Pekerja asing di Batam didesak minta maaf

Amuk massa buruh di Batam menimbulkan kerusakan fisik
Image caption Amuk massa buruh di Batam menimbulkan kerusakan fisik

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi meminta pekerja asing asal India untuk meminta maaf kepada pekerja lokal pasca terjadinya kerusuhan yang melibatkan ribuan pekerja di Batam Kamis (22/04) kemarin.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, kepada Wartawan BBC di Jakarta, Andreas Nugroho, menjelaskan langkah ini merupakan salah cara yang diharapkan dapat memulihkan hubungan pekerja di sana pasca kerusuhan.

"Langkah utama perusahaan harus beroperasi dulu, kemudian pihak keamanan, pemerintah dan pekerja lokal menjamin kondisi keamanan dan bisa berjalan baik. Salah satu solusinya kan teman-teman yang dari India itu harus minta maaf dulu dan pihak manajemen sudah minta maaf terjadinya kesalahan beberapa orang saja," kata Muhaimin.

Kerusuhan di Batam kemarin seperti dikutip dari media lokal disebabkan oleh pengawas asal India di PT Drydock World Graha yang memaki pekerja asal Indonesia dengan kata-kata "bodoh".

Kerusuhan yang melibatkan ribuan buruh itu menyebabkan setidaknya 12 mobil yang diparkir di halaman perusahaan dirusak dan dibakar.

Kepolisian menyebutkan ada sembilan orang mengalami luka, lima diantaranya adalah warga asing, dan belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

Kementrian ini juga sudah membentuk Tim Pencari Fakta yang dipimpin oleh Haiyani Rumondang, Direktur Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Direktorat Jendral Perselisihan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial dan mereka akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Batam.

"Tim pencari fakta kita sedang bergerak dan akan langsung menangani gap komunikasi, seputar aturan ketenagakerjaan dan menjadi jembatan sekaligus upaya agar Senin perusahaan itu bisa beroperasi lagi," kata Muhaimin Iskandar.

Tim kata dia akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Batam untuk mengetahui juga kebenaran seputar masalah-maslah seperti keterlambatan gaji atau manajemen pengaturan hubungan pekerja asing dan lokal.

Perbaikan sistem kerja

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, FSPMI, yang mengaku membawahi sekitar lima ribu buruh di salah satu anak perusahaan Drydock di Batam meminta ada perbaikan sistem kerja yang ada di perusahaan tersebut.

Menurut Presiden FSPMI, Said Ikbal selama ini pekerja di galangan kapal harus memenuhi alat keselamatan kerjanya dengan dana mereka sendiri, upah mereka juga murah dan dipotong oleh agen karena sebagian adalah pekerja outsourcing dan tidak ada jaminan kesehatan.

"Emosi mereka terbangun dari pemicu seperti ini, mereka sebenarnya dikatakan orang Indonesia stupid kan sebenarnya itu biasa saja, tapi ini berlarut dengan tekanan kerja, penghasilan tidak memadai, pemerintah yang membiarkan, akhirnya terjadi kerusuhan yang besar itulah pemicunya kondisi yang terjadi perusahaan galangan kapal, termasuk Drydock," kata Said Ikbal.

Ikbal mengatakan mereka akan menyampaikan tuntutan ini kepada pemerintah dalam dialog yang rencannya akan dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pasa terjadinya kerusuhan.

Selain itu mereka juga meminta tidak adanya pembedaan upah antara pekerja asal Indonesia dan asing yang mengerjakan lingkup bidang kerja yang sama.

Asosiasi Pengusaha Indonesia, Apindo, memperkirakan, kerugian langsung yang diderita pengusaha akibat kerusuhan di Batam kemarin mencapai setidaknya Rp 10-20 miliar.

Kerusuhan Batam yang terjadi hanya seminggu setelah peristiwa kerusuhan di Priok dikhawatirkan akan menggangu iklim berusaha di Indonesia.

Pemerintah memastikan kondisi di Batam sudah kondusif, polisi juga telah mengerahkan setidaknya 300 lebih polisi dari Brimob untuk mengamankan kota Batam.

"Kasus ini sangat lokal dan sangat internal perusahaan," kata Muhaimin Iskandar.