Gereja Santa Bernadette berharap adakan dialog

gereja
Image caption Tingkat kekerasan terhadap agama minoritas di Indonesia dinilai cenderung meningkat.

Pastor Paroki Santa Bernadette, Paulus Dalu Lubur, mengatakan Dewan Paroki mengadakan pertemuan hari Senin (23/09) terkait penggembokan pintu menuju area yang akan dibangun Gereja Katolik Santa Bernadette di Bintaro, Tangerang.

Area peribadatan Santa Bernadette digembok massa yang mengaku sebagai penduduk setempat pada hari Minggu (22/09) kemarin.

Massa menganggap kegiatan peribadatan tersebut mengganggu mereka. Tidak dirinci apa yang dimaksud dengan mengganggu.

Terkait penggembokan, pihak gereja juga berharap bisa melakukan dialog dengan pemerintah dan warga setempat sehingga peribadatan bisa berlangsung kembali pada minggu depan.

Pastor Paulus mengakui memang saat ini pihaknya sedang dalam proses mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) gereja ketika peristiwa ini terjadi.

"Kami akan berdiskusi dengan dewan saya. Protes ini terjadi saat kami sedang urus IMB. Jadi kalau ada yang protes kita perhatikan. Kita juga menghargai kalau mereka tidak suka," kata Pastor Paulus kepada wartawan BBC Arti Ekawati Senin (23/09) sore.

Bukan pertama

Peristiwa penutupan paksa rumah ibadah seperti ini memang bukan hal baru.

Data Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menyatakan bahwa antara Januari 2005 hingga Desember 2010 terdapat setidaknya 430 gereja ditutup paksa dengan kasus paling banyak terjadi di wilayah Jawa Barat.

Hal ini dibenarkan oleh lembaga swadaya masyarakat yang mempromosikan toleransi antar umat beragama, Setara Institute.

"Biasanya kasus penutupan rumah ibadah di daerah lain itu satu atau dua, tetapi kalau di Jawa Barat bisa puluhan," kata Bonar Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute.

Bonar menyayangkan tidak adanya tindakan tegas dari pihak berwenang mengenai peristiwa penutupan paksa ini. Ia juga mempertanyakan legalitas massa pengunjuk rasa karena dilakukan pada hari libur.

"Apakah demonstrasi punya izin?" katanya.

Minggu kemarin, ratusan massa yang mengaku sebagai warga berunjuk rasa untuk menolak adanya kegiatan peribadatan di area seluas sekitar 6.000 meter persegi ini.

Berita terkait