Andrew, Kaskus dan kegairahan itu

Terbaru  28 Juni 2011 - 21:30 WIB

Andrew Darwis merintis bisnis online bermula dari kesenangannya bermain internet.

Diawali kegemaran bermain internet, pemuda Andrew Darwis kini tampil sebagai pengelola situs online terbesar di Indonesia.

Portal Kaskus yang didirikannya tahun 1999 lalu, sekarang punya anggota sekitar 3 juta orang dan setiap satu bulan bisa meraup keuntungan sekitar 1 miliar Rupiah.

Andrew Darwis, kelahiran 20 Juli 1979, menganggap keberhasilannya mengelola bisnis online ini tidak terlepas dari kegairahannya (passion) dalam berkutat di dunia internet.

"Yang paling penting dalam menjalankan suatu bisnis adalah passion ya," kata Andrew Darwis dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, di kantor Kaskus di kawasan Melawai, Jakarta, hari Rabu (22/6) siang lalu.

Dia lantas mengenang ketika kali pertama mendirikan portal miliknya itu saat kuliah di Amerika Serikat, tahun 1999 lalu.

Saat itu, tanpa pemasukan sama-sekali, Andrew dan dua rekannya merintis pendirian Kaskus.

"Jadi selama 8 tahun pertama itu lumayan berdarah-darah, kita tak ada keuntungan, tapi kita senang karena website itu membawa keuntungan banyak orang lain," ungkapnya.

"Passion itu penting, tapi untuk menjalankan bisnis membutuhkan profit, dan juga membutuhkan uang untuk mengembangkan bisnisnya."

Andrew Darwis

Dikelola dari Amerika Serikat, situs itu semula memang berisi berita atau informasi tentang Indonesia yang disiapkan untuk konsumsi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Tetapi itu semua berubah, ketika perkembangan internet di Indonesia mulai berkembang pesat, yang membuat Andrew memilih pulang dan bertekad mengembangkan bisnis online.

"Jadi, memang passion itu penting, tapi untuk menjalankan bisnis, itu membutuhkan profit, dan juga membutuhkan uang untuk mengembangkan bisnisnya," ungkap Andrew, peraih penghargaan The Online Inspiring Award 2009 dan beberapa penghargaan lainnya.

Jual beli

Pilihan Andrew terjun total ke dunia bisnis online tidak terlepas dari kehadiran Ken Dean Lawadinata dan Danny Wirianto, yang kelak ikut membesarkan pula Kaskus melalui bendera PT Data Media Indonesia – didirikan tahun 2008.

Melalui berbagai upaya yang tidak mudah, pengelola portal ini kemudian mampu menggaet pengunjung -- yang belakangan menjadi anggota (member) -- dan akhirnya mengundang perusahaan-perusahaan untuk memasang iklan di situs mereka.

Dari ruangan kerja inilah, Andrew dan rekan-rekannya mampu mengorganisasi jual-beli secara online.

Di sisi lain, Andrew dan rekan-rekannya juga mengubah isi portal miliknya, termasuk menutup konten pornografi.

“Sesuai perkembangan, Kaskus berevolusi dari portal berita, lalu jadi komunitas forum. Dan, kemudian dalam perjalanannya berubah jadi forum jual-beli, menjadi e-comerce,” ungkapnya.

Kini, Kaskus dikenal sebagai portal yang memberi tempat terbesar pada forum jual-beli barang.

“Inilah yang akan menjadi fokus Kaskus ke depan,” kata Andrew.

Sekarang, sebagai penghubung secara online antara penjual dan pembeli, pendiri Kaskus ini menyatakan akan memperbaiki sistem pembayaran.

Ini disebutnya penting untuk membuat calon penjual dan pembeli menjadi nyaman.

“Kita tahun ini akan konsentrasi pada solusi sistem pembayaran, yaitu sebagai penengah,” ungkapnya seraya menambahkan, ini merupakan upaya membina kepercayaan dari anggota mereka.

Soal kepercayaan anggota itu ditekankan berulang-ulang oleh Andrew, karena keberadaan mereka tidak terlepas dari anggotanya yang disebutnya loyal.

Suntikan modal baru

Awal tahun 2011, suntikan modal baru diperoleh Kaskus dari Grup Djarum, melalui anak usahanya Global Digital Prima Venture.

Tidak pernah diketahui berapa besar kucuran modal itu, tetapi menurut Andrew, tambahan modal itu dibutuhkan untuk mengembangkan portalnya menjadi e-comerce.

"Karena saat ini para programer Indonesia itu pintar-pintar, tapi begitu lulus, mereka tak tahu perusahaan website mana yang bisa menerima mereka"

Dari tambahan modal itu, menurutnya, Kaskus akan menambah server menjadi total 250 unit, menargetkan menambah personil sampai 100 orang, serta pindah ke kantor yang lebih besar dalam waktu dekat.

"Karena kita mau mengembangkan Kaskus ke tingkat lebih jauh lagi," kata Andrew.

Jika semua itu terealisasi, Andrew kelak ingin merekrut sebanyak mungkin programer Indonesia.

"Karena, saat ini para programer Indonesia itu pintar-pintar, tapi begitu lulus, mereka tak tahu perusahaan website mana yang bisa menerima mereka," ujar lulusan Art Institute of Seattle, Amerika Serikat (2003), jurusan multimedia dan disain portal ini.

Kebanyakan mereka disebutnya kemudian memilih bekerja di perusahaan-perusahaan website internasional.

"Nah, saya ingin sekali bikin local brand Kaskus," kata pria kelahiran 20 Juli 1979 ini.

Terhadap kehadiran portal baru yang isinya mirip Kaskus, Andrew memandangnya dari kacamata positif.

Kepada Heyder Affan, Andrew Darwis mengaku modal baru dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis onlinenya.

Menurutnya, kehadiran pendatang baru itu justru bagus untuk industri internet, yang dianggapnya bisa mengedukasi market internet semakin besar.

Di jaman internet sekarang, tidak mungkin hanya satu website, kata Andrew.

"Kehadiran portal baru itu akan menarik pengguna internet untuk lebih mengakses internet. Dan itu artinya market pangsa pasar pengguna internet makin besar akhirnya," tandasnya, menganalisa.

Hanya saja menurutnya, yang belum dimiliki para pendatang baru itu adalah jumlah anggota -- yang tidak sebanyak dimiliki perusahaan portalnya. "Ini keunggulan kita," tandas Andrew.

Kaskus-isme

Saat mengunjungi kantor Kaskus -- yang terlihat sederhana -- di kawasan Melawai, Jakarta, hari Rabu (22/6) siang lalu, saya sebetulnya tidak begitu kaget.

Dari informasi yang saya peroleh sebelumnya, komunitas online terbesar di Indonesia ini memang digerakkan oleh anak-anak muda.

Dan ketika dipersilakan masuk ke ruangan kerja, suasana 'tidak serius' menyambut saya: suasana hiruk-pikuk berisi kelakar anak-anak muda, beberapa poster filem yang menempel di dinding, serta atmosfir santai.

Kaskus disebut mampu melahirkan istilah populer yang menyebar secara massal.

Tapi siapa nyana, dari balik suasana seperti itu, Kaskus -- kata ini berasal dari kata kasak-kusuk -- sejauh ini telah mampu melahirkan berbagai istilah populer di dunia maya yang kemudian menyebar secara massal.

Rupanya ini berpangkal dari kebiasaan anggota situs ini (yang kini disebut mencapai 3 juta orang) gemar menggunakan istilah khas -- tentu saja, awalnya, lebih dipahami secara terbatas oleh mereka sendiri.

Hal ini saya tanyakan pula kepada Andrew, yang siang itu mengenakan kemeja rapi, tetapi tak bisa menutupi usianya yang masih 31 tahun.

Andrew menyebut kecenderungan itu sebagai "kultur Kaskus".

"Itu terbentuk sendiri, tak sengaja, karena komunitasnya," katanya, agak lantang.

"Mereka lalu jawab: jangan afgan dong. Karena artis Afgan menyanyikan lagu berjudul 'Sadis'. Jadi mereka menggunakan kata afgan untuk bilang orang sadis."

Secara panjang-lebar, pria pemalu ini lantas menyebut beberapa contoh istilah populer yang telah 'dilahirkan' oleh Kaskus.

"Misalnya ada kata juragan, pertamax, cendol, batu bata, dan bahkan sampai afgan," katanya lagi, seraya menambahkan istilah itu merujuk pada perkataan atau kalimat tertentu yang acap digunakan dalam interaktif di situs online tersebut.

"Di Kaskus, banyak forum jual beli barang. Kadang-kadang mereka menawar barang keterlaluan. Harga 100 ribu ditawar 10 ribu. Mereka lalu jawab: jangan afgan dong. Karena artis Afgan menyanyikan lagu berjudul 'Sadis'. Jadi mereka menggunakan kata afgan untuk bilang orang sadis," jelasnya.

Untuk mengamodasi perkembangan istilah-istilah baru, Andrew dan kawan-kawan lantas membuat kamus kecil bahasa Kaskus. "Karena jargonnya makin banyak..."

Kebebasan Ekspresi

Di antara berbagai forum interaktif yang disediakan oleh situs ini, anggota komunitas Kaskus -- lazim disebut Kaskuser -- dapat pula mendiskusikan isu-isu politik yang tengah menghangat.

Sebagian besar isu politik yang didiskusikan oleh anggota Kaskus, biasanya diambil dari berita-berita politik di media online umum.

Tidak bisa dipungkiri, perdebatan isu politik di dalam forum ini dapat berlangsung begitu 'panas' -- bahkan sangat panas.

Andrew tidak membantah jika pendirian Kaskus -- pada awalnya -- tidak terlepas dari keinginannya untuk menjadikannya sebagai tempat penyaluran "kebebasan berekspresi".

Kaskus membutuhkan kehadiran anggotanya untuk memantau diskusi politik.

"Di tahun 2008, kita punya slogan start talking," ungkap Andrew, dengan nada bersemangat.

Keputusannya membuka forum 'diskusi politik' ini didasari asumsinya bahwa kebanyakan orang Indonesia takut membicarakan politik secara terbuka.

"Maka dengan ada media internet, mereka bisa ekspresikan dirinya," katanya.

Agar kebebasan berekspresi itu tidak berkembang 'liar', Andrew dan pengelola Kaskus membuat rambu-rambu yang harus dipatuhi.

Di sinilah menurutnya peran moderator yang akan mengontrol jalannya diskusi tersebut.

"Kita punya moderator, dan juga hansip, yang tugasnya keliling setiap thread (komentar atau tanggapan anggota) apakah melanggar aturan di kaskus atau tidak," ungkapnya.

Kalau isinya berhubungan SARA, maka sang moderator dapat menghapusnya. "Dan, anggota juga melakukan kontrol. Kalau ada artikel yang 'tidak bagus', mereka akan lapor kepada manajemen".

"Karena setiap detik ada 60 artikel, tidak mungkin moderator membaca terus-terusan. Jadi kita minta bantuan member untuk membantu"

Keikutsertaan para anggota Kaskus ini disebutnya sangat diperlukan.

"Karena setiap detik ada 60 artikel. Tidak mungkin moderator baca terus-terusan. Jadi kita minta bantuan member untuk membantu," katanya, seraya menambahkan pola ini sudah tertanam pada sebagian besar anggota Kaskus yang kini mencapai 3 juta orang.

Andrew kemudian memberi contoh: jika isi artikel itu melanggar aturan, maka 'lemparan' ikon batu bata akan diberikan kepada pembuatnya. Sementara artikel yang dinilai bagus akan memperoleh status 'cendol'.

Jauhi isu politik

Meskipun demikian, porsi isu politik tidak diberi ruang yang besar di portal yang didirikan oleh Andrew saat kuliah di Amerika Serikat, tahun 1999 lalu ini.

"Kita berupaya jauhi konten politik," katanya. "Kita lebih memilih konten yang menghibur, yang ringan-ringan".

Peraih penghargaan Marketeers Award: Greatest Brand of the Decade (2010) ini mengatakan "isu politik adalah sangat sensitif".

Dengan anggota yang mencapai 3 juta orang, menurutnya, Kaskus tidak ingin terjebak dalam masalah politik.

"Kalau kita menggiring opini ke arah yang salah, atau yang bukan paling benar, itu bisa berakibat fatal," tandasnya.

Karena itulah, portalnya lebih mengedepankan informasi yang ringan. "Misalnya di halaman awal Kaskus, ada topik soal '10 pantai terindah di dunia'. Ringankan, dan orang ingin tahu dan ingin belajar lebih banyak".

Introvert

Di salah-satu ruangan kantor Kaskus di kawasan Melawai, Jakarta, anak kedua dari empat bersaudara ini terlihat tangkas menjawab semua pertanyaan BBC tentang visinya membangun perusahaan onlinenya.

Tapi ketika disinggung soal kehidupan pribadinya, putra pasangan Antonius Darwis dan Nancy Amidjoyo ini, terkesan kurang bersemangat.

Andrew lebih memilih beraktivitas di belakang layar ketimbang harus tampil di depan umum.

"Ya, saya introvert (pendiam) banget," tukasnya sambil tersenyum singkat, ketika ditanya kecenderungan karakter pribadinya.

"Malah saya lebih bisa ketik-ketik di internet ketimbang bicara langsung," katanya lagi -- tetap dengan tersenyum, tentu saja.

Itulah sebabnya, Andrew mengaku lebih nyaman apabila mengerjakan segala sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan khalayak ramai.

"Saya lebih demen di belakang layar, lebih demen urusan teknologi, atau pengembangan komunitas," akunya terus-terang.

Dan, jangan kaget, Andrew akan merasa terbebani bila diundang sebagai pembicara di sebuah seminar. "Karena saya nggak terbiasa tampil di depan umum."

Bagaimana kehidupan santai Anda di tengah kesibukan yang menyita waktu? Tanya BBC Indonesia.

"Jadi kalau ditanya hobi, ya hobi saya Ngaskus..."

Sambil menerawang jauh, pria kelahiran 20 Juli 1979 ini kemudian mengaku: "Paling-paling hobi internet... browsing.. 'nggak jauh-jauh dari internet..ha-ha-ha.... Lainnya, ya, paling nonton televisi atau filem".

Secara terus-terang Andrew kemudian mengaku bahwa kehidupan kesehariannya lebih tersita untuk mengembangkan Kaskus.

"Kehidupan pribadi saya lumayan terbatas," akunya agak serius. "(Hidup saya) benar-benar untuk Kaskus."

Untungnya, seperti diungkap di awal, Andrew mempunyai hobi yang tidak jauh dari kegiatan internet -- sehingga aktivitas kerjanya yang disebut menyita waktunya itu tidak menganggunya.

"Jadi kalau ditanya hobi, ya hobi saya Ngaskus...ha-ha-ha-ha..." katanya dengan tawa lebar, sekaligus menutup wawancara yang berlangsung sekitar satu jam itu.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.