#TrenSosial: 'Otokritik' media dalam peliputan AirAsiaQZ8501

airasia, media
Image caption Jumpa pers Wakil Presiden Jusuf Kalla di bandara Juanda, Surabaya pekan lalu.

Kritikan terhadap media dalam peliputan jatuhnya AirAsiaQZ8501 menjadi otokritik dan pendorong agar jurnalis lebih dewasa, menurut dua wartawan senior.

Dahlan Dahi, pemimpin redaksi Tribun Network mengatakan berbagai kritikan ini dapat dijadikan "otokritik bukan hanya bagi TV tetapi bagi seluruh media massa".

Dahlan mengacu pada liputan TVOne yang menayangkan jenazah yang mengapung pada saat evakuasi korban pesawat.

Wakil pemimpin redaksi TVOne, Totok Suryanto, sendiri mengatakan pihaknya banyak mendapat pelajaran dari peliputan jatuhnya AirAsiaQZ8501 ini.

"Untuk Tribunnews sendiri, kami tidak luput dari kritik ... ini menjadi semacam cara baru untuk segera mengetahui apakah kita sudah benar," kata Dahlan.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Twitter wartawan senior Gunawan Muhamad.

Kritikan terhadap pemberitaan media di Indonesia terkait jatuhnya AirAsiaQZ8501 tanggal 28 Desember lalu tidak hanya pada pemberitaan televisi namun juga media online.

Menanggapi sejumlah kritikan ini, koordinator liputan Detik News, Gagah Wijoseno, mengatakan kecaman di media sosial "justru akan membuat kami, media di Indonesia, lebih dewasa".

"Masih ada euforia kebebasan, semua boleh diliput. Tapi tidak ada ketentuan, seperti misalnya tidak boleh vulgar, dengan antara lain tidak membuat keluarga korban menjadi korban lagi," tambahnya.

Berita terkait