Ketika warung melayani nasabah bank

kebumen, bank
Image caption Prayitno (kanan) mengecek bukti transaksi setor yang dia lakukan di warung Siti.

Terletak di Kebumen selatan, Desa Argopeni bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar empat jam dari Yogyakarta. Jalanannya berkelok-kelok dan sesekali menanjak tajam atau menurun curam.

Walau bukan termasuk daerah terpencil, wilayah Argopeni terbilang cukup menantang karena terletak di perbukitan dan berbatasan langsung dengan pantai selatan Jawa.

Di sana, angkutan umum jarang lewat dan aktivitas publik praktis tuntas begitu matahari tenggelam. Jalan aspal sempit tanpa lampu penerangan membuat perjalanan malam cukup berbahaya karena beberapa ruas jalan berbatasan langsung dengan jurang.

Dengan kondisi topografi semacam itu, ditambah kurang maraknya kegiatan ekonomi, tak banyak pilihan layanan keuangan bagi masyarakat desa yang umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan.

Kebutuhan menabung atau pinjam uang selama ini difasilitasi oleh koperasi unit desa dan bank keliling. Koperasi umumnya melayani simpan dan pinjam, sementara bank keliling biasanya melayani keperluan utang saja.

Namun, pada pertengahan tahun lalu, layanan bank umum hadir lebih dekat ke warga desa melalui toko kelontong dengan sistem keagenan.

Bank di warung

Mao cek saldo,” kata Kamsi, petani berusia 40 tahun sembari menyerahkan kartu ATM miliknya kepada penjaga warung Siti Rohimah.

Datang dari ladang menggunakan sepeda motor, Kamsi hari itu bermaksud mengambil uang untuk bekal kuliah anaknya yang saat itu pulang ke kampung halaman.

Berbekal mesin electronic data capture (EDC) – alat yang sering ditemui di pusat perbelanjaan kota besar - Siti lalu menggesek kartu dan menunggu. “Ada tiga juta seratus,” ujarnya segera ketika data rekening muncul di layar mesin.

“Ambil tiga juta,” kata Kamsi menyahut.

Seperti warung pada umumnya, warung Siti menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kopi, makanan ringan, aneka minuman, sabun, hingga pulsa telepon. Warung ini dimiliki suaminya, Agus Saptanudin, dan merupakan usaha turun temurun sejak 1970-an.

Mulai tahun lalu, Siti menambah barang dagangan baru di warung berukuran enam meter itu. Bekerja sama dengan BRI, Siti dan Agus resmi menjadi agen dengan menyediakan layanan setor, tarik, kirim uang, hingga pembayaran listrik, telepon dan cicilan kendaraan. Semua perputaran uang dilakukan melalui rekening Siti dan Agus.

Menanggapi permintaan Kamsi, Siti kemudian menekan beberapa tombol dan meminta pelanggannya itu memasukkan PIN. Lewat mesin EDC, Siti mentransfer uang Rp3 juta dari Kamsi ke rekeningnya.

Kemudian, Siti mengambil uang tunai dengan jumlah yang sama di laci warung dan memberikannya kepada Kamsi. Lewat layanan macam ini, Siti mendapat keuntungan sekitar Rp3.500 per transaksi.

Image caption Dalam menyediakan layanannya, Agus dibekali mesin gesek kartu EDC.

Hemat waktu

Image caption Agus memiliki toko kelontong warisan ayahnya dan kini menyediakan layanan perbankan melalui sistem keagenan.

Bagi petani seperti Kamsi, layanan yang diberikan Siti sangat menghemat waktu. Jarak warung dari rumahnya hanya sekitar tiga kilometer, sedangkan unit BRI terdekat berjarak sekitar 15 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam pulang pergi.

“Mudah ambil uang di sini, selain dekat, mudah, mboten antre (tidak antre). Kalo di unit harus nunggu angkot, di sana juga harus antre lagi,” kata bapak berkulit cokelat yang mengaku sudah bertani sejak kecil.

Prayitno, 28 tahun, nasabah BRI lain di Argopeni, sependapat dengan Kamsi. Menurutnya, selain dekat, waktu pelayanan warung Siti juga fleksibel. Hal itu berbeda dengan layanan unit bank yang tutup pukul tiga sore.

“Saya usaha penyedia pulsa untuk konter-konter sekitar sini. Saya tiap hari bisa tiga kali transaksi, pagi pukul sepuluh, pukul dua siang, dan pukul sembilan malam.”

“Efektif ke sini biar cepet gitu loh. Pernah malam hujan ya, (warung) udah tutup mati lampu. Terus saya gedor-gedor aja pintunya, terus saya minta tolong bantuannya untuk bisa ditransferin. Insya Allah jam berapa pun bisa membantu, baguslah,” ujar Prayitno.

Di samping nasabah yang merasakan manfaat, Agus dan Siti mengaku juga diuntungkan dengan sistem keagenan ini.

Pasalnya, margin keuntungan layanan bank lebih menggiurkan, yaitu sebesar Rp3.500 per transaksi. Jumlah itu lebih besar dengan keuntungan dagangan produk harian sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per produk.

“Jualan jasa perbankan ini juga meningkatkan pendapatan kita. Mereka yang datang (mau setor atau tarik) juga sekalian belanja. Jadi kita manfaatnya ganda, selain dapat keuntungan dari BRI, dagangan kita juga tambah laku,” kata Agus yang juga mengelola koperasi unit desa di wilayah itu.

Siti mengatakan ketika layanan ini diperkenalkan tahun lalu, belum banyak warga yang berminat bertransaksi. Namun sekarang, warga yang sebelumnya sudah menjadi nasabah BRI mulai banyak berdatangan dan transaksi per hari bisa mencapai 10 hingga 20 kali.

Menghilangkan batas-batas formal

Image caption Layanan bank yang cenderung formal membuat warga desa enggan dan malu untuk datang.

Warung Agus dan Siti merupakan satu dari enam gerai yang dipilih untuk melakukan uji coba sistem keagenan BRI di Kecamatan Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Sistem keagenan merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendorong akses perbankan di desa-desa yang dikenal dengan konsep bank tanpa kantor atau branchless banking.

Peningkatan akses layanan finansial – jika dilakukan bersama-sama oleh bank umum - dipercaya dapat meningkatkan perekonomian pedesaan.

Penerapan program bank tanpa kantor – dengan sistem keagenan dan layanan berbeda - diujicobakan juga oleh bank lain seperti Mandiri, CIMB Niaga, Bank Tabungan Pensiunan Nasional, dan Bank Sinar Harapan Bali, selama periode Mei – November 2013 di sejumlah lokasi dari Sumatera hingga Sulawesi.

Pimpinan Kantor Cabang Gombong, Satria Alexander, yang menggarap program keagenan di Desa Argopeni mengatakan sistem keagenan BRILinks cukup berbeda dengan model bank lain yang kebanyakan mengedepankan uang elektronik.

Model keagenan dengan mesin EDC dianggap lebih cocok untuk menjangkau daerah-daerah pedesaan yang tidak terjangkau oleh unit-unit kerja BRI terkecil.

Pasalnya, keagenan ini tidak hanya menawarkan akses layanan yang lebih dekat dari rumah, tetapi juga berperan penting untuk melakukan edukasi perbankan.

“Begitu mereka tahu kalau mereka bisa ambil uang di tetangganya dengan menggunakan kartu, mereka jadi datang ke unit minta dibuatkan ATM. Jadi teredukasi, dulu-dulu kan gak mau datang, tetap bawa buku,” jelas Satria.

“Warga yang ingin buka rekening atau meminjam uang dari bank juga tidak segan bertanya kepada agen karena merasa sudah kenal dan nyaman.”

Agen dalam hal ini dianggap telah meruntuhkan batas-batas formal bank. Layanan keuangan yang tadinya dijajakan dengan kantor resmi yang cenderung kaku kini berubah menjadi warung di sebelah rumah yang biasa dikunjungi untuk membeli barang atau sekedar nongkrong dan mengobrol.

“Ada nasabah yang mau menabung Rp100 ribu malu datang ke BRI. Ada juga yang kalau ke bank, nasabah sampai buka sandal dulu,” cerita Satria soal anggapan warga tentang layanan bank.

Masih takut menabung

Image caption Sejumlah kapal nelayan parkir di pesisir Desa Argopeni, Kebumen.

Keengganan masyarakat untuk menabung diakui oleh Tursino, tokoh tani nelayan di wilayah itu. Padahal, walau akses terbilang cukup jauh, masyarakat sudah bisa menabung di sejumlah bank seperti BRI, Mandiri, dan BPD Jateng yang terdapat di Kecamatan Gombong.

Alasan yang dikemukakan Tursino tentang keengganan menabung sedikit berbeda:

“Sekarang di bank harus menabung dengan ketentuan nominal. Artinya kalau menabung kurang dari Rp1 juta, uangnya makin berkurang-berkurang. Kalau menabung Rp200.000 selama dua tahun tidak ditambah malah justru habis,” kata Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan Kebumen yang pernah merasakan sendiri pengalaman itu.

“Memang uang aman, tapi kalau petani nelayan suka mengeluh kalau nabung sedikit nanti habis. Kalau bisa administrasi ditekan semurah-murahnya biar masyarakat tidak ketakutan.”

Tursino mengatakan kebiasaan masyarakat yang suka menghambur-hamburkan uang ketika panen juga menjadi soal. Dengan pendidikan seadanya, banyak petani dan nelayan masih belum mengerti bagaimana mengatur uang.

Kenyataannya, walau punya tabungan, warga tidak melulu rajin menabung. Mereka justru menghamburkan uang untuk membeli kemewahan ketika panen datang. Sebaliknya, ketika musim paceklik tiba, petani menjual barang-barang dan malah berutang.

Berita terkait