Sidang perdana polisi pemilik rekening triliunan Rupiah

Image caption Media memberi porsi besar terhadap pemberitaan kasus Labora Sitorus.

Pengadilan Negeri Sorong, Papua Barat, Kamis (03/10), mendakwa anggota Polres Raja Ampat, Papua Barat, Labora Sitorus, melakukan tindakan penimbunan BBM dan pembalakan hutan secara ilegal.

Dugaan keterlibatan Labora Sitorus dalam perkara itu mulai terkuak, setelah PPATK pada awal 2013 mencurigai rekening miliknya yang mencapai Rp 1,5 triliun.

"Dalam dakwaan, Labora Sitorus dijerat pasal-pasal terkait pembalakan hutan dan penimbunan BBM," kata wartawan Harian Fajar Papua di Sorong, Djunedi, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (03/10) siang, melalui telepon.

"Ada juga dakwaan kumulatif, yaitu pasal pencucian uang, tapi pengadilan harus membuktikan dulu dakwaan penimbunan BBM dan illegal logging," tambah Djunedi.

Akhir Maret lalu, Polda Papua mulai mengusut dugaan keterlibatan Laborus Sitorus dalam kasus penebangan hutan ilegal dan penimbunan BBM, setelah PPATK mencurigai transaksi yang dilakukannya sejak 2007 hingga 2012 yang mencapai triliunan rupiah.

Pengusaha

Belakangan diketahui selain merupakan anggota polisi Labora merangkap sebagai pengusaha BBM, kayu hutan, serta berjualan minuman keras di Sorong, Papua Barat.

Polda Papua lalu menetapkannya sebagai tersangka kasus penimbunan BBM dan pembalakan hutan ilegal.

Labora mengadu kepada Komisi Kepolisian Nasional, karena dia merasa 'dikorbankan' para atasannya. Dia mengaku telah menyetor uang miliran rupiah ke puluhan rekan dan atasannya di kepolisian.

Kepada media, Labora mengaku telah menyerahkan dokumen nama-nama rekanan dan atasannya di kepolisian yang disebutnya telah menerima uang dari dirinya kepada Kompolnas.

Namun hingga kini belum ada pejabat polisi yang diumumkan telah dikenai sanksi terkait pengaduan Labora tersebut.

Sidang terhadap Labora Sitorus akan dilanjutkan pada 10 Oktober untuk menghadirkan para saksi.

Berita terkait