Eks milisi Timor Leste masih dicari PBB

Timor Leste Hak atas foto Getty
Image caption Berbagai laporan menyebutkan lebih dari seribu orang tewas sebelum dan sesudah jajak pendapat di Timlor Leste.

Ratusan orang mantan milisi pro integrasi Timor Leste masih tercantum dalam daftar orang yang dicari di Unit Kejahatan Serius (Serious Crime Unit SCU) PBB, dengan tuduhan melakukan pelanggaran HAM pada 1999.

Bekas komandan milisi Sakunar Merah Putih, Laurentino Soares alias Moko merupakan salah seorang yang masuk dalam daftar tersebut, sebagai salah satu terdakwa dalam kasus pembantaian dan pembunuhan di Passabe Distrik Oecussi.

Soares meminta pemerintah Indonesia untuk membahas masalah tersebut dengan Pemerintah Timor Leste dan PBB.

"Itu kan tuduhan sepihak, belum tentu dari 400 an orang ini merupakan pelanggar HAM, mereka itu komandan milisi yang dibentuk oleh pemerintah, dan seharusnya mereka membela kami yang pro integrasi membela Indonesia," kata Soares ketika dihubungi wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, melalui telepon, Kamis (28/06).

Soares mengaku selama ini tidak pernah menjalani proses penyelidikan dan dimintai keterangan terkait dengan peristiwa kekerasan di Passabe yang terjadi saat jajak pendapat 1999.

Kasus Passabe telah dibawa ke Pengadilan in absentia di Timor Leste pada 2003 lalu, dengan terdakwa antara lain Laurentino Soares, Simao Lopes, Gabriel Kolo, Bonifacio Bobo (alias Bone), Andre Ulan, Anton Sabraka.

Dari sejumlah terdakwa hanya satu yang ditahan yaitu Florenco Tacaqui.

Sejauh ini BBC Indonesia belum bisa menghubungi Kemenlu Indonesia dan otoritas Timor Leste terkait persoalan kekerasan di Timor Leste pada 1999.

Hubungan baik

Pemerhati masalah Timor Leste, mantan aktivis Solidaritas untuk Timor-Timur Solidamor, Bonar Tigor mengatakan para eks milisi dan militer yang diduga melakukan pelanggaran HAM selama masa jajak pendapat di Timor Leste pada 1999, masih ada dalam daftar SCU PBB.

"Ya memang mereka masuk dalam daftar SCU, dan belum dicabut jika tidak ada permintaan dari kedua pemerintah, daftar ini juga tidak ada batas waktunya, " jelas Bonar.

Bonar mengatakan pemerintah Indonesia dan Timor Leste tampaknya enggan untuk membuka persoalan ini, untuk menjaga hubungan baik antara kedua negara.

Tetapi, Bonar menjelaskan mereka yang ada dalam daftar SCU ini terancam ditangkap dan ditahan jika memasuki wilayah Timor Leste.

Pada Agustus 2009 lalu, seorang mantan Komandan milisi Laksaur, Maternus Bere, ditangkap oleh polisi Timor Leste ketika memasuki wilayah tersebut.

Bere ditangkap dengan tuduhan melakukan pembantaian massal di gereja Suai, setelah jajak pendapat yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Oktober 2009, Bere dipulangkan ke Atambua, Kabupaten Belu, NTT.

Pasca jajak pendapat sekitar puluhan ribu orang Timor Leste mengungsi ke wilayah Indonesia, sebagian besar berada di Nusa Tenggara Timur.

Laporan CAVR (Commisao de Acqhimento Verdade Reconsiliacao (CAVR) Timor Leste kepada PBB, menyebutkan sekitar 102.800 orang tewas selama masa integrasi Timor Leste dengan Indonesia 1974-1999.

Berita terkait