Organda umumkan mogok nasional besok

Hak atas foto Reuters
Image caption Harga premium dinaikkan pemerintah, pada Selasa (18/11) dini hari WIB.

Kurang dari 24 jam setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi, Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena mengatakan Organda akan melakukan aksi mogok nasional, pada Rabu (19/11).

“Pada Rabu (19/11), Organda Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan melakukan stop operasi sebagai bentuk keprihatinan,” kata Eka, sebagaimana disampaikan kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Aksi tersebut, tambah Eka, merupakan hasil keputusan Mukernas DPP Organda Pusat di Semarang, Jawa Tengah.

Mogok itu, menurut rencana, akan dilakukan seharian penuh.

“Namun, mungkin untuk angkutan taksi, penumpang yang sudah memesan untuk pagi hari akan diantar terlebih dulu.”

Ketika ditanya apakah Organda berencana menaikkan tarif angkutan umum, Eka balik bertanya, “Kalau menaikkan tarif terus siapa yang mau naik angkutan umum?”

Eka merujuk kejadian ketika BBM subsidi naik Rp1.000 pada 2012.

“Saat itu, kenaikan BBM subsidi berefek ke penyesuaian tarif angkutan sebesar 19,1%. Bayangkan sekarang saat kenaikan BBM Rp2.000.”

Atas dasar itu, Eka mengaku telah menyurati kementerian-kementerian terkait guna meminta skema insentif angkutan umum.

“Kita mendengar jaringan pengaman diberikan kepada pertanian, nelayan, dan lain-lain. Namun, sampai hari ini tiada upaya pemerintah untuk menolong angkutan umum. Kita sudah meminta insentif kepada pemerintah,” ujar Eka.

Sementara itu, pejabat humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Zainal Arifin, mengatakan pihaknya sedang melakoni rapat terkait dengan tarif angkutan darat setelah harga bahan bakar minyak subsidi dinaikkan.

Soal dampak kenaikan BBM, Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, I Kadek Dian Sutrisna Artha memprediksi adanya dampak langsung ke sektor transportasi.

“Yang menggunakan solar adalah bus dan truk. Adapun truk paling banyak digunakan untuk kepentingan logistik. Biaya logistik yang naik tentu akan mempengaruhi harga-harga kebutuhan pokok.”

Berita terkait