Peringatan bahaya tsunami dicabut

peta gempa Aceh

Warga Aceh yang sempat lari ke tempat-tempat yang lebih tinggi menyusul gempa 7,2 skala Richter hari Minggu (9/5) telah berangsur-angsur pulang ke rumah masing-masing, setelah peringatan bahaya tsunami dicabut oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gempa itu sendiri terjadi pada pukul 12.59 WIB dengan kedalaman 30 km pada posisi 3,61 Lintang Utara dan 95,84 Bujur Timur.

Menurut pantauan BMKG Gempa tersebut berkekuatan 7,2 pada skala Richter. Sedangkan, Badan Survey Geologi AS (USGS) mencatat gempa tersebut berkekuatan 7,4 pada skala Richter.

Beberapa rumah dilaporkan rusak dan sebagian jaringan telepon terputus.

Episentrum atau pusat gempa hari Minggu berada 66 km barat daya Meulaboh pada kedalaman 61,4km, menurut USGS.

Peringatan bahaya tsunami dikeluarkan oleh pihak berwenang, namun dicabut sekitar 90 menit kemudian.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa yang jatuh akibat gempa Minggu siang.

Getaran gempa dilaporkan juga terasa di provinsi bertetangga, Sumatra Utara, termasuk Medan, dan juga di Sibolga, sekitar 365 km arah barat kota Medan.

Panik

Gempa hari Minggu banyak warga masyarakat ibukota NAD, Banda Aceh tersebut panik.

Warga terutama yang tinggal atau berada di kawasan pesisir seperti Lampulo, dan daerah-daerah yang dulu hancur akibat terjangan tsunami pada 2004 memenuhi jalan-jalan dengan membawa seluruh anggota keluarga mereka untuk mengungsi ke daerah yang lebih tinggi dengan berbagai kendaraan.

Salah satu tujuan mereka adalah daerah Lambaro yang berjarak sekitar 10 km dari pesisir pantai.

Arus warga yang ingin menuju ke tempat-tempat yang lebih itu menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan di Banda Aceh.

Daerah gempa hari Minggu (9/5) tersebut berada di dekat kawasan yang diguncang gempa berkekuatan 9,2 pada skala Richter pada Desember tahun 2004.

Sekitar 170.000 orang meninggal di Aceh dan Sumatra Utara akibat gempa 2004 dan tsunami yang timbul sesudahnya.

Gelombang tersebut menyebar ke seluruh Samudera Hindia dan juga menimbulkan korban tewas dan kehancuran di Sri Lanka, Birma dan Thailand.