Pegiat HAM protes kasus penembakan aktivis Papua

Image caption Kerusuhan Abepura berhasil diredam, tapi kematian Mako Tabuni terus dipermasalahkan.

Protes keras disuarakan para pegiat HAM dan anti kekerasan terhadap aksi penangkapan yang dilakukan aparat Polda Papua terhadap Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat Mako Tabuni, yang menyebabkan yang bersangkutan tewas tertembak, Kamis (14/06) kemarin.

Sebagian masyarakat di Papua juga menyayangkan proses penangkapan yang menyebabkan kematian Mako.

Komnas HAM melalui Wakil Ketuanya, Ridha Saleh mengatakan, kasus kematian Mako Tabuni, yang kemudian disusul kerusuhan di Abepura, membuat masyarakat di Papua semakin merasa tidak aman.

Dan terulangnya kasus kekerasan itu, lanjut Ridha, membuktikan bahwa pemerintah pusat masih bersikap ambivalen dalam menyelesaikan persoalan di Papua.

"Di satu sisi membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang mengutamakan pendekatan kesejahteraan, tetapi di sisi lain masih melakukan pendekatan keamanan yang berujung pada kekerasan," kata Ridha Saleh kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Jumat (15/06) siang.

Sementara, Koordinator LSM Kontras, Haris Azhar mempertanyakan klaim Polda Papua yang menyebut Mako Tabuni ditembak karena yang bersangkutan melakukan perlawanan.

Dari keterangan sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian, lanjut Haris, Mako ditembak oleh beberapa orang bersenjata tanpa melalui komunikasi terlebih dulu, seperti diklaim polisi sebelumnya.

"Saksi mengatakan, ada tiga orang turun dari mobil turun dan menembak Mako, tanpa terlihat adanya komunikasi terlebih dulu," kata Haris Azhar kepada BBC Indonesia

Haris juga tidak yakin Mako terlibat aksi kekerasan seperti yang disebutkan polisi sebelumnya.

"Apakah upaya (penangkapan) tersebut berbasis alat bukti. Lagipula Mako tidak melarikan diri," tandasnya.

Polisi punya bukti

Sebelumnya, Kadispen Polda Papua AKBP Yohannes Nugroho dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Kamis (14/06), menyatakan, aparat terpaksa menembak Mako karena melakukan perlawanan.

Image caption Polisi mengklaim punya bukti dugaan keterlibatan Mako Tabuni dalam sejumlah aksi kekerasan di Papua.

Keterangan polisi juga menyebutkan, yang bersangkutan membawa senjata api saat hendak ditangkap.

Polisi di Papua juga menyatakan bahwa mereka memiliki bukti-bukti kuat tentang dugaan keterlibatan Mako dalam aksi kekerasan belakangan di Papua, seperti dilaporkan wartawan Pasific Post Angel Bertha Sinaga kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

"Tidak mungkin langkah atau bukti polisi dibeberkan kepada masyarakat, namun yang dilakukan polisi tentu ada dasar hukum dan bukti kuat," kata Bertha Sinaga, mengutip keterangan Kapolres Jayapura Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Alfred Papare.

Bagaimanapun, Haris Azhar mengkhawatirkan, kasus penembakan Mako menunjukkan bahwa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bersikap ambigu dalam menyelesaikan persoalan kekerasan di Papua.

"Presiden (SBY) bilang akan menyelesaikan Papua secara damai, mau melakukan komunikasi, dan mendekati Papua melalui hati... Tetapi (semua ini) nggak terbukti 'kan... " kata Haris.

Jenazah diserahkan ke keluarga

Sementara itu, Polda Papua telah menyerahkan jenazah Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat Mako Tabuni kepada keluarganya, pada Jumat (15/06) pagi WIT, di Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura, Papua.

Image caption Aparat keamanan masih berjaga-jaga di sekitar lokasi kerusuhan di Waena, Abepura.

Tetapi, seperti dilaporkan wartawan Pasific Post, Bertha Sinaga, para pendukung Mako Tabuni tetap memprotes penembakan polisi yang menyebabkan tewasnya pemimpin mereka.

"Salah-satu yang memprotes adalah pendeta Sokrates Sofyan Yoman, Ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis di tanah Papua," kata Bertha.

Pendeta Sokrates, ungkap Bertha, menganggap Polda Papua melakukan penangkapan di luar prosedur terhadap Mako. "Padahal, belum ada bukti yang kuat dan mengatakan bahwa Mako dan kawan-kawan adalah yang melakukan serangkaian aksi teror di Papua," kata Bertha menirukan pernyataan Pendeta Sofyan.

Akibat penembakan Mako, sekelompok orang kemudian membakar sejumlah rumah tokoh(ruko), kendaraan roda empat dan puluhan sepeda motor, Kamis (15/06) kemarin, di Abepura, Papua.

Polisi menyebut pelaku kerusuhan adalah pendukung Mako yang marah akibat kematian pimpinannya.

Dan sehari setelah kerusuhan, menurut Bertha, aparat kepolisian dan TNI masih menjaga ketat lokasi bekas kerusuhan yang terletak di dekat Kampus Universitas Cendrawasih.

"Karena masih beredar sms yang mengancam masyarakat pendatang," demikian laporan Bertha untuk BBC Indonesia.

Sejauh ini, lanjut Bertha, Polda Papua masih mengejar tiga orang yang diduga terkait kasus kekerasan di Papua belakangan.

Berita terkait