Mary Jane dipindahkan ke Yogyakarta

Hak atas foto Reuters
Image caption Mary Jane Veloso ditangkap di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, 2010 lalu, dengan barang bukti heroin seberat 2,6 kilogram.

Terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Veloso, kembali menghuni sel tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Wirogunan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah eksekusi terhadap dirinya di Nusakambangan ditunda pada Rabu (29/04).

Mary Jane tiba di Yogyakarta dari Nusakambangan sekitar pukul 08.15 WIB. Tidak ada keluarga yang tampak mendampinginya.

Saat tiba di LP Wirogunan, Mary Jane masih memakai piyama dan tampak kelelahan. Untuk memastikan kondisi kesehatannya, Mary Jane langsung menjalani pemeriksaan kesehatan dan tes urin oleh dokter.

Kuasa hukum Mary Jane, Agus Salim, menyatakan belum memutuskan langkah hukum apa yang akan ditempuh setelah eksekusi mati Mary Jane ditunda. Dia mengaku fokus kepada kondisi kesehatan Mary Jane dahulu dan menanti kehadiran keluarga Mary Jane ke Wirogunan.

Mary Jane luput dari eksekusi di Nusakambangan, pada Rabu (29/04) dini hari waktu setempat.

Informasi yang didapat tim wartawan BBC di Cilacap menyebutkan penundaan eksekusi Mary Jane Veloso adalah atas permintaan pemerintah Filipina, menyusul perkembangan bahwa seseorang menyerahkan diri di negara tersebut dan mengklaim Mary Jane Veloso hanya sebagai kurir narkoba.

“Ada fakta-fakta dan indikasi bahwa Mary Jane adalah korban dari perdagangan manusia. Kemarin, seseorang bernama Cristina menyerahkan diri kepada polisi Filipina dan dia mengaku merekrut Mary Jane...Saya ingin sampaikan bahwa ini penundaan, bukan pembatalan,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo kepada para wartawan, Rabu (29/04).

Hak atas foto AFP
Image caption Dua saudara Mary Jane Veloso berpelukan begitu mengetahui eksekusi terhadap saudara mereka ditunda.

Kurir narkoba

Sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, Mary Jane diajak Cristina Sergio dari Filipina ke Kuala Lumpur, Malaysia, dengan janji akan diberikan pekerjaan.

Namun, Cristina justru menyuruh Mary Jane berlibur ke Yogyakarta, Indonesia. Oleh Cristina, Mary Jane dititipi sebuah koper dengan upah US$500. Namun, sesampainya di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, pada 2010 lalu, Mary Jane ditangkap dengan barang bukti heroin seberat 2,6 kilogram.

Pada Selasa (28/04), Cristina menyerahkan diri ke kepolisian Cabanatuan, Filipina. Dia mengaku makin banyak menerima ancaman mati saat waktu eksekusi Mary Jane kian dekat.

Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan Mary Jane akan menjadi penggugat dalam kasus melawan Cristina di pengadilan. Menurut Menteri Kehakiman Filipina Leila de Lima, investigasi awal kasus itu akan dimulai pada 8 dan 14 Mei mendatang.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kedua anak Mary Jane Veloso tampak menjenguk ibu mereka di Nusakambangan sebelum eksekusi.

Gegap gempita

Penundaan eksekusi Mary Jane disambut gegap gempita oleh kerumunan orang di depan Kedutaan Besar Indonesia di Manila. Mereka, yang semula menunggu berita eksekusi, menangis terharu, memeluk satu sama lain, dan bersorak kegirangan.

“Kami pikir kami akan kehilangan putri kami. Saya beryukur pada Tuhan. Apa yang dikatakan putri saya sebelumnya ternyata benar. ‘Jika Tuhan ingin saya hidup, meski setipis benang atau di menit terakhir, saya akan hidup’,” kata ibu Mary Jane, Ceila, kepada stasiun radio DZBB.

Dua putra Mary Jane, yang berusia enam dan 12 tahun, berteriak gembira begitu tahu eksekusi terhadap ibu mereka ditunda. “Mama akan hidup!” kata mereka, sebagaimana ditirukan Ceila.

Berita terkait