Hari Buruh: Presiden Jokowi di Ngawi, buruh banjiri istana

Hak atas foto ging ginanjar

Puluhan ribu ribu buruh dari berbagai pabrik yang tergabung dalam unit, serikat, dan konfederasi buruh memenuhi jalan depan Istana Negara, mendeklarasikan niat pembentukan partai buruh, kendati tak semua bergabung.

Hak atas foto ging ginanjar

Para buruh memenuhi pelataran depan Istana Negara secara agak leluasa, memarkir mobil-mobil mimbar berpengeras suara, yang diisi orasi silih berganti.

Sementara sang penghuni Istana, Presiden Jokowi, bukan kebetulan sedang melakukan perjalanan dinas ke Jawa Tengah.

Hak atas foto ging ginanjar

Para pemimpin berbagai serikat buruh melakukan orasi, yang intinya ketidak puasan atas perlakuan partai-partai politik selama ini yang memperlakukan buruh sekadar alat meraup suara dalam Pemilihan Umum, namun setelah Pemilu, nasib buruh tak dipedulikan lagi.

Hak atas foto Ging Ginanjar

Jika saja buruh bisa dimobilisasi melalui suatu partai politik, dampaknya dibayangkan akan besar, kata para pemimpin buruh.

"Setidaknya ada 30an juta kaum buruh Indonesia, yang jika ditambah anggota keluarganya, akan mencapai jumlah yang bahkan lebih besar dari pemilih Joko Widodo saaat memenangkan Pemilihan presiden beberapa waktu lalu," kata Adi Wibowo dari Persatuan Perjuangan Indonesia.

Hak atas foto ging ginanjar

Betapapun, deklarasi di halaman Istana Negara kali ini baru sebatas wacana perlunya membentuk partai.

Di Hari Buruh ini, yang baru mereka pastikan pembentukannnya adalah Gerakan Buruh Indonesia, yang diniatkan sebagai cikal bakal partai buruh masa depan. GBI ini mencakup berbagai gerakan, serikat dan konfederasi buruh.

Hak atas foto ging ginanjar

Sebagian serikat dan gerakan buruh memilih untuk melakukan perjuangan lain, dan tidak bergabung dalam GBI. Dengan alasan, seperti disebutkan Suryanta Ginting dari Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia, wacana pembentukan partai buruh kali ini menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar.

Hak atas foto ging ginanjar

Ia menyebut, para tokoh di balik gagasan itu justru sangat sibuk dengan berbagai manuver politik saat Pemilu dan Pilpres lalu. Bahkan sejumlah tokoh buruh pendukung Jokowi masih terus kasak-kusuk cari jabatan pasca Pilpres.

Suryanta mencium adanya manuver politik kekuasaan, yang bukan didasari pada perjuangan untuk kepentingan buruh. Kendati begitu, katanya, ia menghormati hak kelompok-kelompok itu untuk membentuk partai.

Berita terkait