Saksi: Patek dan Dulmatin bertentangan soal target serangan

umar patek Hak atas foto AFP
Image caption Hakim akan memeriksa terdakwa Umar Patek pada hari Kamis (07/05).

Dalam persidangan kasus tindak pidana terorisme dengan terdakwa Umar Patek, Kamis (03/05), satu-satunya saksi yang dihadirkan tim pengacara Patek, Iqbal Huseini mengatakan Patek pernah berselisih dengan Dulmatin saat berada di Filipina.

Huseini dalam keterangannya di persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjelaskan dia pada 2003 hingga 2004 pernah tinggal bersama Patek dan Dulmatin serta timggal di kamp milik Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Mindanao, Filipina Selatan. Menurut Huseini mereka berada di sana untuk memerangi tentara Filipina.

Dia menceritakan Dulmatin dan Patek pernah berselisih pendapat soal target sasaran serangan saat berada di Filipina.

"Pernah Sayid Ali (nama lain Dulmatin) mengajak kami melakukan aksi serangan pembalasan dengan sasaran pasar dan banyak warga non muslim namun dalam pertemuan itu terdakwa menentang rencana tersebut karena menyasar warga sipil dan bukan militer," kata Iqbal Huseini.

Huseini dalam kesaksiannya juga mengatakan Patek tidak setuju dengan aksi jihad di Indonesia yang menyasar warga sipil.

"Setahu saya dia tidak pernah setuju dengan program-program (jihad) yang dilakukan Indoneia karena itu menghancurkan nama kaum muslimin dan menghancurkan nama jihad itu sendiri."

Pernah berperang

Dalam keterangannya hari ini Husseini juga mengatakan bahwa Umar Patek merupakan salah satu orang yang dianggap memiliki kemampuan berperang cukup baik oleh pengelola kamp MILF di Mindanao.

"Dia sudah dianggap mampu menguasai senjata dan pernah terjun perang pada awal tahun 2004, dia saat itu membawa senjata jenis M-16."

"Terdakwa juga biasa memberikan briefing kepada relawan asal Indonesia agar mereka besabar dalam berjihad."

Huseini mengatakan bahwa kamp yang ditinggalinya bersama Umar Patek di Filipina merupakan kamp yang dipimpin Sayid Ali alias Dulmatin.

Dulmatin sendiri yang juga merupakan salah seorang tersangka utama pengemboman Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang, telah tewas 9 Maret lalu dalam sebuah penyergapan yang berlangsung di Pamulang, Tangerang Selatan.

Benarkan keterangan

Umar Patek dalam persidangan hari ini tidak berkeberatan dengan keterangan yang diberikan saksi Iqbal Huseini.

"Benar, " jawab Patek saat ditanya Majelis Hakim apakah keterangan Huseini benar menurut terdakwa.

Image caption Umar Patek didakwa terlibat dalam aksi bom Bali I yang menewaskan 202 orang.

Sidang berikutnya akan berlangsung pada tanggal 7 Mei mendatang dengan agenda pemeriksaan terdakwa oleh Majelis Hakim.

Umar Patek sebelumnya dijerat enam dakwaan termasuk pembunuhan, pembuatan bom dan kepemilikan senjata api ilegal terkait serangan Bom Bali I.

Namun dakwaan itu dibantah Patek, pengacaranya Asludin Hatjani mengatakan kliennya tidak melakukan pembunuhan seperti yang dituduhkan jaksa termasuk ikut merencanakan aksi Bom Bali I yang menewaskan 202 orang termasuk 88 orang warga Australia.

Selain itu, Asludin juga membantah Patek pergi ke Pakistan untuk bertemu dengan pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden.

Berita terkait