Perubahan peta dan lesunya efek Jokowi

pemilu Hak atas foto AP
Image caption Sekitar 185 juta orang menggunakan hak pilihnya pada 9 April.

Setidaknya ada dua hal yang bisa disimak dalam hasil hitung cepat pemilu legislatif, yaitu perubahan peta politik dan kurang maksimalnya efek Jokowi.

Hitung cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei seperti CSIS-Cyrus, Indikator Politik, dan Lingkaran Survei Indonesia menempatkan PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu legislatif dengan persentase sekitar 19%.

Sementara itu, di tempat kedua dan ketiga ditempati Golkar dan Gerindra.

Menurut Pengamat Politik LIPI Siti Zuhro, hasil hitung cepat pemilu legislatif ini menunjukkan pergeseran partai-partai besar.

Pada 2009, tiga partai besar diduduki oleh Partai Demokrat, Golkar dan PDI Perjuangan, tetapi kini dukungan kepada PDI Perjuangan dan Gerindra meningkat cukup signifikan sehingga menggeser Partai Demokrat yang elektabilitasnya menurun.

"Tiga partai besar ini tentunya akan memikirkan untuk membangun koalisi yang perhitungannya berubah dengan pemilu sebelumnya," jelas Siti Zuhro kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

"Jadi belajar dari yang sebelumnya, yang harus dibangun (sekarang) bukan koalisi besar, tetapi koalisi yang sedang tapi menjamin soliditas partai," sambungnya.

Efek Jokowi tak maksimal

Naiknya PDI Perjuangan ke posisi puncak sudah diprediksi sebelumnya. Namun perolehan suara sekitar 19% - berdasarkan hitung cepat - ternyata cukup mengejutkan karena banyak survei yang memprediksi perolehan suara bisa mencapai 30%, didorong oleh pencapresan Jokowi.

Menurut Kennedy Muslim dari Indikator Politik, efek Jokowi kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh PDI Perjuangan.

"Survei yang kami lakukan tiga minggu sebelum pencoblosan menunjukkan ada 30% pemilih yang tidak tahu jika Jokowi sudah dicapreskan," katanya.

Lemahnya efek Jokowi diakui oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari. "Waktu yang mepet, sehingga kita tidak bisa buat reklame dan iklan (Jokowi) yang banyak, karena dominannya kan Ibu Puan dengan Ibu Mega."

"Selain itu, televisi dan media yang punya kepentingan politik tidak pernah memberitakan PDI Perjuangan, walaupun ada isinya negatif. Jadi memang banyak faktor yang membuat efek tidak maksimal. Selain dari internal, dari media juga."

Berita terkait