Ratusan pengungsi Rohingya di Aceh bergantung pada bantuan

Image caption Kaum perempuan dan anak-anak pengungsi Rohingya dan Bangladesh menempati salah satu ruangan di Tempat Pelelangan Ikan Kuala Cangkoi, Aceh utara.

Ratusan pengungsi asal Bangladesh dan Rohingya dari Myanmar bergantung pada bantuan pemerintah Indonesia dan organisasi internasional sejak terdampar di Aceh utara, pada Minggu (10/05).

Setiap hari selama tiga kali mereka mengantre makanan yang diberikan petugas. Sedangkan mereka yang sakit hanya bisa terbaring lemah di tempat pengungsian.

"Kami hanya diberi makan dan minum sedikit ketika berada di kapal, " jelas Tarhib Ahmad pengungsi dari Bangladesh.

Image caption Setiap hari sejak terdampar pada Minggu (10/05), para pengungsi harus antre untuk mendapatkan jatah makanan.

Mereka kini menempati lokasi penampungan baru di Tempat Pelelangan Ikan atau TPI Kuala Cangkoi sejak Rabu (13/05) malam. Sebelumnya mereka ditempatkan di Gedung Olah raga Lhoksukon, Aceh utara.

Empat bangunan di TPI ini belum pernah digunakan dan pemerintah daerah Aceh Utara menganggap lokasi pengungsian baru ini dapat menampung pengungsi yang berjumlah lebih dari 500 orang.

Juru bicara Pemkab Aceh Utara Amir Hamzah menyatakan fasilitas sanitasi di TPI Kuala Cangkoi lebih baik dibandingkan GOR Lhoksukon yang ditempati pengungsi setelah diselamatkan oleh nelayan pada Minggu (10/05).

"Di sini ada WC, air dan lebih luas," jelas Amir Hamzah.

"Ini lokasi paling dapat menampung mereka yang ada di Aceh Utara selama belum dipindahkan oleh imigrasi," tambahnya.

Amir mengatakan pendataan terhadap ratusan pengungsi masih dilakukan.

Image caption Sekitar 14 pengungsi sakit dan sembilan orang harus dirawat di rumah sakit.

Penghidupan layak

Beberapa pengungsi Bangladesh yang ditemui wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, menyebutkan mereka berniat mencari pekerjaan di Malaysia karena sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Bangladesh.

Adapun para pengungsi Rohingya dari Myanmar mengaku melarikan diri karena konflik di Negara Bagian Rakhine.

Image caption Mohamed Sowkot, 29 tahun, meninggalkan Bangladesh untuk mencari penghidupan layak.

Badan PBB yang mengurus pengungsi (UNHCR) masih mendata para pengungsi dan mulai mengidentifikasi apakah mereka merupakan pencari suaka atau pengungsi.

Pemerintah juga belum menyatakan langkah yang dilakukan untuk mengatasi pengungsi.

Kedatangan pengungsi yang berjumlah hampir 600 orang ini menambah jumlah pengungsi dan pencari suaka di Indonesia yang menurut data UNHCR mencapai 10 ribu orang.

Berita terkait