Dua korban pembunuhan di Hong Kong WNI?

Image caption Kendaraan yang membawa tersangka pembunuh dua perempuan di Hong Kong dikerumuni wartawan.

Kewarganegaraan satu dari dua korban pembunuhan di Hong Kong masih diselidiki namun seorang mantan pekerja yang mengaku mengenal kedua korban menyatakan keduanya adalah WNI.

Seorang warga Inggris Inggris Rurik Jutting dihadirkan ke pengadilan Hong Kong, Senin (03/11) dengan dakwaan pembunuhan dua perempuan yang diduga adalah pekerja seks komersial.

Pemerintah Indonesia telah memastikan satu dari dua korban adalah WNI.

Polisi Hong Kong mengatakan Jutting mengontak mereka untuk datang ke apartemennya Sabtu lalu.

Saat datang polisi menemukan jenazah seorang perempuan yang meninggal akibat luka tusuk dan satu jenazah di dalam koper, yang diduga meninggal enam hari sebelum mayat ditemukan.

Kepolisian menyebutkan nama korban adalah Jesse dan korban di dalam koper bernama Alice.

Identitas Jesse masih dicari

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Polisi memeriksa apartemen Rurik Jutting di daerah Wanchai Hong Kong.

Alice adalah nama alias dan disebutkan dalam dokumen pengadilan sebagai Sumarti Ningsih, perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah.

Identitas asli Jesse belum diungkapkan secara resmi.

Namun, kepada BBC Indonesia, seorang mantan tenaga kerja wanita mengaku mengenal Jesse.

"Nama yang tertera pada paspor Jesse adalah Seneng Mujiasih. Keluarganya berasal dari Jawa, namun sudah lama menetap di Sulawesi," kata Catlea Nissa Salsabilla kepada Jerome Wirawan.

Catlea mengaku terakhir kali menjalin kontak dengan Jesse pada Jumat (31/10) lalu melalui layanan pesan instan.

Dalam rekaman percakapan yang diterima BBC Indonesia, Jesse - seperti dikutip Catlea- mengatakan belum mau pulang ke Indonesia karena masih mengumpulkan uang untuk pembangunan rumah ibunya.

Catlea mengenal Jesse sewaktu mereka sama-sama bekerja di Hong Kong dengan status ilegal. Visa bekerja keduanya saat itu telah lewat masa berlakunya.

"Saat pertama saya mengenal Jesse dia telah bekerja seperti itu (pekerja seks komersial). Dulunya dia asisten rumah tangga, sama seperti saya,” kata Catlea yang sekarang tinggal di Bali.

Selama menjadi pekerja ilegal di Hong Kong, Catlea mengaku bekerja paruh waktu sebagai asisten rumah tangga.

Hak atas foto REUTERS TV
Image caption Rurik Jutting, tersangka pelaku pembunuhan, dibawa oleh polisi.

Overstay

Eni Lestari, Ketua Aliansi Migran Internasional di Hong Kong, mengatakan ada beberapa warga Indonesia overstay di Hong Kong dan di antara mereka ada yang menjadi pekerja seks komersial.

"Namun, jumlahnya segelintir dan tidak signifikan sehingga tidak mewakili keberadaan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong,” kata Eni.

Menurutnya, sebagian besar WNI yang overstay di Hong Kong terhimpit oleh kondisi ekonomi.

Berdasarkan peraturan tenaga kerja Hong Kong, seorang pekerja yang kontraknya diberhentikan sebelum waktunya diizinkan untuk tinggal di Hong Kong selama dua minggu untuk mencari majikan baru.

Sebelum waktu dua pekan itu rampung, pekerja tersebut harus ke luar Hong Kong terlebih dulu dan memulai kembali seluruh proses aplikasi melalui agensi dengan membayar HK$15.000 hingga HK$17.000 atau sekitar Rp23 juta sampai Rp26 juta, kata Eni.

"Banyak dari WNI yang merasa keberatan membayar uang dengan jumlah tersebut dan memilih menjadi overstayer," kata Eni.

Hal ini, lanjut Eni, dialami Jesse dan sebagian besar overstayer lainnya.

Berita terkait