan gurame itu digagas oleh Perhimpunan Masyarakat Perikanan Nusantara, Permina, sebagai salah satu program rehabilitasi pasca gempa Yogyakarta 2006 lalu.

Permina melihat daerah penghasil ikan gurame itu membutuhkan internet gratis untuk meningkatkan kualitas produk dan membangun jaringan kerja.

Pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 30 juta orang atau sekitar 12,5 % dari jumlah penduduk, menurut www.internetworldstats.co.

Sebagian besar pengguna internet berada di kota besar, tetapi beberapa tahun ini internet juga sudah menjangkau pendesaan.

Desa 'pinter'

Dalam program 100 hari, Kementrian Komunikasi dan Informatika menyebutkan sudah mendirikan 100 Desa Pinter yaitu desa yang berbasis internet USO.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari program desa berdering yang sudah ada sebelumnya.

"Pak Tifatul punya program desa pinter berbasis internet, jadi masing-masing provinsi mendapat tiga desa pinter, jadi tinggal kita up grade saja dari desa berdering supaya bisa berbasis internet, itu sudah clear," jelas Gatot.

Dalam program desa pinter ini, setiap provinsi mendapatkan tiga jatah bantuan perangkat komputer dan modem.

Image caption Komputer dan internet di Desa Pinter Yogyakarta tak lagi berfungsi.

Tiga desa di Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogjakarta DIY disebut sebagai desa pinter.

Tetapi hanya Desa Kaligintung yang mendapatkan bantuan perangkat komputer dan modem untuk mengakses internet.

Sementara desa Kalidengen dan Plumbon belum mendapatkan perangkat komputer dan modem meski sudah dijanjikan sejak awal Januari lalu.

Kepala Desa Kaligintung Hepson Purnomo mengatakan akses internet hanya bisa dinikmati selama kurang dari satu minggu, setelah itu tak bisa lagi digunakan.

"Komputernya mati, kita sudah mencoba menghubungi rekanan, dan juga dari Telkomsel tetapi belum ada respon hingga saat ini, kalau begini kondisinya kami juga yang repot nanti," tambah Hepson.

Apalagi Hepson mengatakan setelah enam bulan desa harus membayar biaya langganan internet sebesar 400 ribu rupiah kepada operator telekomunikasi.

Tahun 2010-2011 Kementrian Komunikasi dan Informatika menargetkan program layanan internet ini 5.748 bisa menjangkau kecamatan.

Layanan internet akses internet USO rencananya akan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perangkat dan masyarakat desa, seperti pengenalan internet dan menunjang berbagai program di pedesaan dan pendidikan.

Tetapi jika kualitas perangkat komputer dan jaringan internet tidak memenuhi standar tentunya program desa pinter tak mendatangkan manfaat bagi masyarakat desa.