RI bantah wilayahnya diambil Malaysia

Marty Natalegawa Hak atas foto AP
Image caption Marty menegaskan persoalan perbatasan darat dengan Malaysia telah dibicarakan

Pemerintah Indonesia membantah terjadinya pencaplokan wilayah perbatasan di Kalimantan Barat oleh Malaysia.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto mengatakan kondisi yang terjadi di lapangan adalah adanya patok yang rusak karena abrasi.

"Jadi dari survei-survei yang ditunjukkan dan tim yang dikirim oleh Bakorsurtanal ke lapangan tidak ada patok yang bergeser," kata Menkopolhukam, Djoko Suyanto.

"Ada patok 101 itu terkena abrasi di bawah air tapi koordinatnya tetap sama tidak ada yang berubah seperti yang telah disepakati dalam perjanjian perbatasan tahun 1978."

Djoko mengatakan Indonesia dan Malaysia telah mempunyai perjanjian pada tahun 1978 yang telah memuat sejumlah koordinat titik batas wilayah perbatasan.

"MoU antara tahun 1978 adalah penjabaran dari agreement dari Belanda dan Inggris tahun 1891," tambah Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa.

Patok rusak

Menurut Marty, tidak ada masalah lagi dari titik perbatasan darat di kawasan Kalimantan dengan Malaysia.

Sejumlah patok yang rusak memang memang tampak pada titik perbatasan Indonesia dan Malaysia di kawasan perbatasan antara Indoenesia dengan Malaysia namun, katanya, hal itu telah diselesaikan.

"Wilayahnya sudah disepakati jadi dari segi patok tidak ada wilayah Indonesia yang dicaplok dan sudah ada koordinatnya," tegas Marty.

Kabar pencaplokan wilayah Indonesia oleh Malaysia ini mencuat setelah Wakil Ketua Komisi 1 DPR TB Hasanuddin mengatakan ada fakta bahwa Malaysia mencaplok sebagian wilayah Indonesia di kawasan Camar Bulan dan Tanjung Datu, Kalimantan Barat.

"Saya mencoba investigasi dari temuan-temuan itu, kelihatannya ada kesalahan besar pada tim border committee. Dia tidak mengikuti peta-peta itu atau ada kelalaian atau ada kesengajaan. Itu perlu kita perdalam karena tidak boleh menggadaikan untuk kepentingan pribadi," kata TB Hasanuddin kepada sejumlah wartawan di Jakarta.

Menurutnya, patok perbatasan di wilayah ini telah mundur sekitar 3,3 kilometer dan menyebabkan hilangnya wilayah seluas 1.500 hektare lebih.

Berita terkait