Abraham Samad terpilih sebagai Ketua baru KPK

Komisi III DPR Hak atas foto 1
Image caption ICW merisaukan terpilihnya pimpinan baru KPK, kecuali Bambang Widjojanto.

Abraham Samad dan empat orang calon terpilih sebagai pimpinan KPK baru menggantikan pimpinan saat ini melalui pemungutan suara di Komisi III DPR.

Abraham Samad terpilih bersama Adnan Pandu Praja, Zulkarnaen, dan Bambang Widjojanto, Mereka menyingkirkan empat calon lain, yaitu Yunus Husein, Abdullah Hehamahua, Aryanto Sutadi dan Handoyo Sudrajat.

Dalam daftar pimpinan masuk pula nama Busyro Muqoddas, pejabat ketua KPK saat ini.

Saat sesi pemilihan calon pimpinan KPK, Bambang Widjojanto meraih suara 55 sama dengan suara yang diperoleh Abraham Samad.

Kejutan besar adalah dukungan yang mengantarkan Zulkarnen -mantan jaksa- yang lolos mengungguli calon-calon yang lebih dikenal namanya seperti Yunus Hussein, mantan ketua PPATK, serta Abdullah Hehamahua, penasehat KPK.

Namun dalam sesi pemilihan Ketua KPK, Abraham Samad mendapat suara mayoritas sebanyak 43 suara, sementara Bambang Widjojanto hanya memperoleh empat suara.

Usai penghitungan suara, secara resmi Ketua Komisi III DPR, Benny Harman, menanyakan kepada para anggota apakah hasil pemilihan disetujui.

"Apakah Bapak dan Ibu anggota Komisi III menyetujui terpilihnya Doktor Abraham Samad sebagai ketua baru KPK?" tanya Benny.

Anggota Komisi III menjawab setuju dengan disertai tepuk tangan riuh rendah.

Catatan dari ICW

Terpilihnya empat calon pimpinan, kecuali Bambang Widjojanto, disambut dengan catatan oleh kelompok pemantau korupsi ICW.

"Sesuai dengan ranking yang kita buat secara internal, tiga calon terpilih nilainya masuk kategori separuh terendah dan ini merisaukan, kata Tama Satrya Langkun, dari Divisi Inevstigasi ICW kepada BBC Indonesia.

Bersama sejumlah organisasi anti korupsi, ICW membuat peringkat terhadap para calon pimpinan KPK sebelumnya dan menempatkan Abraham, Zulkarnain, dan Adnan masing-masing pada peringkat lima, tujuh, dan delapan.

Menurut Tama, meskipun belum ada kasus yang mengindikasikan lemahnya komitmen para calon terpilih, mereka dianggap belum menunjukkan catatan bagus dalam perang terhadap korupsi.

Abraham Samad -pendiri dan ketua Makassar Corruption Comittee- dinilai Tama belum pernah menunjukkan kinerja gemilang dengan organisasi bentukannya itu.

"Fakta bahwa calon-calon ini terpilih menunjukkan bahwa DPR memilih tanpa indikasi yang lebih jelas, seperti yang ditunjukkan Panitia Seleksi (bentukan pemerintah) sebelumnya. Sekarang saatnya DPR menjelaskan kenapa mereka terpilih. Jangan sampai orang menduga ini proses formalitas saja,"kata Tama.

Kinerja KPK

Dengan kehadiran para pemimpinan KPK baru, Tama mengharapkan agar pemantauan dilakukan lebih keras atas seberapa serius mereka bekerja dalam KPK.

"Bagi KPK sendiri juga jangan sampai menjadi titik lemah kinerja mereka."

Kecurigaan terhadap jalannya pemilihan pimpinan KPK di tangan DPR muncul dari kalangan pegiat, melihat hubungan kedua lembaga yang kerap berselisih paham.

KPK telah menangkap dan memenjarakan puluhan anggota DPR untuk serangkaian kasus korupsi.

Anggota DPR juga secara terbuka banyak mengkritik kinerja KPK, komisi yang saat ini masih menduduki posisi sebagai lembaga pemberantas korupsi paling dipercaya masyarakat.

Berita terkait