Panggil saya 'King Raja'...

Terbaru  26 April 2011 - 15:49 WIB

Rajagopal menyatakan campur tangan politik tidak akan memajukan sepakbola.

Keberhasilannya mengangkat prestasi sepak bola Malaysia di kancah persepakbolaan Asia Tenggara, membuat pencinta sepak bola negeri itu menjulukinya 'King Raja'.

Rajagopal Krisnhasamy, sang nakhoda tim nasional sepak bola Malaysia, menyebut keberhasilannya itu antara lain tidak terlepas dari sikap Pemerintah Malaysia yang tidak mencampuradukkan antara sepak bola dan politik.

"Di sini tidak (ada politisasi sepakbola), karena itulah kita dapat kejayaan," kata Rajagopal, 55 tahun, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di kantor Football Association of Malaysia, FAM, di Kuala Lumpur, Malaysia, hari Kamis (14/4) lalu.

"Saya diberi ruang, diberi semua peluanglah, tidak ada gangguan, untuk melatih pasukan kita dan kita berjaya di Piala AFF 2010," katanya lagi.

Selain menjuarai Piala AFF 2010 lalu, dengan menekuk Indonesia di final, anak asuh Rajagopal sebelumnya meraih medali emas di ajang Sea Games 2009 di Laos.

Di ajang olahraga bergengsi negara-negara Asia Tenggara ini, tim 'Harimau Malaysia' ini menaklukan tim kuat Thailand, sebelum mengalahkan Vietnam di partai puncak.

Wawancara selengkapnya dengan Rajagopal disiarkan di BBC Indonesia, pukul 05.00 WIB, Hari Jumat, 29 April 2011.

Keberhasilan ini disebut-sebut telah menyamai -- atau bahkan melampaui -- prestasi para legenda sepakbola negeri jiran itu di tahun 60-an atau 80-an.

Raihan prestasi berturut-turut ini kemudian meroketkan nama Rajagopal, sang pelatih. Lelaki kelahiran Kota Selangor, Malaysia ini, disebut mampu mengangkat kembali prestasi sepakbola Malaysia dari keterpurukan.

Usai kemenangan itu, warga negeri itu lantas menyanjungnya -- media setempat bahkan ramai-ramai menjulukinya sebagai 'King Raja'.

Dan lebih dari itu, Pemerintah Malaysia kemudian menetapkan satu hari libur nasional untuk merayakan prestasi tim nasional sepakbolanya.

Edisi April 2011

Wawancara Heyder Affan dengan Rajagopal Krisnhasamy, nakhoda tim nasional sepak bola Malaysia tentang resep membina timnas.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Utamakan pemain muda

Ditemui di ruang kerjanya yang dipenuhi foto dan poster sepakbola (termasuk posenya dengan mantan gelandang klub Manchester United dan kapten Timnas Inggris di tahun 80-an, Bryan Robson), Rajagopal bercerita banyak tentang kisah suksesnya membesarkan timnas Malaysia.

Pemain muda mendominasi tim nasional Malaysia dalam Piala AFF 2010 lalu.

Mantan penyerang tim nasional Malaysia (1980-1983) ini menyebut dua kata kunci di balik keberhasilannya yaitu "mengutamakan pemain muda" dan "mengenali karakter para pemain".

Setelah ditunjuk sebagai pelatih timnas Malaysia pada tahun 2009 lalu, lelaki berambut perak ini mengutamakan para pemain muda (di bawah usia 23 tahun) -- yang sebagian besar telah dia kenali.

Raja sebelumnya memang pernah dipercaya melatih Timnas Malaysia usia 20 tahun (2004-2006) dan usia 19 tahun (2007-2009).

Lebih dari 9 tahun membesarkan para pemain muda ini, membuat pengagum manajer Man United Alex ferguson ini akhirnya mengenal dan memahami para karakter anak asuhnya, sehingga disebutnya menyerupai "satu keluarga yang saling percaya".

"Karena tiap-tiap pemain saya sudah tahu tingkah laku dan karakter, dari usia 18 tahun sampai 23 tahun," ungkap ayah dua anak ini.

"Karena tiap-tiap pemain saya sudah tahu tingkah laku dan karakter, dari usia 18 tahun sampai 23 tahun."

"Ini memberi saya lebih paham kedalaman tiap-tiap pemain," tambahnya.

Adapun pilihannya dijatuhkan kepada para pemain berusia muda, menurut Raja, karena mereka lebih punya "daya juang tinggi" dan "bertenaga".

Perpaduan faktor usia muda dan mengenali karakter pemain itulah yang membuat anak asuhnya kemudian mampu menjungkalkan tim-tim kuat seperti Thailand, Vietnam atau Indonesia.

"Inilah yang membawa kekuatan mental pemain-pemain kita dalam bersaing dengan pasukan-pasukan yang lebih senior, atau lebih kuat, daripada kita," ungkapnya dalam wawancara yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Melayu itu.

Di luar semua itu, mantan pemain Klub Selangor FC (1978-1989) ini menyebut kedisiplinan dan kepercayaan kepada pemain sebagai faktor penunjang lainnya.

Sekolah sepakbola

"Kita mempunyai suatu rancangan yang baik," ungkap Raja bersemangat, ketika saya tanya ihwal sistem pembinaan sepak bola pada anak-anak usia muda di negaranya.

Bersama cabang olah raga lain, Pemerintah Malaysia membangun semacam sekolah olahraga untuk mendidik olahragawan berbakat. Namanya Bukit Jalil Sports School.

Kepada Heyder Affan, Rajagopal mengungkap resep keberhasilan timnas Malaysia meraih prestasi.

Diresmikan tahun 1996, proyek ambisius ini digelar di kawasan seluas lebih dari 5 hektar di kawasan Bukit Jalil, di pinggiran Kota Kuala Lumpur.

Khusus sekolah sepakbola, menurut Raja, FAM (PSSI-nya Malaysia) menggelar pembinaan berjenjang dan berkesinambungan, dengan mengkategorikan berdasarkan usia siswa -- mulai umur di bawah 15 tahun sampai 23 tahun.

"Kalau kita tidak mempunyai satu pembangunan bola sepak yang kokoh, kita tidak akan maju-maju," katanya seraya menambahkan, kompetisi rutin pun digelar dalam sekolah tersebut.

Sekarang, para siswa sekolah sepak bola ini banyak yang dipilih Rajagopal untuk memperkuat tim nasional senior Malaysia.

Bahkan jumlah mereka lebih mendominasi jika dibanding anggota timnas yang direkrut dari klub-klub Liga Profesional Malaysia.

Raja sengaja mengutamakan merekrut siswa sekolah sepak bola itu, karena fisik mereka lebih baik, saling mengenal (mulai usia di bawah 15 tahun, 18 tahun, dan 19 tahun), dan telah mendapat pembinaan dan pendidikan yang baik.

"Jadi, mereka cepat mencuat dalam permainan. Mental kuat, fisik kuat," tandas Rajagopal yang saat menjadi pemain tak pernah bermimpi menjadi pelatih ini.

Tanpa pemain asing

Sejak tahun 2009 lalu, Malaysia memutuskan tidak menggunakan pemain asing di kompetisi liganya.

Sebelumnya, seperti di Indonesia sekarang, banyak pemain asing bertaburan di berbagai klub-klub negeri jiran itu.

Tanpa pemain asing, kompetisi sepakbola Malaysia memberi tempat pemain lokal.

Bahkan dua pemain Indonesia -- Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy -- sempat merumput dan menjadi idola di Malaysia.

Namun FAM menyadari kehadiran pemain asing membuat potensi pemain lokal tenggelam. Inilah yang melatari kebijakan pelarangan penggunaan pemain asing di Liga Malaysia.

"So, ini memberi peluang pemain-pemain tempatan (lokal) untuk bermain lebih baik," kata Rajagopal.

Raja menganalisa, kebijakan ini pula yang kemudian membawa "kejayaan tim Malaysia". "Karena lebih memberi pemain-pemain lokal dalam posisi-posisi yang penting," katanya lagi.

Namun Rajagopal buru-buru menambahkan, "Bukan saya mengatakan bahwa kita tak perlu pemain asing".

"Kalau kita ada pemain asing, maksimum dua pemain, dan yang bermain mesti berkualitas, dan jangan lebih usia dari 26 atau 27."

Menurutnya, kemungkinan pada tahun 2012 nanti, Malaysia akan kembali menerima pemain asing.

"Kalau kita ada pemain asing, (itu nanti) maksimum dua pemain. Yang akan bermain mesti berkualitas, yang umur dia janganlah lebih usia dari 26 atau 27, jangan lebih dari 30 tahun," papar Raja yang bercita-cita dapat melatih Klub Manchester United.

Dia khawatir, kalau pemain asing yang direkrut terlalu tua dan kualitasnya kurang maksimal, "Kita tak akan manfaatkan belajar sesuatu dari pemain ini".

Persaingan di Asia

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Rajagopal juga menyinggung permasalahan utama yang menghinggapi sepak bola negara-negara di Asia Tenggara, yang membuat mereka kalah bersaing dengan negara-negara di kawasan lain benua ini.

Rajagopal yang mengaku menganut filosofi 'sepak bola menyerang' ini, menyebut persoalan terbesar itu adalah belum mengakarnya sikap profesional di kalangan pesepakbola Asia Tenggara -- mulai pemain hingga pengurus organisasinya.

Rajagopal tertarik melatih tim nasional Indonesia.

Indikasinya, menurutnya, masih terjadinya pencampuradukkan masalah sepakbola dan politik.

"Kita terlalu memberi ruang kepada lain-lain, mungkin aspek politik, yang mengganggu persiapan tiap-tiap pasukan di Asia Tenggara," kata Raja dalam bahasa Melayu yang kental.

Selama masalah ini tidak ditangani secara serius, tambahnya, sulit mengharap negara-negara itu dapat bersaing dengan Korea Selatan, Jepang, China, atau negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Padahal, menurutnya, para pemain sepak bola di sejumlah negara Asia Tenggara -- Raja menyebut Thailand, Indonesia, Vietnam, atau Malaysia -- tak kalah dengan negara lain.

Agar bisa bersaing, menurutnya, "Kita harus memberi fokus 100 persen dalam era profesisonal dalam permainan bola sepak".

Indonesia-Malaysia

Laga terakhir timnas sepak bola Malaysia dan Indonesia -- yang selalu diwarnai situasi yang emosioanl -- adalah di Stadion Gelora Bung Karno, di partai final Piala AFF, akhir Desember 2010.

Walaupun Indonesia memenangkan laga ini (dengan skor 2-1), namun Malaysia tampil sebagai juara, setelah di kandangnya mereka mengalahkan Indonesia 3-0.

Dalam dua pertandingan klasik itu, puluhan ribu pendukung masing-masing tim memadati kedua stadion.

Situasi emosional selalu mewarnai laga Indonesia-Malaysia

Dengan menghela napas panjang, Rajagopal berkata situasi emosial selalu mewarnai setiap timnya bertemu 'pasukan Merah-Putih'.

Situasi seperti itu diakuinya terkadang dapat menular kepada para pemain di lapangan. "Tapi saya arahkan agar pemain untuk fokus pada permainan".

"Mungkin ini adalah suatu sejarah daripada mula apabila Indonesia dan Malaysia bermain," ungkapnya, agak menganalisa.

"Bukan saja sepakbola, tetapi juga badminton," katanya lagi.

Namun menurut pengagum permainan tim Brazil di era 70-an ini, fanatisme itu hanya terlihat saat pertandingan berlangsung.

Dia berharap, sepak bola seharusnya bisa mempererat hubungan dua negara bertetangga ini.

Melatih Tim Indonesia

Jika sebuah klub peserta Liga Indonesia tertarik merekrut Anda sebagai pelatih, apakah Anda tertarik? Tanya BBC Indonesia.

"Kemungkinan ya," katanya dengan kalimat agak menggantung.

Tetapi, lanjutnya kemudian, "Saya ingin jadi pelatih tim Indonesia, bukan klub".

Meskipun demikian, Rajagopal sejauh ini ingin lebih serius menangani Tim Nasional Malaysia.

"Kalau kita layak kepada Australia pada 2015 dan menunjukkan satu prestasi yang baik, itu memberi keyakinan bahwa kita ada peluang untuk layak ke Piala Dunia 2018."

Dia memasok target agar anak asuhnya dapat lolos ke putaran final Piala Asia 2015 di Australia.

Jika tim yang diasuhnya dapat menuai prestasi di ajang bergengsi sepakbola Asia itu, barulah dia mematok untuk lolos pada Piala Duia 2018 di Rusia.

"Kalau kita layak kepada Australia pada 2015 dan menunjukkan satu prestasi yang baik, itu memberi keyakinan bahwa kita ada peluang untuk layak ke Piala Dunia 2018," tandasnya.

Ditanya siapa yang paling mempengaruhinya sehingga mampu menjadi pelatih timnas Malaysia yang disebut berhasil, Raja berpikir panjang.

Tetapi dia tak menyebut nama seseorang atau pelatih terkenal, yang menginspirasi dirinya.

Menurutnya, motivasi itu lebih banyak datang dari dirinya sendiri. "Itu datang dari diri sendiri. Saya mengadakan suatu impian," tegas Raja, kembali dalam Bahasa Melayu.

"Impian bahwa saya 'nak jadi juru latih terbaik di Malaysia," kata Raja, seraya menambahkan keyakinan inilah yang kelak membuatnya selalu berpikir optimis bahwa tim asuhannya akan mampu menapak prestasi lebih baik.

"Itu adalah daripada hati saya sendiri, feeling, emotional... Saya tak mencontoh pelatih yang lain," kata Rajagopal, sekaligus menutup wawancara yang berlangsung sore hari itu.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.