Riau berharap solusi dari 'blusukan asap' Jokowi

haze Hak atas foto Reuters
Image caption Kabut asap adalah bencana yang selalu berulang di Riau setiap tahun seperti yang terjadi pada 2013

Presiden Joko Widodo diharapkan warga Riau mampu menyusun kebijakan strategis untuk menghentikan bencana kabut asap yang terus berulang setiap tahun di Riau akibat kebakaran lahan dan hutan.

Jokowi tiba di Pekanbaru, Riau pada Rabu (26/11) dengan didampingi Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, setelah kunjungan ke Lampung dan Bengkulu.

"Masalah tiap tahun selalu berulang, masalah gambut yang terbakar, itu yang mau kita selesaikan. Kalau masalahnya kita ketahui, di lapangannya kita kuasai, memutuskannya gampang," kata Jokowi kepada wartawan di Pekanbaru.

Kedatangan Jokowi disambut baik kalangan pemerhati lingkungan hidup yang mengapresiasi respon presiden atas petisi seorang warga Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau yang dijuluki kampung asap.

Petisi yang ditulis Abdul Manan di Change.org itu meminta Jokowi melakukan "blusukan asap" untuk mengetahui masalah riil di lapangan.

"...Masalah asap Riau memang rumit Pak, tapi permintaan saya sederhana. Mau tidak Pak Jokowi blusukan ke tempat kami? Langsung melihat hutan gambut, kebakaran, dan asapnya? Hanya dengan begitu Pak Jokowi bisa mengerti kehidupan kami sehari-hari dengan asap. Paru-paru kami mungkin mengecil, tapi harapan kami membesar," tulis Abdul Manan.

Menurut jadwal semula, Jokowi berencana mengunjungi Meranti hari Rabu tetapi cuaca buruk memaksa helikopter yang membawa rombongan presiden kembali ke Pekanbaru.

Jokowi akhirnya memutuskan untuk menginap satu malam di Pekanbaru dan akan tetap ke Meranti pada Jumat pagi untuk bertemu langsung dengan masyarakat.

___________________________________________________________________________________________________________________________

Kenapa disebut kampung asap?

Desa Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti terletak di sebuah pulau yang dikelilingi kawasan hak konsesi perusahaan besar dan merupakan langganan api.

Warga desa selalu terkepung asap setiap tahun selama hampir dua dekade terakhir.

Banyak perusahaan juga membangun kanal-kanal untuk mengeringkan gambut yang berakibat pada kebun sagu warga. Sagu di desa itu adalah sumber makanan pokok dan kanal mengakibatkan tanah turun sehingga gambut dan sagu warga kering.

Jokowi berencana melakukan penutupan kanal dalam kunjungan Kamis (27/11).

___________________________________________________________________________________________________________________________

Pesimistis

Namun blusukan asap ini disambut pesimisme warga Riau.

"Kurang yakin kalau Jokowi bisa menyelesaikan masalah asap dengan blusukan. Banyak mafia kayu di sini, kalau dia bisa mengatur dan bertindak keras, mungkin bisa. Tapi masalahnya perkebunan banyak, dan tidak jelas apakah itu dilakukan penduduk setempat atau mafia hutan yang main tebang dan main bakar," kata Gusnita seorang penduduk Pekanbaru.

Menurut kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting yang bertemu dengan presiden di Pekanbaru, negara tidak berupaya maksimal mengatasi masalah kebakaran hutan ini.

"Jokowi mengatakan semua ini terjadi karena sistem yang tidak berjalan, ada proses pembiaran, negara tidak berperan maksimum melindungi lingkungan... itu menarik bagi kami bahwa sebagai kepala negara dia mengakui peran negara tidak maksimum dan dia akan memperbaikinya," kata Longgena kepada Pinta Karana dari BBC Indonesia.

Sementara itu, Henri Subagyo dari Pusat Hukum Lingkungan Indonesia (ICEL) menghimbau pemerintahan yang baru untuk menindak perusahaan secara korporasi dan secara pidana.

"Yang dibutuhkan tindakan tegas dari Jokowi misalnya pemerintah berani ga memberi pelajaran perusahaan dengan cabut izinnya, kedua ketegasan dan keberanian juga menjerat siapa mastermind- nya," kata Henri.

Berita terkait