Pembicaraan soal harimau dimulai

Harimau Sumatera
Image caption Harimau Sumatera hanya tersisa sekitar 400 ekor di alam liar

Pertemuan membahas ancaman terhadap keberadaan populasi harimau mulai Senin (12/07) diselenggarakan di Bali dan akan berlangsung hingga 14 Juli mendatang.

Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 13 negara pemilik harimau alami yang populasinya saat ini berkurang cukup drastis dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.

"Kalau kita lihat jumlahnya memang berkurangnya luar biasa, satu abad yang lalu jumlah harimau ada 100 ribu sekarang tinggal sekitar 4.000 harimau di seluruh dunia," kata Nazir Fuad, Direktur Kebijakan dan Pemberdayaan WWF Indonesia.

Di Indonesia populasi harimau Sumatera di alam liar saat ini tinggal sekitar 400 ekor.

Sementara itu, jumlah harimau Sumatera di berbagai kebun binatang di dalam dan luar negeri berkisar 250 ekor.

Indonesia pada akhir dekade tahun 1980-an harus kehilangan harimau Jawa akibat perburuan dan pembukaan lahan di beberapa negara sementara pada tahun 1940-an, Indonesia harus kehilangan harimau Bali.

"Pertemuan ini sangat langka karena ketigabelas negara akan membicarakan sebuah upaya konservasi yang terintegrasi."

Pertemuan ini merupakan bagian awal dari pertemuan tingkat tinggi yang akan berlangsung pada bulan September di Rusia.

Indonesia berharap dari pertemuan ini ada kesepakatan bersama dalam melindungi populasi harimau yang tersisa.

"Dalam pertemuan awal kali ini ada tiga hal yang akan dibicarakan salah satunya adalah bagaimana menghimpun dana untuk melestarikan populasi harimau yang masih tersisa," kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan, Darori, kepada Wartawan BBC Indonesia, Ervan Hardoko.

Kesulitan anggaran

Menurut Darori upaya konservasi Harimau di Indonesia tidak mudah dan menghadapi berbagai kendala seperti perburuan, perusakan hutan dan anggaran yang terbatas untuk kawasan konservasi.

"Di dunia, anggaran Indonesia termasuk sangat kecil jika dibandingkan dengan negara lain karena kawasan konservasi kita hampir 28 juta hektar jadi kalau dibagi persatuan anggaranya saat ini sekitar US$ 2 sampai US$ 3 per hektar. Padahal di Amerika sudah diatas US$ 40 dan di Malaysia anggaran untuk konservasinya mencapai US$ 16 per hektar."

Menurutnya anggaran yang terbatas membuatnya sulit mengelola sejumlah kawasan konservasi.

"Kita sedang merancang bagaimana taman nasional bisa dikelola oleh pihak swasta artinya dengan pendampingan dan dana CSR dari perusahaan swasta bisa diarahkan ke taman nasional sehingga perbaikan taman nasional bisa dipercepat," kata Darori.

Ditengah keterbatasan anggaran untuk menjaga populasi harimau, beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia sudah menggulirkan rencana pemulihan populasi harimau Indonesia yang mulai dilakukan pada tahun depan hingga akhir tahun 2022.

"Nanti kami harapkan jumlah harimau di alam liar pada 2022 akan mencapai 800 ekor."

Dalam rencana itu dipilih enam bentang alam terpenting bagi konservasi harimau. Keenamnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan, TN Kerinci Seblat, TN Kerumutan, TN Bukit Tigapuluh, Balai Rejang Selatan, dan Ulu Masen.

Namun upaya pemerintah ini tidak akan berhasil jika penempatan harimau di beberapa lokasi konservasi tidak optimal.

"Pemerintah memang sudah menetapkan banyak taman nasional sebagai habitat harimau. Namun hal ini belum optimal karena kemarin banyak kawasan yang penting jadi lokasi tempat tinggal harimau justru tidak masuk ke dalam kawasan yang dilindungi," kata Nazir Fuad.