Pencarian WNI korban kapal tenggelam dilanjutkan

kapal kayu ilustrasi
Image caption Kapal kayu yang tenggelam diduga mengalami kelebihan muatan.

Pemerintah Indonesia mengatakan proses pencarian terhadap puluhan orang yang menjadi korban kapal tenggelam di perairan Johor masih terus dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene mengatakan data terakhir yang diterima lembaganya menyebutkan bahwa korban yang selamat dari peristiwa ini ada empat orang.

"Yang selamat hanya empat orang dan keempatnya kemarin telah diserahkan oleh polisi maritim Malaysia kepada KJRI untuk segera dipulangkan ke Indonesia," kata Michael Tene kepada Wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.

Peluang menemukan korban lain dalam kondisi hidup menurut Tene makin tipis. "Memang kalau dilihat dari berjalannya waktu, sedikit kemungkinan ada korban (lain) selamat."

Sebelumnya laporan di sejumlah media mengatakan ada 44 orang yang terdapat di dalam kapal tersebut namun jumlah ini juga tampaknya belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Tidak ada manifesnya dan identitas mereka yang hilang juga tidak kita ketahui karena bukan kapal resmi," jelas Tene.

Bantuan mencari korban

Proses pencarian kapal masih terus dilakukan oleh kapal penjaga pantai milik pemerintah setempat, sementara pemerintah Indonesia menyiapkan kapal di perairan perbatasan untuk ikut mencari korban.

"Kapal-kapal Basarnas telah disiapkan di perbatasan untuk ikut membantu proses pencarian para korban tapi memang masih menunggu ijin," kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Bambang Ervan.

Belum ada kepastian soal penyebab tenggelamnya kapal tersebut namun diperkirakan karena kelebihan penumpang.

Sejauh ini selain empat orang yang selamat ada tiga orang tewas yang ditemukan pasca kecelakaan tersebut.

Pemerintah Indonesia mengatakan mereka telah melakukan sosialisasi terhadap warganya yang tinggal di Malaysia untuk hanya menggunakan angkutan resmi.

Namun langkah itu kemungkinan tidak akan menjadi pilihan bagi warga Indonesia yang memiliki status sebagai tenaga kerja ilegal. Dalam peristiwa terakhir yang terjadi pada pekan lalu para penumpang umumnya harus mengeluarkan biaya hingga Rp4,1 juta untuk bisa sampai ke Batam merayakan hari raya Idul Fitri.

Sebagian penumpang yang diduga merupakan tenaga kerja ilegal memilih untuk tidak menggunakan kapal resmi guna menghindari pemeriksaan dokumen.

Ini bukanlah peristiwa pertama yang dialami oleh WNI yang bekerja di Malaysia, t ahun lalu kecelakaan serupa mengakibatkan setidaknya sepuluh orang tewas.

"Kita mencatat ini sebagai fenomena yang memang makin marak tiap menjelang Idul Fitri," kata Bambang Ervan.

Ia mengatakan sulit mencegah insiden ini terulang karena faktor utama ada pada persoalan kesediaan tenaga kerja dan prosedur kedatangan yang sah di negara jiran itu.

Berita terkait