Anggota TNI perusak Mapolres OKU diadili

Image caption Pembakaran kantor Polres OKU oleh anggota TNI dilatari faktor dendam.

Sembilan belas anggota TNI pelaku pembakaran Mapolres OKU, Sumsel, yang mulai disidang di Mahkamah Militer Palembang pada Kamis (25/04) ini, terancam hukuman maksimal 12 tahun pidana penjara.

"Dakwaan itu yang diberikan terkait pelanggaran penganiayaan, pembakaran, serta pengrusakan. Sesuai KUHP, dakwaan itu ancaman rata-ratanya paling rendah 2 tahun 8 bulan, dan paling berat 12 tahun," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Rukman Ahmad, kepada wartawan BBC Indonesia, Arti Ekawati, Kamis siang, melalui telepon.

Menurutnya, sidang digelar secara terbuka sehingga masyarakat sipil dapat mengikuti persidangan. "Termasuk dihadiri pejabat dari Polda Sumsel, serta perwakilan hakim agung dari Jakarta," kata Rukman.

Sembilan belas anggota TNI tersebut diadili di Mahkamah Militer I-04 Palembang, Sumatera Selatan, sementara seorang tersangka lainnya -- berpangkat perwira -- diadili di Mahmil Medan, Sumatera Utara.

Dilanjutkan besok

"Pertimbangan digelar di dua tempat, diantaranya dengan pelaksanaan simultan di dua tempat, dapat mempercepat proses persidangan," jelas Rukman.

Para tersangka yang dilaporkan berpangkat perwira, bintara dan tamtama, ini masih ditahan di pusat penahanan Polisi Militer setempat.

Kasus penyerangan dan pembakaran Markas Polres Ogan Komering Ulu, OKU, pada 7 Maret 2013 lalu, diawali kedatangan puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed Martapura ke markas polisi tersebut.

Sejumlah laporan menyebutkan, mereka mendatangi Mapolres untuk menanyakan pengusutan kasus penembakan rekan mereka, Pratu Heru Oktavianus oleh seorang anggota polisi.

Merasa tidak puas atas keterangan polisi, para anggota TNI itu kemudian merusak, membakar Mapolres OKU, serta melukai beberapa anggota polisi.

Sidang akan dilanjutkan Jumat (26/04) besok serta Senin (29/04) depan, untuk materi sidang mendengarkan keterangan tersangka dan para saksi.

Berita terkait