Belanda kalah Ambon rusuh

Pendukung Belanda di Ambon
Image caption Pendukung Belanda di Ambon mengamuk setelah tim Oranye kalah dari Spanyol

Gara-gara sikap fanatik yang berlebihan terhadap tim 'Oranye' Belanda yang berlaga di Piala Dunia 2010, warga kota Ambon terlibat bentrokan.

Para pendukung Belanda yang kesal karena kekalahan di final itu, bentrok dengan orang-orang yang disebut pendukung Spanyol.

Hari Seni pagi, pendukung tim Belanda yang disebutkan jumlahnya lebih banyak terlibat saling lempar batu dengan pendukung Spanyol, di kawasan Jalan Diponegoro, di tengah Kota Ambon.

Wartawan Radio Suara Pelangi di Kota Ambon, Mey Chresentia yang meliput peristiwa itu mengatakan, bentrokan ini lebih dilatari fanatisme terhadap tim yang didukung, dan tidak menjurus kepada latar belakang keyakinan.

"Kalau itu pun ada (terkait agama), masyarakat sudah bisa mengendalikan diri," kata Mey Chresentia kepada BBC Indonesia.

Menurut Mey, bentrokan itu juga murni antar kampung dan bukan antar agama atau golongan.

"Indikasinya, misalnya, yang terjadi di kawasan Batu Merah, itu 'kan antar kampung, yang mayoritasnya beragama Islam. Begitu juga yang terjadi di Batu gantung, itu kawasan kristen semua. Mereka saling lempar," ungkap Mey.

Pendukung setia Belanda

Para pendukung Tim Belanda menurut Mey Chresentia tidak hanya didominasi orang-orang Kristen, tetapi juga Muslim.

"Bahkan di kampung Muslim di Tulehu, juga merupakan basis tim Belanda," katanya.

Ini menurutnya sekaligus mementahkan anggapan yang menyebut pendukung Belanda indentik komunitas Kristen.

Menurut Mey, pendukung tim Belanda selalu menggelar pawai keliling kota Ambon, usai pertandingan yang melibatkan Tim Belanda berakhir.

Dan dibandingkan pendukung Brazil atau Spanyol, pendukung tim Oranye disebutnya jauh lebih besar dan lebih fanatik.

Fanatisme ini, masih menurut Mey, terlihat dari coretan-coretan di tembok di sejumlah sudut Kota Ambon yang bertuliskan "Viva for Holland" atau "Katong Orang Maluku bangga for Holland".

"Bendera Belanda berukuran besar atau kecil juga gampang di jumpai di Ambon," kisahnya.

"Para fanatikus tim Belanda inilah yang juga terlibat bentrok dengan pendukung Brazil, usai laga perempat final yang dimenangkan Belanda, awal Juli lalu," kata Mey, yang belakangan sibuk menjelaskan orang-orang di luar Maluku tentang latar belakang bentrokan ini

Akibat peristiwa ini puluhan rumah di kawasan Batu Merah, hangus terbakar, dan menyebabkan seorang warga Desa Batu Merah Kampung, tewas.

Saling mengejek

Image caption Warga Ambon bangga dengan sejumlah pemain Belanda keturunan Ambon, salah satunya adalah Giovani van Bronckhorst

Polisi setempat juga meyakinkan bentrokan ini murni karena murni fanatisme sepakbola, dan sama-sekali tidak terkait latar belakang agama.

Situasi keamanan di Ambon dan sekitarnya sejauh ini dipastikan telah normal kembali, meski sejumlah aparat masih ditempatkan di lokasi tertentu yang rawan bentrokan.

Polda Maluku sejauh ini masih menyelidiki insiden ini, tetapi mereka memastikan bentrokan itu tidak terkait dengan kerusuhan antara agama seperti yang melanda Maluku sekian tahun silam.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Maluku AKBP Johanis Huwae, fans Belanda semenjak piala dunia digelar, selalu melakukan pawai bermotor keliling kota Ambon.

Dan insiden bentrokan pada Senin dini hari tadi, menurutnya, juga diawali pawai seperti itu.

"Mungkin karena ada orang yang nggak suka (dengan kekalahan tim Belanda), terus terjadi gesekan," ungkap Johanis Huwae.

Insiden kekerasan antar suporter pada awal Juli lalu usai pertandingan Brazil-Belanda, menurutnya juga dilatari kejadian serupa.

"Awalnya saling mengejek," kata Johanis.

Karena itulah, demikian kesimpulannya, bentrokan ini tidak dilatari masalah keagamaan.

"Saya ambil contoh, yang terjadi di kawasan Batu Merah, itu 'kan di dalam kampung atau komunitas Islam sendiri," tandasnya.

Diakuinya, penggemar Belanda di Maluku sangatlah besar. Ini disebutnya tidak terlepas dari kehadiran sejumlah warga keturunan Maluku di tim Belanda pada piala dunia 2010 ini.

Salah-seorang keturunan Maluku yang memperkuat tim Belanda pada Piala Dunia 2010 adalah Giovani van Bronckhorst, bek kiri sekaligus kapten tim. Dia disebutkan beribu asal Maluku yang bermarga Sapulete.

Pada tahun 80-an, ada pemain peranakan Ambon lain yang juga cukup dikenal yaitu Simon Tahamata, serta Sonny Silooy. Kehadiran mereka inilah yang disebut sebagai perekat emosi antara warga Ambon dengan tim Oranye, selain faktor sejarah dan politik antara Ambon dan Belanda.

Berita terkait