Iklan 'singgung Indonesia' bayangi lawatan Jokowi ke Malaysia

(Kendati sudah dijadwalkan lama, muncul kesan bahwa Presiden Jokowi bagai hendak rehat sebentar dari panasnya situasi politik Indonesia dengan kunjungannya ke Malaysia Rabu-Kamis 5-6 Februari ini. Namun terjadi sebuah insiden tak terduga, iklan di Malaysia yang dinilai melecehkan Indoneisa, yang justru memancing lagi emosi publik Indonesia. Ging Ginanjar dari Bagdad)

Kunjungan presiden Jokowi ke Malaysia mulai Kamis (5/2) ini diarahkan untuk mengurai sejumlah kerumitan dalam hubungan kedua negara, tapi justru dibayang-bayangi insiden iklan produk rumah tangga yang dinilai melecehkan Indonesia.

Iklan itu dipasang untuk sebuah robot penyedot debu, dengan kalimat "fire your Indonesian maid now..." atau "pecat PRT Anda sekarang," untuk menggambarkan bahwa dengan memiliki mesin pembersih rumah itu tidak lagi diperlukan PRT. Iklan itu muncul dalam bentuk display, serta di situs resmi produk itu.

Tian Chua, anggota parlemen dan wakil presiden Parti Keadilan Malaysia, menyebut, memang ada saja kalangan yang tidak sensitif di Malysia. Namun, lepas dari pasang surut hubungan kedua negara yang sering diwarnai suasana panas, Malaysia dan Indonesia tidak bisa tidak berhubungan baik.

Tian Chua menegaskan, kedatangan Jokowi lebih berarti lagi, karena bisa menjadi semacam duta tentang pentingnya penghargaan HAM dan demokrasi sebagai nilai dasar di ASEAN.

(Klip Tian Chua)

Inilah kunjungan luar negeri Jokowi yang pertama yang bersifat bilateral, yang menunjukkan arti penting Malaysia bagi Indonesia. Menurut pengamat masalah internasional Universitas Paramadina, Dinna Wisnu, ini menunjukkan arah diplomasi pemerintahan Jokowi yang mengutamakan negara-negara kawasan.

Malaysia, terutama, memang pantas diutamakan, terkait juga berbagai masalah yang kerap muncul, khususnya terkait perbatasan, dan kehadiran jutaan TKI di Malaysia, ungkap Dinna Wisnu.

Klip Dinna Wisnu

Data Migrant Workers, sebuah lembaga pembelaan TKI menunjukkan, di Malysia terdapat sekitar 2,1 juta TKI, dan hanya 600 ribu di antaranya yang resmi. Sisanya, sekitar 1,5 juta adalah pekerja tak terdokumentasi, yang rentan terhadap tekanan, manipulasi dan perlakuan buruk. Dinna Wisnu sepakat dengan Tian Chua dari Malaysia, hal ini merupakan persoalan pelik yang harus dibereskan Presiden Jokowi dan PM Najib, kendati tak bisa sekaligus. Kembali Dinna Wisnu Pengamat yang juga Ketua Pasca Sarjana Diplomasi Universitas Paramadina:

Klip Dinna Wisnu

Berita terkait