Farid Husain, sang juru runding daerah konflik

Terbaru  7 November 2011 - 15:30 WIB

Farid Husain, dokter ahli bedah yang ahli melobi dalam menangani berbagai konflik politik.

Kepiawaian Farid Husain melobi dalam perundingan damai dengan GAM, membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya untuk berdialog dengan Organisasi Papua Merdeka, OPM.

Melalui surat khusus dari Presiden Yudhoyono, Farid Husain, 61 tahun, dalam enam bulan terakhir terus berusaha membuka pintu dialog dengan elit, pimpinan, dan aktivis OPM di Papua.

“Dan saya selalu melapor (kepada presiden) tiap bulan,” ungkap Farid Husain, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Senin (31/10) lalu, di ruangan kerjanya di Kantor Palang Merah Indonesia pusat.

Secara khusus, menurut Farid, Presiden Yudhoyono meminta agar upaya dialog di Papua itu menggunakan “cara” perundingan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka, GAM, yang berhasil tersebut.

“Presiden menyatakan selesaikanlah (konflik di Papua) dengan cara Aceh. Jadi saya melaksanakan itu,” kata Farid Husain

Tetapi mengapa Farid yang ditunjuk oleh Presiden Yudhoyono dalam tugas pelik ini?

Tentu saja, pilihan ini tidak terlepas dari peranan Farid Husain sebagai juru runding dalam berbagai proses perundingan damai, mulai kasus kekerasan berlatar agama di Poso, Ambon, serta Aceh.

Walaupun lebih banyak tampil di bawah permukaan, Farid diam-diam memainkan peranan penting, utamanya ketika dia mampu “meluluhkan hati” pimpinan dan elit GAM (yang semula menolak berdialog), sehingga bersedia duduk di meja perundingan.

Seperti diketahui, perundingan damai Indonesia-GAM akhirnya ditandatangani di Helsinki, Finlandia, Agustus 2005 lalu.

"Presiden menyatakan selesaikanlah (konflik di Papua) dengan cara Aceh. Jadi saya melaksanakan itu."

Farid Husain

“Beliau (Farid Husain), orang pertama yang merintis upaya perundingan damai di Aceh... ,” kata Hasbi Abdullah, Ketua DPR Aceh, yang dahulu dikenal sebagai pimpinan GAM, kepada BBC Indonesia.

Lebih dari itu, jauh sebelum terlibat dalam perundingan damai dengan GAM, Farid juga ikut berperan sebagai juru runding dalam menyelesaikan persoalan konflik berlatar agama di Poso dan Ambon.

Resep Farid Husain bernegosiasi

Farid Husein ditunjuk sebagai wakil pemerintah untuk berdialog dengan kelompok separatis di Papua karena peran pentingnya dalam perundingan dengan GAM, dan Heyder Affan mewawancarainya untuk Tokoh BBC Indonesia.

Dengarmp3

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Dalam wawancara ini, selain mengisahkan seluk-beluk 'rahasia' perundingan dengan GAM, Farid juga membandingkan perannya sebagai juru runding dalam persoalan Aceh dengan tugas barunya di Papua.

“(Persoalan) di Papua cukup berat,” ungkapnya, terus-terang.

Semata penghubung

Sebagai utusan khusus Presiden untuk membuka pintu dialog di Papua, Farid mengaku bertindak hanya sebagai “penghubung”.

“Saya tidak boleh bikin deal-deal (kesepakatan),” ungkap Farid, yang tidak lagi menjalankan prakteknya sebagai dokter ahli bedah, semenjak tahun 2001, sejak dilibatkan sebagai juru runding dalam berbagai persoalan konflik di Poso dan Ambon.

Setiap hasil pertemuannya dengan berbagai elit di Papua, selalu dia laporkan kepada presiden. “Kira-kira sudah ada enam laporan saya (kepada presiden),” ungkapnya.

Farid Husain bersama tim juru runding Indonesia, GAM dan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dalam perundingan di Helsinki.

Saat menyampaikan laporan itulah, ungkapnya, Presiden kemudian menyampaikan “pesannya” untuk disampaikan Farid kepada rekanan dialognya di Papua.

Farid tidak bersedia menyebut siapa pihak yang diajaknya berdialog di Papua.

Hanya saja Farid menyebut pertemuannya dengan berbagai pimpinan atau elit kelompok separatis di Papua itu sebagai “dialog demi kemanusiaan”.

Kepada mereka, Farid juga mewanti-wanti bahwa dialog itu tidak membicarakan soal aspirasi kemerdekaan.

“Karena memang ini sudah NKRI. Jadi (soal keinginan keluar dari Indonesia) tidak kita bicarakan. Yang kita bicarakan kenapa masih ada begini (berbagai persoalan di Papua),” katanya.

“Itulah yang saya dekati,” tandasnya, seraya menambahkan bahwa operasinya itu tidak bersentuhan langsung dengan persoalan kasus-kasus kekerasan yang timbul belakangan di Papua.

Kaca spion

Namun lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1976) ini mengaku persoalan “Papua cukup berat”.

Hal ini dia tekankan ketika saya tanya apa yang membedakan konflik di Aceh dan Papua.

“Kalau Aceh ada pemimpinnya. Papua ada pemimpinnya, tetapi terlalu banyak,” ungkapnya, menganalisa.

Sehingga, “masih membutuhkan waktu dan pendekatan yang lebih dekat”, kata suami Ratna Soedarman ini.

"Kalau dalam pertemuan di Papua nanti, mau dibikin begitu (dengan menghadirkan tokoh dari luar negeri), ya kita lihat."

Salah-satu masalah yang menjadi titik fokus Farid dalam dialognya itu adalah menyamakan persepsi “cara menyelesaikan” persoalan di Papua.

Farid kemudian mencontohkan aspirasi pemisahan diri dari Indonesia yang diteriakkan sebagian warga Papua, dengan titik tolak sejarah penggabungan Papua Barat ke Indonesia – melalui Pepera 1969, yang dianggap penuh rekayasa.

Di sini Farid selalu meyakinkan mereka dengan perumpaan “kaca spion dan mobil”.

“Kaca spion perlu dilihat, hanya untuk menjadi pelajaran, agar hati-hati agar tidak tabrakan,” Farid membuka perumpaan.

“Tapi (setelah itu, kita harus) harus tancap gas, dan jalan baik-baik, menjaga rem”.

“Jangan selalu bilang lihat sejarah, berarti kita terus mundur”, katanya, melanjutkan.

Bukan internasionalisasi

Menengok keberhasilan perundingan damai Indonesia-GAM di Helsinki, tidak terlepas dari sosok Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia, saya tanyakan kepada Farid: apakah dalam penyelesaian di Papua akan melibatkan orang macam Ahtisaari?

“Kalau dalam pertemuan di Papua nanti, mau dibikin begitu (dengan menghadirkan tokoh dari luar negeri), ya kita lihat” katanya, agak diplomatis.

Kepada Heyder Affan, Farid Husain mengungkapkan resep keberhasilan dalam perundingan damai dengan GAM.

Namun Farid buru-buru menambahkan, “yang jelas (ini) bukan internasionalisasi, tetapi mengajak orang (lain) untuk mengawasi, supaya kita masing-masing menahan diri.”

Lebih-lanjut Farid menerangkan, selama perundingan damai Indonesia-GAM, sosok Ahtisaari semata bertugas menyediakan tempat, mengatur waktu, serta mendengarkan.

“Tetapi apa yang kita bicarakan, kita (Indonesia-GAM) saja yang membahasnya,” tandas Farid, yang kelahiran 9 Maret 1950 di Kota Soppeng, Sulawesi Selatan ini.

Farid sendiri yakin persoalan Papua bisa diselesaikan secara damai, asal pihaknya diberi kesempatan bernegoisasi.

“Asal masing-masing elitnya bersabar, tenang saja, jangan ramai dulu”.

Kata “bersabar” di sini, menurut Farid, tidak hanya berlaku untuk kelompok separatis Papua, tetapi juga untuk Pemerintah Indonesia dan aparat keamanannya.

Tanamkan kepercayaan

Meskipun lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Bedah Digestif FK Universitas Hasanuddin (1984) ini selalu menyebut keberhasilan perundingan damai Indonesia-GAM sebagai “kerja tim”, mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla dan pimpinan GAM saat itu Zaini Abdullah menyebut sosoknya sebagai pelobi ulung.

"Untuk memastikan masuk bertemu pimpinan GAM di Swedia, itu sangat-sangat ketat."

Farid Husain

Tidak menampik faktor lobi memegang peran penting, tapi Farid menganggap “menanam kepercayaan (trust)” sebelum perundingan, adalah kata kuncinya.

“Kalau dia percaya kita, ada trust yang kita bangun dan mereka menerima itu, semua akan berhasil,” kata Farid.

“Biar kita katakan 1 tambah 1 sama dengan 2, dia tak akan percaya,” tambahnya bersemangat, dengan sebuah perumpamaan.

Dengan modal awal membangun kepercayaan inilah, Farid mulai melangkah, yaitu mencari akses kepada pimpinan GAM – tetapi tidak gampang, ternyata.

Tidak gampang bagi Farid Husain untuk bisa bertemu pimpinan GAM, sebelum menanamkan kepercayaan kepada mereka.

“Untuk memastikan masuk bertemu pimpinan GAM di Swedia, itu sangat-sangat ketat,” akunya.

Dari sinilah, Farid mencari dan menemui orang-orang GAM yang “berpengaruh”, baik di gunung-gunung di pedalaman Aceh, di Jakarta, atau luar negeri, yang bisa menghubungkannya kepada elit pimpinan GAM di Swedia.

Belakangan setelah kesepakatan Helsinki ditandatangani (2005), Farid Husain memetik buah kepercayaan yang dia tanamkan itu.

Sebagai “orang luar”, Farid mengaku paling dipercaya oleh Hasan Tiro, pemimpin tertinggi GAM.

“Saya dan keluarga makan siang di rumahnya. Ada orang lain sudah datang ke rumahnya, dia tidak terima, padahal pejabat negara,” ungkapnya, bercerita.

Tom and Jerry

Melalui proses panjang yang melibatkan banyak orang, Farid akhirnya “bisa diterima”, setelah dia harus “berbaur” dengan orang-orang GAM.

“Tetapi tidak usah melebur. Kalau melebur, akan berubah pola berpikir kita,” jelasnya.

Dalam proses ini, Farid mengaku awalnya lebih banyak mendengarkan kekecewaan, kegeraman yang dilontarkan pimpinan GAM, utamanya saat dia bertemu langsung dengan pimpinan GAM di Swedia.

“(Mereka) sampai pukul meja, saya diam saja,”ungkapnya mengenang.

"Sampai keluar istilah saya: kalau begini, Anda harus tahu, perang di tempat saudara adalah perang Tom dan Jerry."

Farid Husain

“Setelah dia selesai (marah-marah), saya bilang 'OK apa yang bapak bicarakan, 100 persen atau 200 persen, saya setuju' , tetapi sampai kapan anda mau marah begini,” kata Farid, mengulangi lagi kalimat yang dia lontarkan, sekitar enam tahun silam.

“Sampai keluar istilah saya: kalau begini, Anda harus tahu, perang di tempat saudara adalah perang Tom and Jerry,” ungkap Farid, mengumpamakan tokoh kartun yang selalu terlibat konflik yang tidak berkesudahan.

Untuk meyakinkan lawan bicaranya, Farid juga mencontohkan kasus pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, di kampungnya sendiri.

“Tetapi kalau kami terus begini (melawan pemerintah pusat), terus akan habis, karena (kita) salah membikin 'hal-hal yang sudah ada' di negara itu,” ungkapnya lagi.

Sosok Jusuf Kalla

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Farid Husain menyebut sosok Jusuf Kalla memberi andil besar pada dirinya dalam memerankan juru runding, terutama penguasaan pengetahuan tentang permasalahan yang dihadapi.

Seperti ditunjukkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemahaman peta daerah konflik dibutuhkan oleh juru runding.

Bahkan, menurutnya, Jusuf Kalla berupaya “meresapi” konflik Ambon dan Aceh, dengan acap mendengarkan lagu-lagu tradisional dari dua wilayah itu.

“Kita malu sendiri, karena Pak Jusuf Kalla sendiri mendengarkan lagu-lagu Aceh, lagu-lagu Ambon di mobilnya, waktu ngurus persoalan di sana,” Farid bercerita.

Dan lebih dari itu, tambahnya, mantan Wakil Presiden itu juga mempelajari peta politik di wilayah tersebut.

“Sampai kita hafal orang-orang (tokoh yang terlibat dalam konflik) itu,” katanya, seraya tersenyum.

Farid mengaku mengenal Jusuf Kalla semenjak dia menjadi pelajar di Makasar, Sulawesi Selatan.

"Kita malu sendiri, karena Pak Jusuf Kalla mendengarkan lagu-lagu Aceh, lagu-lagu Ambon di mobilnya, waktu menangani persoalan di sana."

Farid Husain

Dia bertemu kembali dengan Kalla, setelah acap datang ke rumahnya, karena dia berteman akrab dengan adiknya, sesama mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Saat Jusuf Kalla menjadi Menkokesra, Farid kemudian dilibatkan dalam menangani konflik Poso.

Yang membuat Farid nyaman bekerjasama dengan Kalla dalam menangani daerah konflik, “dia minta saya menciptakan gol, tetapi bagaimana cara saya membawanya, itu terserah saya”.

Kejadian paling membekas

Ada satu peristiwa yang sampai sekarang tidak bisa terlupakan oleh Farid Husain.

Kejadiannya terjadi pada November 2005, tiga bulan setelah penandatanganan kesepakatan damai Indonesia-GAM di Helsinki.

Ketika itu menjelang Idul Fitri, saat dia berkumpul dan terlibat pembicaraan dengan tokoh-tokoh GAM. Tetapi ada satu panglima militernya yang datang terlambat.

“Dia mengatakan, karena jalanannya macet,” kata Farid, mengenang

"Saya bahagia sekali, kalau lihat mereka sudah selesai, berteman, berjalan bersama."

Farid Husain

Jawaban panglima perang GAM ini membuat Farid bahagia.

“Kenapa? Karena orang-orang kota pulang kampung untuk berlebaran, sehingga jalanan macet. Kenapa begitu? Karena sudah ada kedamaian. Tidak was-was pulang kampung,” kata Farid, masih bersemangat.

“Ini kepuasan luar biasa, dan membekas sampai sekarang”.

“Saya bahagia sekali, kalau lihat mereka sudah selesai, berteman, berjalan bersama,” lanjutnya.

Hanya takut Tuhan

Sebagai utusan khusus Presiden untuk menyelesaikan persoalan Papua secara damai, Farid Husain mengaku “pekerjaannya” menuntut “tidak diketahui umum”.

“Saya jalan sendiri. Karena (apabila) pembicaraan belum selesai, dan diketahui orang, nanti bocor semua,” katanya.

Saat bertugas menemui pimpinan GAM di pedalaman hutan Sumatera, Farid juga tidak memberitahu orang tuanya.

Farid Husain mengaku tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Tuhan.

Meskipun dia tetap meminta ijin pada orang tuanya untuk pergi ke Aceh, dia tidak menyebut “akan bertemu siapa dan di mana lokasi persisnya”.

“Supaya (orang tua) tidak melarang. Kalau melarang, bahaya kan kalau saya langgar,” kata Farid, kali dengan tergelak.

“Seperti mau ke Aceh, saya bilang mau ketemu teman-teman”.

Karena mengemban misi “rahasia”, maka Farid saat itu acap melakukan perjalanan seorang diri.

Tidak adakah perasaan takut?

“Saya tidak takut dengan siapa-siapa, karena saya cuma takut sama Tuhan,” katanya, serius.

“Dan saya minta kepada Tuhan melindungi apa yang saya perbuat demi (misi) kemanusiaan ini” tandas Farid.

Merawat perdamaian

“Itu harus tanggungjawab kedua pihak,” begitulah yang terlontar dari mulut Farid, ketika saya tanyakan bagaimana merawat perdamaian antara Indonesia-GAM yang telah berumur 5 tahun.

"Masing-masing (harus) menjaga kepercayaan diri. Bahwa apa yang tidak disuka kemarin, itu jangan diperbuat. Itu saja."

Farid Husain

“Masing-masing (harus) menjaga kepercayaan diri. Bahwa apa yang tidak disuka kemarin, itu jangan diperbuat. Itu saja,” kata Farid, yang mengaku, masih 'mengawasi' secara langsung situasi di Aceh.

Farid mengakui, merawat perdamaian lebih sulit ketimbang membuatnya.

Dan lagi-lagi dia teringat perkataan Yusuf Kalla. 'Hei, Farid, jual mobil itu bisa hanya 1 atau 2 jam saja, tetapi kepercayaan agar orang itu membeli mobil lagi yang lain, itu harus dipelihara waktu 10 tahun'.

“Perdamaian gampang, jabat tangan sudah selesai. Tapi kapan perdamaian itu bisa bertahan, itu harus dijaga,” jelasnya.

Lantas, bagaimana cara Farid 'menjaga' perdamaian di Aceh?

Menjaga hasil kesepakatan damai di Aceh merupakan tanggungjawab Indonesia dan masyarakat Aceh.

“Persis model dokter, yaitu preventif-promotif. Dan kalau ada apa-apa, kita kuratif,” paparnya.

Dia kemudian memberi contoh. “Ketika GAM mau ulang tahun, dengan berencana menaikkan bendera,” ungkapnya.

“Saya datangi mereka dengan hormat, dan saya katakan: 'Sudahlah kita jangan begitu. Kita lebih baik datang ke rumah, dan berdoa di rumah, atau di masjid, tidak usah ada upacara bendera, karena ada orang merasa anu lagi. Mari kita jaga diri,” katanya, menirukan kembali kalimatnya yang dia utarakan kepada pimpinan Aceh saat itu.

Dan akhirnya upacara bendera GAM itu tak terjadi, ketika itu.

“Jadi yang paling penting, jagalah kepercayaan untuk kepanjangan perdamaian”.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.