Erwiana inginkan hukuman berat bagi bekas majikan

erwiana Hak atas foto REUTERS
Image caption Erwiana Sulistyaningsih, bersama para pekerja migran lain yang mendukung kasusnya.

Pekerja Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia, Erwiana Sulistyaningsih, mengaku sangat bahagia mengenai putusan bersalah yang dijatuhkan pada Law Wan-Tung, bekas majikan yang dulu menyiksanya. Ia berharap putusan ini bisa menjadi tonggak bagi perbaikan nasib para PRT asing di Hong Kong.

Dalam jumpa pers Selasa (10/9) siang di Methodist Centre, kawasan Wan Chai, Erwiana mengungkapkan komentarnya dalam bahasa Inggris, yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Kanton dan Indonesia.

"Saya berharap bahwa ia mendapat hukuman seberat-beratnya. Kendati bagi saya sendiri, tetap saja hukuman itu tidak sepadan dengan apa yang dia telah lakukan kepada saya serta korban lainnya" cetus Erwiana.

Dalam sidang pengadilan beberapa saat sebelumnya, hakim Amanda Woodcock menyatakan bahwa Law Wan-tung, bekas majikan Erwiana, bersalah.

Saat persidangan bulan Desember tahun lalu, Erwiana bersaksi bahwa ia dianiaya oleh majikannya itu selama berbulan-bulan sebelum dikirim pulang ke kampung halamannya, di Sragen, Jawa Tengah.

Justice for Erwiana

Pernah, katanya, Law Wan-tung menyodokkan pipa menyedot debu ke mulut Erwiana, lalu memelintirkannya, dan pada kesempatan lain ia memukulinya dengan berbagai benda, seperti sapu dan kapstok. Beberapa kali pula ia dibiarkan kelaparan tak diberi makan.

Hak atas foto AFP
Image caption Erwiana pernah disodok mulutnya dengan pipa mesin penyedot debu.

Erwiana juga tidak pernah digaji dan diberi hari libur seperti sewajibnya di Hong Kong. Kasus Erwiana ini menimbulkan banyak kritik terhadap kebijakan ketenagakerjaan Hong Kong terhadap buruh migran selama ini, sekaligus mencetuskan gerakan demonstrasi buruh migran bernama Justice for Erwiana.

Karena itu Erwiana mengharapkan agar Law Wan-tung mendapat hukuman seumur hidup, "karena dia tak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya. Mengingat juga tak ada jaminan bahwa dia tak akan melukai orang lain di masa depan."

Kasus ini menyita perhatian luas di Hongkong, yang sejumlah besar warganya mengandalkan layanan pekerja rumah tangga dari berbagai negara. Tak kurang dari 300 ribu PRT dari berbagai negara Asia, khususnya Indonesia dan Filipina bekerja di Hong Kong.

Erwiana dikirim ke Indonesia Januari 2014 dalam keadaan cedera parah, dan beratnya hanya 25 kg, setengah dari biasanya.

Pengacara bekas majikannya menyangkal semua dakwaan kekerasan, dan hanya mengaku salah tidak membelikan layanan asuransi. Menurut pengacara majikannya, Erwiana mengalami berbagai cedera itu justru karena ceroboh dalam bekerja.

Namun hakim mengabaikan penyangkalan itu dan menyatakan Law Wan-tung bersalah untuk 18 dari 20 dakwaan, termasuk penyiksaan, penghinaan, ancaman, dan tidak membayar gaji.

Tonggak perbaikan nasib

Proses persidangan berlangsung dari 8 Desember 2014 hingga 21 Januari 2015, dengan mendatangkan Erwiana dari Indonesia sebagai saksi korban.

Erwiana berharap, putusan hakim ini bisa menjadi tonggak bagi perbaikan nasib para pekerja rumah tangga.

"Saya bersama kawan-kawan sesama pekerja rumah tangga lainnya, mengharapkan kasus ini bisa menjadi pelajaran agar di masa depan para pekerja rumah tangga mendapat perlakuan adil dan manusiawi, dan agar orang-orang berhenti memperlakukan kami bagaikan budak belian," kata Erwiana.

Erwiana terlihat tersenyum begitu mendengar keputusan hakim, sementara Eric Tsang dari Kepolisian Kwuntong yang mengepalai investigasi kasus ini, langsung mengacungkan jempol ke arah TKI tersebut.

Hak atas foto REUTERS
Image caption Law Wan-tung dinyatakan bersalah untuk 18 dari 20 dakwaan.

Erwiana menyatakan akan merayakan kemenangannya ini bersama para TKI di Hong Kong lainnya pada Minggu, 15 Februari 2015 di Victoria Park, dengan menari bersama dalam kampanye One Billion Rising.

Sebaliknya, Law Wan-tung yang duduk di kotak khusus terdakwa, tampak berurai air mata. Law akan masuk penjara usai vonis dibacakan Hakim Amanda Woodcock pada 27 Februari 2015 nanti kecuali jika ibu dua anak ini mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Hong Kong.

Para pendukung Erwiana bertepuk tangan usai sidang. Erwiana sujud syukur di lantai begitu diantar keluar dari ruang sidang, walau tindakannya ini sempat mengagetkan polisi Hong Kong yang mengawalnya.

Pengacaranya, Melvin Boasse, menyatakan Erwiana masih akan menuntut kompensasi atau tuntutan ganti rugi kepada Law Wan-tung atas luka-luka yang dideritanya lewat jalur pengadilan perdata Hong Kong, segera setelah kasus pidana ini selesai.

Berita terkait