Kasus Angeline: Masyarakat 'harus proaktif melapor'

Hak atas foto TWITTER ADHITYAZUL
Image caption Masyarakat diminta peduli atas dugaan kekerasan terhadap anak di sekitarnya.

Masyarakat harus bersikap peduli dan proaktif melaporkan adanya dugaan kekerasan yang dialami seorang anak, demikian seruan seorang psikolog dan pegiat pendidikan.

Ajakan untuk peduli ini disampaikan menyusul kematian Angeline, bocah berusia delapan tahun di Denpasar, Bali.

Dengan menggunakan #RIPAngeline dan #JanganDiam di media sosial, mereka mengajak masyarakat "tidak diam" ketika mendengar, melihat atau menerima informasi dugaan kekerasan atas anak.

"Dalam UU Perlindungan Anak dan UU Penghapusan KDRT, kita wajib melaporkan bahkan mencegah sesuai batas kemampuan kita, apabila kita melihat atau mendengar, mengetahui terjadinya kejadian kekerasan, terutama terhadap anak," kata Kresna Aditya, penggagas Komunitas Bincang Edukasi, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (11/06).

Hak atas foto Komnas PA
Image caption Selama ini masalah kekerasan terhadap anak seolah-olah hanya menjadi tanggungjawab orang tua, polisi dan pegiat perlindungan anak.

Menurutnya, masyarakat harus proaktif melaporkan dugaan kekerasan terhadap anak, bahkan jika itu terjadi di sebuah keluarga orang lain.

"Selama ini 'kan, budaya kita mengajarkan jika itu terjadi di rumah orang lain, urusan privat mereka dan kita tidak boleh ikut campur," kata Kresna.

Masalahnya, lanjutnya, "anak-anak ini tidak mempunyai kemampuan untuk melawan dan bersuara. Jadi, masyarakat sekitarnya harus ikut bergerak dan bersuara."

Lebih lanjut dia mengatakan, masalah kekerasan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggungjawab orang tua, polisi atau pegiat perlindungan anak semata.

"Tapi kita harus memulai membiasakan berpikir bahwa seorang anak itu tanggungjawab orang dewasa di sekitarnya," tegas Kresna.

'Tidak sekedar diomongkan di medsos'

Sementara, staf pengajar Fakultas Psikologi UGM, Amitya Kumara mengatakan, kepedulian masyarakat terhadap keadaan di sekelilingnya seharusnya bisa lebih ditumbuhkan setelah berkembangnya fenomena media sosial.

"Sebetulnya bisa digalakkan, digerakkan. Tapi yang penting mereka itu berbuat dan tidak sekedar diomongkan di media sosial saja," kata Amitya kepada BBC Indonesia.

Menurutnya, kepedulian untuk mencegah kekerasan terhadap anak itu harus dipraktekkan dengan misalnya, menciptakan sistem jejaring antara guru dan masyarakat.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Dengan menggunakan #RIPAngeline dan #JanganDiam di media sosial, mereka mengajak masyarakat "tidak diam" ketika mendengar, melihat atau menerima informasi dugaan kekerasan atas anak.

"Sehingga tidak tersekat-sekat antara guru, orang tua dan masyarakat," kata Amitya.

Jasad Angeline ditemukan dikubur di belakang rumah ibu angkatnya di Bali, Rabu (10/06).

Penemuan ini menimbulkan kemarahan masyarakat, karena keluarga korban sebelumnya melaporkan bahwa bocah berusia delapan tahun itu hilang sejak pertengahan Mei silam.

Kamis (11/06), Polda Bali berencana menggelar prarekonstruksi di tempat kejadian perkara di rumah korban di Sanur, Denpasar.

Berita terkait