Pakar hidrologi minta sodetan Ciliwung segera dilaksanakan

Image caption Banjir kanal barat dianggap tidak mampu menampun beban air kiriman dari hulu.

Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun proyek sodetan Sungai Ciliwung senilai Rp2 triliun untuk mengurangi dampak banjir, menurut seorang pakar hidrologi, harus segera dilaksanakan.

Hal ini ditekankan pakar hidrologi ITB, Arwin Bahar karena Sungai Ciliwung tidak mampu lagi menampung beban kiriman air dari kawasan hulu seperti yang terjadi pada pekan lalu pada banjir besar di Jakarta.

"Masalahnya 'kan (upaya mengurangi dampak banjir di Jakarta dan sekitarnya) memerlukan tindakan cepat dengan kondisi yang ada sekarang," kata Arwin Bahar saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Senin (21/01) siang.

Menurutnya, rencana pembangunan proyek sodetan Sungai Ciliwung ini harus didukung, karena merupakan langkah jangka pendek yang tidak bisa ditunda lagi.

"Lebih baik kelebihan air dari Ciliwung yang tidak bisa ditampung kanal barat, lebih baik ditampung di kanal timur," kata Arwin.

Saat banjir besar pekan lalu, nyaris semua aliran Ciliwung mengalir ke kanal barat, sementara kanal timur relatif tidak terisi. Akibatnya, luapan kanal barat itu membanjiri sejumlah wilayah di Jakarta.

Sebelumnya pada Minggu (20/01), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menginstruksikan agar proyek sodetan Sungai Ciliwung segera diwujudkan pada 2014 nanti.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto mengatakan, rencananya proyek sodetan ini tanpa pembebasan tanah, karena salah-satu skenario yang disiapkan adalah menyiapkan pipa di bawah tanah.

Opsi ini disiapkan pemerintah karena lokasi yang disiapkan yaitu di kawasan Jakarta Timur sudah dipenuhi kawasan pemukiman penduduk yang padat.

Mengomentari rencana pembuatan pipa bawah tanah ini, Arwin Bahar kurang sepakat. Dia khawatir, kalau sodetan itu dialirkan dalam pipa bawah tanah, pengoperadian dan perawatannya tidak bisa berjalan baik.

"Mana yang lebih muda mengendalikan? Tentu yang di permukaan... Kalau dipermukaan tidak bisa mengendalikan apalagi yang di bawah tanah," katanya lagi.

Pemerintah menganggarkan normalisasi sungai Ciliwung dialokasikan Rp 1,2 triliun, sementara untuk sodetan dianggarkan Rp 500 miliar untuk tahun ini.

Pembangunan waduk

Image caption Pemerintah diminta segera membangun waduk penampung air di kawasan hulu, untuk menampung luapan air ke wilayah Jakarta.

Selain mendukung proyek sodetan Sungai Ciliwung, pakar hidrologi ITB Arwin Bahar meminta pemerintah untuk memikirkan upaya jangka panjang untuk mengurangi dampak banjir di wilayah ibu kota.

"Tapi ke depan harus (memikirkan penyelesaian) jangka panjang, yaitu yang strategis, yaitu pengendalian air dari hulu," kata Arwin.

Menurutnya, salah-satu proyek pengendalian banjir yang bersifat jangka panjang itu adalah pembangunan waduk di kawasan hulu Sungai Ciliwung.

"Di badan air itu harus dilakukan peningkatan sumber daya dengan membuat waduk. Jadi kelebihan air yang mengalir ke Jakarta ditampung ke waduk, agar tidak membahayakan infrastruktur banjir kanal barat dan banjir kanal timur akibat debit air yang diluar rencana," jelasnya.

Sepengetahuan Arwin, pada tahun 1970-an, pernah ada wacana pembangunan waduk di sekutar wilayah Depok, Jawa Barat. "Tetapi pemerintah tidak begitu respon, sehingga menjadi lahan itu menjadi lahan terbangun. Jadi, (sekarang) susah untuk membangunnya lagi," ungkapnya.

Dalam perkembangannya, pemerintah kemudian memindahkan rencana pembangunan proyek waduk itu ke Ciawi, Jawa Barat, walaupun akhirnya proyek ini terbengkalai karena antara lain persoalan kekurangan dana.

Berita terkait